Bagus sekali topik yang diangkat. Saya Ari di Bali. Setiap pagi waktu saya
berangkat kerja dalam perjalanan saya selalu melihat seorang loper Koran
yang rajin sekali. walau hujan sekalipun dia tidak pernah kenal lelah,
akhir-akhir ini di Bali sering hujan di pagi hari tapi seorang loper Koran
ini tak kenal hujan kayaknya.. dia tetap melakukan kegiatannya.. dia tidak
peduli bahwa dia sendiri kehujanan yang dia pikirkan hanyalah Koran-koran
yang dia jual dia menutupinya dengan selembar plastik dan badannya basah
kuyub.

 

Betapa salutnya aku pada si loper koran itu. Walaupun keadaannya serba
kekurangan dan maaf dia agak sedikit cacat dan bongkok.

 

Best regards,

 

Arifin

Events Coordinator & Decorator

+62 817 683 2001

 

The Beverly Hills Bali
Jl. Goa Gong, Banjar Santhi Karya
Ungasan, Kuta Selatan-Bali 80362
Tel : +62 361 8481 800
Temporary Fax:+62 361 8481 888

http://www.balibeverlyhills.com <http://www.balibeverlyhills.com/> 

 

 

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of e_k
Sent: Saturday, May 12, 2007 10:10 AM
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kekerasan terhadap Orang Miskin di
Jakarta

 

Pemerataan pembangunan dan pendapatan ... saya setuju. Baik merata untuk
seluruh kalangan, maupun merata untuk seluruh wilayah.

Yang kaya merendah hati untuk peduli pada yang kekurangan.

Yang kekurangan jangan mencari perhatian orang lain dengan wajah memelas
yang dibuat-buat, melainkan harus aware dengan kondisi anda masing-masing
berada dimana, dan berjuanglah keras dengan kebahagiaan, jangan malas.

Aku sering melihat anak mengemis yang memelas dibuat-buat saat minta uang,
namun kemudian berlarian dengan tertawa-tawa setelahnya.

Aku juga sering melihat acara di TV dengan thema membantu yang kekurangan,
namun si penerima bantuan (entah disuruh oleh stasiun TV itu atau memang
keinginan si penerima bantuan sendiri) menampilkan wajah sangat memelas,
seolah-olah mereka tidak berdaya sama sekali.

Tapi saya juga pernah membaca, ada ibu yang berusaha menulis surat ke
lembaga dan majalah, untuk mendapat bantuan biaya untuk anaknya yang sakit,
dan dia tidak punya cukup biaya. Akhirnya surat itu (kalau tidak salah)
dimuat oleh majalah Parents Guide, dan akhirnya ia mendapat bantuan. Ini
contoh berusaha dengan bahagia ... saya pikir.

Atau juga masyarakat di suatu daerah yang menolak bantuan pemerintah karena
mereka merasa masih mampu untuk ber swadaya. Mereka hanya menonton saja
acara ceremony yang dilakukan dalam pemberian bantuan itu. (Saya lupa ini
artikel kompas tanggal berapa). Masyarakat ini juga smart saya pikir.
Mungkin mereka ingin agar bantuan itu diberikan kepada pihak lain saja yang
lebih membutuhkan.

Jadi ada kalanya, kaum miskin pun harus diberdayakan, agar mereka tidak
menjadi malas dan menjadi bergantung di saat ada pihak yang memberi bantuan.
Apalagi jika mental mereka dalam mencari bantuan itu dengan kondisi mereka
malas, dengan berpura-pura atau berbohong, ataupun dengan cara memaksa dan
melanggar kesopanan. Karena hal-hal tersebut pastilah akan menyebalkan
sekitarnya. Mari kita bantu mereka supaya tidak bermental demikian, sehingga
tidak menyebalkan sekitarnya.

Dan mari kita bina diri kita masing-masing yang mampu dan kemaruk ini, agar
bisa lebih melihat ke dalam hati kita masing-masing dan berpikir "siapakah
saya", "darimanakah uang yang kudapat untuk hidupku", "apa yang harus
kulakukan dengan hartaku ini".

Jawaban yang berbeda-beda juga akan menunjukkan pribadi yang berbeda-beda.
Haruskah kita menista jawaban orang lain yang berbeda dengan kita? Tidak
perlu! Karena semua jawaban itu akan membawa hasil, akibat dan karmanya
sendiri-sendiri.

Bagaimana dengan jawaban diri anda sendiri???


Kirim email ke