Sungguh mulia dan polosnya hati anak-anak Pecatur andalan ini. Bagaimana tidak, 
ucapan nya sangat sederhana, yaitu:"Saya suka Pak SBY karena dia gagah" dan 
Farid juga mengatakan:"Saya ingin membantu orang tua". Tidak ada hal-hal yang 
muluk, ucapan-ucapan nya yang sangat sederhana dan polos, membuat hati ini 
"trenyuh" rasanya. 
  Farid juga berjanji untuk memenangkan lebih banyak turnamen di Eropa dimusim 
panas nanti.
  Selamat dan semoga berhasil di Turnamne Eropa mendatang.
   
  Masruri juga digambarkan sebagai anak yang amat sederhana, hampir ditolak 
protokol Istana gara-gara memakai sandal jepit. Tidak adakah sponsor yang mau 
memberikan hadiah berupa sepatu? Atau baju yang pantas untuk menghadap Presiden 
dan Wakil Presiden?
  Aduh....di Indonesia ini para pembawa nama bangsa, dan pengharum negara 
Indonesia, sering malah terlupakan.
  May God always be with you.
   
  Salam,
  Yuli

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Oleh PEPIH NUGRAHA
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/14/Sosok/3527793.htm
==========================

"Saya suka Pak SBY karena dia gagah." Itu penilaian Farid mengenai
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama lengkapnya Farid Firman Syah.
Dialah juara dunia catur pelajar kelompok usia 15 di Halkidiki, Yunani.

Kami menemuinya, Kamis (10/5) di Kantor PB Persatuan Catur Seluruh
Indonesia (Percasi) Senayan, Jakarta, satu jam sebelum ia ke Istana.
Bertemu orang nomor satu di negeri ini menjadi kebanggaan sebagian
orang, termasuk Farid, siswa kelas II SMP PGRI Rawalumbu Bekasi.

"Mimpi pun tidak bakal bertemu Pak SBY, saya cuma melihatnya dari
teve," katanya. Saat itu Farid mengenakan kemeja putih lengan panjang
dengan celana jins. Mata kanannya agak merah. Kena angin, katanya.

"Mau ketemu Presiden kok pakai jins. Kami belikan dulu celananya,"
salah seorang pengurus Percasi mengingatkan. Tetapi, ibunda Farid,
Amaroh, meminta izin untuk membawa Farid berganti pakaian. "Saya
bawakan dia baju resmi dari Bekasi," katanya.

Tak sampai 10 menit, Farid sudah mengenakan setelan jas hitam, siap
berangkat ke Kantor Menpora sebelum bersama Menpora Adhyaksa Dault
diantar ke Istana. Hari itu sang juara dunia diantar lengkap sang ibu,
Amaroh; ayah, Abrori; adik, Faria Desi Arianda; dan pengurus Percasi
Bekasi. Mereka makan siang bersama Presiden dan Wakil Presiden.

Farid, yang 26 November 2007 nanti genap berusia 14 tahun, adalah satu
dari tiga juara dunia catur yang dimiliki Indonesia. Sebelumnya ada
Irwin Irnandi juara dunia kelompok umur (KU) 10 dan Aston Taminsyah
juara dunia KU 9. Farid juara dunia catur pelajar KU 15. Memang ada
perbedaan dengan Irwin dan Aston yang juara dunia tanpa embel-embel
"pelajar".

"Tetapi, meski juara dunia pelajar, lawan-lawan yang dikalahkan Farid
di Halkidiki memiliki elo rating tinggi," kata Sebastian Simanjuntak,
manajer merangkap pelatih yang menemani Farid ke Halkidiki.

PB Percasi kali ini tak hanya mengirim Farid. Ada Masruri Rahman dan
Chelsie Monica Sihite. Rahman mampu menduduki peringkat ketiga di KU
11, di bawah Yuksel Atila Koksel dari Turki dengan 7,5 poin, dan Maxim
Lugovskoy dari Rusia dengan 7 poin.

Anak sopir bajaj ini juga mengumpulkan 7 poin, tetapi kalah dalam
nilai tie-break yang dihitung berdasarkan hasil head to head, di mana
Masruri dikalahkan Maxim pada babak kedua. Satu lagi kekalahan Masruri
diderita dari sang juara Koksel.

Masruri juga diundang ke Istana bersama Farid. Dia sempat nyaris
ditolak protokol karena mengenakan sandal jepit!

Pecatur lain, Chelsie Monica Sihite, bermain di KU 13 putri dan mampu
menduduki peringkat keenam. Chelsie yang asal Balikpapan mencetak 5,5
angka. Di kelompok ini gelar juara disabet Baciu Diana dari Moldova
dengan 7,5 poin.

Bagaimana dengan prestasi Farid, bocah yang bergelar master nasional
sejak usia 12? Boleh dibilang luar biasa sebab baru dialah yang
melakukannya.

Murid Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) itu sudah memastikan diri
menjadi juara dunia satu babak sebelum babak terakhir. Ini karena
angka yang dia kumpulkan tak mungkin dilampaui peserta lain sekalipun
ia kalah pada babak terakhir. Hebatnya, ia justru menggilas musuhnya
tanpa ampun di babak terakhir itu.

Simanjuntak menggambarkan bagaimana tercekamnya kubu Indonesia saat
harus menghadapi babak delapan. Bila Farid sampai kalah, hapuslah
harapannya sebagai juara dunia karena mungkin ia kalah head to head
atas saingan terdekatnya, pecatur Yunani. Ini suasana yang menegangkan
dan bikin pikiran buyar. "Tetapi saya main plong saja," ungkap Farid.

Alhasil, setelah menyelesaikan semua sembilan babak, Farid unggul satu
setengah angka dari peringkat kedua dan ketiga, yaitu Mustafa Yilmaz
dari Turki dan Ivan Aldokhin dari Rusia, yang membukukan 7 angka. Ia
mencetak delapan kemenangan dan hanya sekali seri. Padahal, di KU 15
tahun ini terdapat 56 pecatur dari 14 negara!

Telat

Farid termasuk telat mengenal catur, yakni saat usia delapan tahun
pada tahun 2001. Bandingkan dengan GM Susanto Megaranto yang bermain
catur sejak usia lima tahun. Ia baru dimasukkan ayahnya, Abrori,
setahun kemudian. Sang ayahlah yang mulai mengajarkan dasar- dasar
catur kepadanya.

"Saya ini sekadar pecatur lapak. Tetapi, saat saya mau menyekolahkan
Farid di sekolah catur Pak Utut, saya ragu karena gedungnya bagus,
bayarannya mahal, Rp 75.000 sebulan. Beruntung saya dapat diskon 10
persen, tetapi itu pun saya harus puasa," kata Abrori, pedagang rokok
asal Tegal yang mangkal 24 jam di depan SCUA, Jalan Siliwangi, Bekasi.

Abrori dan istrinya, Amaroh, yang asal Kendal, mendukung sepenuhnya
Farid bermain catur. Ia berharap suatu saat anaknya dapat meraih gelar
grand master, gelar tertinggi dalam catur. Simanjuntak tak meragukan
tekad Farid yang ingin meraih gelar itu. Tetapi, mantan pecatur
nasional ini memperkirakan Farid baru bisa meraih gelar terhormat itu
empat atau lima tahun lagi. "Ia masih harus dibekali pengetahuan catur
yang matang," ujarnya.

Farid berterima kasih kepada kepala sekolahnya, Gaya Sutardi, yang
memberikan kompensasi waktu untuk belajar catur. Gemblengan terhadap
Farid memang berat. Setiap hari ia harus belajar teori dan praktik
bermain catur mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Ia, antara lain,
dilatih FM Maksum Firdaus, GM Edie Handoko, GM Utut Adianto, dan MN
Aji Hartono. Simanjuntak yang juga melatihnya berkomentar, "Farid
punya talenta luar biasa, mungkin akan seperti Susanto."

Susanto Megaranto adalah pecatur idola Farid, selain Utut. Bahkan, ia
mengaku motivasinya ingin menjadi pecatur sehebat Susanto. "Ia
(Susanto) punya mobil dan rumah dari main catur. Kalau saya ingin
membantu orangtua," katanya.

Tentang membantu orangtua, Farid mungkin telah melakukannya. Saat
pertama kali bermain di luar negeri, yakni Thailand, dan meraih medali
perak kejuaraan beregu ASEAN, Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih
menghadiahinya Rp 10 juta. Menurut Abrori, uang itu ia belikan laptop
yang oleh Kristianus Liem dari PB Percasi diisi berbagai program dan
database catur. "Setelah punya laptop, kemajuan anak saya meningkat
pesat," tutur Abrori.

Atas prestasinya menjadi juara dunia, saat diundang ke Istana,
Presiden memberi Farid uang Rp 25 juta, plus dari Wapres Rp 10 juta.
Oleh PB Percasi, Farid diproyeksikan meraih grand master. Ia,
misalnya, akan menjalani delapan turnamen di Eropa pada Juni-Juli
mendatang.

Soal target tersebut, Farid berkomentar, "Insya Allah saya bisa." 



         

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke