Apakah 100% benar bahwa kita ini bangsa yang santun dalam
tradisi berbahasa saat ini (2007)?
Basa basi, santun dan pantun serta tradisi memang bagus dan
indah, tapi kadang-kadang dalam menghadapi kenyataan juga
perlu sekali menggunakan bahasa yang "tegas, jelas dan singkat
(tanpa bertele-tele)" plus mudah dimengerti!
Para intelektual, tokoh masyarakat plus para ulama semua agama,
perlu menyampaikan apa yang dimaksud (intinya apa?) tanpa perlu
berkaok-kaok sampai 3 jam atau lebih...
Kawan kami sering pakai kaca mata hitam, katanya, agar orang tak
bisa tahu "apakah masih melek atau sudah ketiduran" dirinya...
I can understand that, amigo!
Bagaimana pendapat kalian rekan-rekan yang santun dalam tradisi
berbahasanya?
Apakah kalian masih suka berpantun atau lebih suka pakai bahasa
jalanan (pergaulan)?
Salam
Las.
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/15/humaniora/3532577.htm
=======================
Ritus Kehidupan di Festival Pantun Nusantara 2007
Jakarta, Kompas - Pada dasarnya bangsa Indonesia memiliki cita rasa
yang tinggi dalam tradisi berbahasa. Bisa dipahami bila pada banyak
daerah di Nusantara, tradisi kritik-mengkritik yang disampaikan pun
tetap mempertimbangkan aspek kesantunan.
"Dalam konteks budaya Indonesia, salah satu sumber berbahasa dengan
santun dapat diambil dari berbagai pantun sebagai inspirasi," kata
Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, Senin (14/5), terkait rencana
pergelaran Festival Pantun Nusantara 2007 dalam waktu dekat.
Festival itu sendiri, menurut Pudentia, akan dikemas sebagai seni
pertunjukan dengan tema besar terkait ritus kehidupan. Sedikitnya 12
daerah sudah menyatakan siap berpartisipasi dengan tradisi berpantun
mereka yang menggambarkan mulai dari saat manusia di kandungan hingga
pantun-pantun yang tersaji pada upacara kematian.
Festival pantun ini merupakan salah satu program Direktorat Jenderal
Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
bekerja sama dengan ATL; Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas
Indonesia (FIB-UI), serta para seniman yang akrab dan kerap mendukung
kegiatan seni pertunjukan di Tanah Air.
Sumber keteladanan
Menurut Pudentia, pemerolehan berbahasa yang santun tidak dengan
serta-merta dapat dilakukan dan didapatkan oleh seseorang. Sebab,
kebiasaan sejak dini dan lingkungan sosial masyarakat akan banyak
menentukan pola berbahasa seseorang.
"Bagaimana keefektifan bahasa sebagai sarana komunikasi akan berperan
dalam penyampaian gagasan, pikiran, dan perasaan sudah terbukti dan
tak perlu lagi diperdebatkan. Namun, yang perlu diingat, bahasa yang
baik tidak saja karena konstruksi tata bahasanya benar, tetapi juga
karena disampaikan dengan cara yang tepat, sesuai dengan situasi,
kondisi, dan sasaran pembicaranya," papar Pudentia, yang sehari-hari
adalah staf pengajar di FIB-UI.
Dalam beberapa tahun terakhir muncul gejala, dalam peristiwa politik,
misalnya, masyarakat Indonesia mulai mengabaikan aspek kesantunan
dalam menyampaikan pikiran dan gagasannya. Bahasa yang digunakan
cenderung vulgar, bahkan terkesan kasar, jauh dari sifat dasar pola
berbahasa orang-orang Indonesia pada umumnya yang penuh kesantunan.
"Festival pantun yang direncanakan digelar bulan Oktober nanti adalah
salah satu upaya untuk mengingatkan kita semua bahwa sifat kesantunan
dalam berbahasa itu ada di hampir setiap daerah di Nusantara," ujar N
Riantiarno, dramawan yang ikut terlibat dalam persiapan festival ini.
Karena sifat kesantunan dalam ragam pantun Nusantara, kata Pudentia,
apa yang diungkapkan pun hampir tidak pernah melukai hati meski yang
itu dimaksudkan sebagai kritikan. Karena itu, tak aneh bila pantun
dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.
"Menyampaikan gagasan, pikiran, dan perasaan dengan cara yang santun,
tetapi tepat dan sekaligus indah dapat dijadikan sebagai salah satu
kebanggaan bangsa, sekaligus juga kekuatan bangsa," kata Pudentia. (ken)
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]