Dear all, khususnya pak Haniwar, Irwank dan walah,
   
  Saya kira kita sepakat, juga bersama yang lain bahwa harus ada perubahan.
   
  Tentu saja ini bukan baru dan kesepakatan ini benar benar pernah mengkristal 
secara sangat keras pada 1998. Suharto mengambil langkah strategis bagi 
keselamatan diri dan klannya dengan mengundurkan diri. Pendukungnya melihat 
secara positif bahwa mundurnya Suharto untuk menyelamatkan Indonesia dari 
kerusakan yang lebih parah. (Ini ada pointnya). Jika langkah ini tidak diambil, 
bukan tidak mungkin revolusi benar benar terjadi. Penumpasan kekuatan lama 
secara radikal dan dimulainya suatu kekuatan politik baru dengan nilai nilai 
baru dan bekerja secara sangat radikal akan terjadi. Ini biasanya dan idealnya 
merupakan result dari revolusi (Perancis, Bolsyevik, Revolusi Amerika dll - 
revolusi politik). Tapi ciri yang paling menimbulkan resiko adalah perubahan 
yang terjadi dicapai dengan proses yang inkonstitutional, dengam mobilisasi 
massa yang besar dan hampir tidak mungkin menghindari ciri kekerasan dalam 
revolusi.
  Suharto mundur, sering dicatat sebagai Suharto jatuh...namun toh jatuh secara 
konstitutional. Yang strategis adalah bahwa mundurnya Suharto telah secara 
effektif memecah kekuatan rakyat. Naiknya Habibie membuat kekuatan langsung 
terpecah antara pendukung Habibie dan pendukung perubahan total. Proses yang 
kemudian terjadi jelas adalah kekalahan dari pendukung perubahan total. Lihat 
saja nama nama yang sekarang masih beredar sebagai capres...wajah wajah lama 
yang malang melintang dalam barisan Suharto, yaa pengawalnya...yaa penulis 
naskah pidatonya dan lain lain. Kita bisa meneruskan refleksi ini namun akan 
buang buang waktu dan makan space.
   
  Ketika menanggapi I.Wibowo dalam tema Sakit untuk berubah (tulisan asli dari 
Rhenald Kasali), saya memberi gambaran mengenai hukum kelembaman / kemalasan 
Newton. Bahwa perubahan interaksi antara sub-sub sistem tidak akan membawa 
perubahan sistem. Yang terjadi sejak mundurnya Suharto hingga kini adalah 
perubahan interaksi antara sub-subsistem dari kekuatan lama. Sistem hanya 
berubah bungkusnya namun isinya tetap sama...tidak berubah. Newtonian 
mengajarkan bahwa perubaha sistem hanya terjadi jika ada gaya ekxternal. Itu 
hanya mungkin, jika figure yang benar benar tidak terkontaminasi dengan 
kekuatan lama yang mendorong perubahan sistem.
   
  Jadi jika pak Haniwar, atau pak Irwank atau Walah benar benar adalah orang 
yang tidak terkontaminasi dengan kekuatan lama, mungkin lebih effektif 
melakukan perubahan, ketimbang SBY yang jelas pasti terkontaminasi dengan (gaya 
dan cara pikir) kekuatan lama.
   
  Soalnya lalu, siapa yang mendukung ?
  Disini lah kita bicara mengenai kesadaran kelas atau secara umum kesadaran 
kelompok. Kesadaran akan adanya ketidakberesan kelihatan cukup meluas. Namun 
apakah semuanya merasakan ketidakberesan itu sebagai sesuatu yang menekan dan 
menyengsarakan ? Belum tentu. Jika kesadaran akan adanya ketidakberesan sudah 
meluas, juga kesadaran bahwa ketidakberesan itu juga menekan dan 
menyengsarakan..apakah diikuti dengan kesadaran untuk berjuang merubahnya 
dengan pengorbanan diri ? Ini menjadi makin sulit. Jika kesadaran untuk 
berjuang merubahnya juga ada, apakah dapat dicapai kesamaan pendapat mengenai 
bagaimana wujud Indonesia setelah berubah ? Terakhir, jika juga terdapat 
kesamaan pendapat tentang wujud akhir Indonesia yang dicita-citakan, apakah 
juga ada kesamaan pandangan mengenai METODA yang harus digunakan untuk mencapai 
perubahan ? Pak Haniwar, pada tahap kesadaran yang mana anda mendapat kesulitan 
untuk memobilisasi perlawanan asosiasi anda thd hegemoni  kolusi Hypermarket dan
 pemerintah ?
   
  Jika semua kesadaran itu ada secara cukup luas, pemimpinnya akan muncul dari 
kelompoknya (walaupun salah satu ciri postmo adalah tidak ada lagi figure 
centre dalam gerakan sosial - lihat reformasi 1988, siapa figure centre dari 
gerakan mahasiswa ? Tidak jelas) dan langkah langkah perubahan dapat dilakukan 
secara konsisten dan terarah.
   
  Revolusi tidak terjadi di tahun 1998. Diambil jalan reformasi artinya 
perubahan yang diinginkan dilakukan secara konstitutional dan juga secara 
gradual. Namun kita bisa mencatat bahwa semua langkah selama 9 tahun ini, 
sering tidak konsisten. Mengapa ? Kembali lagi, karena yang memimpin adalah 
orang orang lama. Jika Gus Dur tidak cacat dan tidak keburu diimpeach, menurut 
saya dialah yang paling mendekati figure eksternal dari kekuatan lama. Sayang 
faktor fisik mengurangi / mempengaruhi kapabilitasnya dan kadang kadang over 
confident. 
   
  Walah mengirimkan manifesto revolusi. Saya melihat ada usaha untuk 
menggunakan isue daerah / bahkan isu pemisahan daerah sebagai basis gerakan. 
Maaf jika saya lebih dulu mengatakan..sulit untuk berhasil. 
   
  Mengapa tidak berjuang agar dalam perubahan UU Politik saat ini calon 
independen bisa masuk bursa pimpinan. Jadi yang dilawan adalah hegemoni parpol 
dalam rekruitmen elit. 
   
  Salam Nanosolidarity,
   
  Irry
   
   
  NB. Bagaimana kalau kita hindari saja penggunaan kata revolusi namun sepakat 
bahwa yang kita bicarakan adalah perubahan yang mendasar dari kondisi negara 
dan masyarakat kita dalam hal hal yang juga mendasar dan bahwa perubahan itu 
harus diusahakan dalam waktu yang tidak lama. 

Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dalam berbagai diskusi, saya juga slalu mengingat kan bhw bisa ada 
banyak definisi, akan bagus kalau kita sepakat dulu definsi yang akan dipakai

Sering kita lihat perbedaan pendapat memang karena beda titik pandang atau 
beda definisi yang dipakai. Cuma, untuk soal revolusi ini sy nggak 
bersedia utk jadi pemilih definsi yang mau dipakai ... :)

Bagian kedua nya sy agak bingung... , ttg kesadaran kelas belum 
terbentuk.., maksudnya kelas apa.. proletar ., . atau kelas apa ?? atau 
mau ada pertentangan antar kelas ?? ilmuku belum sampai kesitu..smile..

Saya agak awam nih. Atau mau bicara persamaan nasib, yang menjadi dorongan 
untuk bergerak bersama ??

Memang sih harus dimulai punya platform yang sama .. , kalau mau sama sama 
lakukan suatu perubahan..

Sejauh menyangkut organisasi saya.. , ada persamaan nasib.. soal tekanan 
dari hypermarket.. tapi tetap beda .. mengenai cara utk hadapi.. , ada yang 
maunya gaya keras..., ada yang setengah keras.., Nah.. titik temunya saat 
ini ya di setengah keras..., makanya perjuangannya cuma sampai apada 
menuntut aturan main yang adil..., bukan mengusir hypermarket .. , juga 
bukan boycott nggak supply

Hanya cara berjuang nya cukup total..., sampai kemarin , bersama sama DPR 
bikin pernyataan bhw Deperdag harus bikin aturan itu keluar paling lambat 
Juni 2007 , ( soalnya sudah lebih dari 2 tahun terkatung katung() , dan 
alhamdulillah ada tanda tanda usaha untuk memenuhi tuntutan itu

Dalam pilihan yang muncul , ada juga .., pedagang pasar yang mau revolusi 
keras banget dengan demo yang bisa bikin Hypermarket nggak bisa kerja. , 
atau pemasok yang mau memboycott nggak mau kirim

Jadi betul pendapat , nggak semua punya pendapat yang sama ..., antara 
lain karena beda dalam milih yang selisih manfaat dan mudharat yang 
terbesar..

tetapi semakin keras penderitaan.. dan semakin berkurang harapan... , 
maka makin lama akan makin keras perlawanan yang terjadi...makin besar 
tuntutan akan perubahan yang cepat ... yang bukan hanya janji perubahan a 
la janji pemilu SBY

lalu revolusi bisa jadi sebuah keniscayaan....cuma bagusnya bila revolusi 
berlangsung damai...

Kalau ngutip lagu jaman pembebasan Irian Barat dulu :

"cukup sudah masa janji... cukup sudah derita dialami ..."
"kini tiba saat rakyat bertindak ... "
" mari bersatu bebaskan... Irian.."

Bagian akhir bisa diganti disesuaikan dengan keadaan... smile.. misal mari 
bersatu gantung koruptor..atau mari bersatu lebih berpihak kepada kaum 
miskin..atau mari bersatu untuk berdikari...mari bersatu wujudkan trisakti, 
berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam 
budaya..

yang penting bagi saya... kita saat ini perlu perubahan yang cepat... 
kalau nggak mau ketinggalan makin jauh..

lihatlah perubahan yg terjadi di Cina... Vietnam ..

lihat aja .. ketika kereta api dimana mana makin cepat.. eh di Indonesia 
malah kereta nya harus jalan makin lambat karena rel nya lapuk.... eh 
mentrinya cuma di mutasi.. eh mentri baru nya banyak omong...kita perlu 
bukti...

Kan ajaib...

Salam

Haniwar

Kirim email ke