Andri Aji Saputro ini nyontek tulisan saya bulat-bulat sampai ke
titik dan komanya. Tulisan ini saya buat pada tahun 2005 lalu dan
sudah dimuat di harian Tribun Kaltim. Saya tidak keberatan kalau
tulisan saya dikutip tapi kalau hanya mengganti nama saya dengan
namanya maka ini sudah jelas keterlaluan. Punya rasa malu sedikit
dong.
Salam
Satria

--- In [email protected], Satrio Arismunandar
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
> Oleh: Andri Aji Saputro
>
> Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki
> peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa
> karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk
> kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara
dengan
> ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM
> dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri
semua
> guru di seluruh dunia.
>
> Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
> internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization
for
> Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal
dengan
> nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan
juga
> Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis
tapi
> juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
> Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.
Lantas apa
> kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah
anggaran
> pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
> dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan
> beberapa negara lainnya.
>
> Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam
belajar,
> memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau
> memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di
Finlandia
> mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan
> negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka
justru
> lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan
Korea,
> ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam
> perminggu
>
> Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada
> kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru
dengan
> kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru
sendiri
> adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
> tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
> mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya
1 dari
> 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya
> ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas
hukum dan
> kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok
oleh
> siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi
dengan
> kualitas seadanya pula.
>
> Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan
guru yang
> berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
guru-guru
> dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut
mereka bebas
> untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan
kurikulum
> yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang
> mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian
dan
> evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi
kualitas
> pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah
yang
> menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat
kita
> cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di
> Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa
diukur
> dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk
> mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
> lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
>
> Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-
TK!
> Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka
> sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso,
Finlandia. Dan
> kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih
> bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
>
> Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha
mencari
> sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak
jika
> mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak
belajar
> apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru.
Disini
> guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,
salah
> seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan
> fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa
tertekan
> dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
>
> Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang
> membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-
sekolah  di
> Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik
dan
> yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
>
> Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai
> kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani
> masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi
> setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai,
> umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;
> berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak
perlu
> untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
>
> Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.
> Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka
hal
> tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan
> menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan
melakukan
> kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan
> nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada
> sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga
terhadap
> dirinya masing-masing.
>
> Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada
segelintir
> siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem
> pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang
> tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada
> keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam
> mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada
yang
> tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang
> sangat bertanggungjawab.
>
> Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich
> Original message: 1001Buku.org
>
>
> Satrio Arismunandar
> Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
> Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
> Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184558, 79184627
>
> http://satrioarismunandar6.blogspot.com
>
> "If you know how to die, you know how to live..."

Kirim email ke