Mas (atau Mbak?) EK, hahaha...wah nanti jangan-jangan ada yang protes, kok cuma
Johnny Andrean yang dipromosikan di FPK? Lalu disusul ada anggota FPK yang
mempromosikan May-May, Cay-Cay dll...repot :P
Setuju sekali, selain memperhatikan capability anak, kualitas sekolah juga
perlu diperhatikan, dan ujung-ujungnya duit (sesuai dengan kemampuan).
Yang membuat saya prihatin, trend yang marak disini adalah orang mengelola
sekolah sebagai bisnis semata.
Seperti uraian anda, masih untung kalau harga (biaya sekolah) mahal namun
kualitasnya sepadan. Repotnya kalau mutunya cuma pas-pasan tapi biayanya mahal,
ibaratnya kita makan di restoran franchise yang mahal, namun rasanya kalah jauh
dengan warung soto kaki lima.
Mungkin sudah saatnya pendidikan alternatif seperti home schooling (pernah
dikupas tuntas di Kompas) mulai mendapat perhatian dari Pemerintah,
masyarakat, dan (kalau berminat) anggota FPK sebagai relawan pengajarnya.
"Take action, miracle happens." (mengutip motivator Tung D.W).
Salam.
e_k <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau boleh saya berpendapat Pak John, seberapa besar dan banyak
pembelajaran yang diberikan kepada anak, pastilah harus disesuaikan dengan
kemampuan masing-masing anak, jangan dipaksakan.
Tapi memang kemampuan anak itu khan berbeda-beda. Jadi harus orangtuanya yang
peka untuk dapat mengetahui batas kemampuan anak.
Jika anak mampu namun orangtua khawatir terlalu banyak memberikan pembelajaran,
maka akan sayang sekali karena menjadi kurang optimal.
Namun jika orangtua menjejali pembelajaran karena ingin anaknya sesuai harapan
dia (orangtua), di sisi lain anaknya tidak terlalu mampu, maka hal ini bisa
menjadikan si anak stres.
Jam belajar sampai sore pun, yang sekarang ini banyak diterapkan di beberapa
sekolah, hal ini akan baik bagi anak yang keuda orangtuanya bekerja. Daripada
si anak pulang cepat dan selebihnya hanya bergaul dengan pembantu, atau main
keluar ruma tanpa pengawasan orangtua, maka akan lebih baik jika ia berada di
sekolah untuk bersosialisasi dengan guru dan rekan-rekannya.
Namun tetap saja namanya manusia, ada saja lembaga pendidikan yang menawarkan
jam pelajaran sampai sore tapi tidak memanfaatkan waktu itu dengan optimal.
Yang ada hanya sekolah itu seperti lembaga penitipan anak yang menunggu sampai
orangtuanya pulang kerja.
Semua kembali kepada kualitas dan kemampuan pribadi dan lembaga masing-masing.
Jadi jangan salahkan lembaga pendidikan itu buruk, karena memang kemampuan
lembaga itu ada pada tahap itu. Tinggal konsumen nya saja yang menentukan mau
bergabung dengan lembaga itu atau tidak.
Begitu juga soal financial, semua sudah menempatkan pada ukuran mereka
masing-masing, jika memang mampu, mengapa tidak bergabung dengan lembaga
pendidikan yang mahal (tetapi harus bagus tentunya). Kalau memang tidak mampu,
ya carilah lembaga lain yang sesuai kemampuan.
Jika di-ibaratkan potong rambut, bila dilakukan oleh tukang di bawah pohon
dengan di Johny Andrean, pastilah harga nya berbeda.
Namun adakalanya yang dibawah pohon itu hasilnya lebih bagus daripada seorang
pemotong rambut di salon Johny Andrean.
Jadi bila kita tidak merasa gengsi untuk pilih yang dibawah pohon tapi hasilnya
bagus, ya lakukanlah. Tapi kalau gengsi dan ingin potong rambut di Johny
Andrean, ya lakukan juga, tapi harus konsekuen, jangan mengeluh karena harganya
mahal, karena memang itulah standard untuk JOhny Andrean.
Yang bikin repot juga kalau ada lembaga penipu, gembar gembor kualitas bagus
maka pakai harga Johny Andrean, ternyata hasilnya tukang potong rambut di bawah
pohon (pun bukan yang hasilnya bagus - karena beberapa yang di bawah pohon pun
ada yang hasilnya bagus). Sudah itu dia mencari keuntungan yang
sebesar-besarnya tanpa diikuti dengan peningkatan kualitas.
Jadi, sudah yuk kita berhenti mengeluh. Semoga semakin banyak pribadi yang
peduli sehingga dapat mendirikan lembaga pendidikan yang berbiaya tukang potong
rambut di bawah pohon, namun berkualitas Johny Andrean (yang bagusnya).
Salam.