Mas Totot, Kalau membaca berita itu, saya kira jelas bentuk pelecehannya di paragraf kelima. Tindakan polisi itu sudah membuat seorang jurnalis perempuan menjadi tidak nyaman, apalagi diarahkan secara tidak patut pada tubuh perempuan. Tindakan itu bagi saya melecehkan, karena menjadikan tubuh perempuan - payudara- menjadi sasaran intimidasi. Inilah yang menjadi ciri khas sejumlah kekerasan terhadap perempuan, bahwa perempuan tidak hanya rentan mengalami kekerasan fisik, tetapi juga mengalami kekerasan seksual.
Kronologis seperti apa yang dimaksud? bukankah di berita itu sudah jelas kronologisnya? Mengapa perlu kronologis untuk kasus pelecehan seksual? Mas totot butuh informasi kronologisnya untuk mengetahui tindakan kriminalnya atau untuk menikmati proses pelecehannya? Saya sering sedih jika membaca berita perkosaan yang banyak dimuat oleh sejumlah harian. Berita perkosaan akhirnya tidak menjadi berita kriminal, tetapi menjadi berita "fantasia" yang memberi suguhan adegan perkosaan pembaca. Berita perkosaan seringkali mengedepankan proses perkosaannya ketimbang nilai kekerasan terhadap perempuan. Media senang dengan menceritan proses dari membuka baju hingga perkosaan itu terjadi. Tidak sedikit berita perkosaan justru menyudutkan korban dengan judul-judul yang tidak berpihak pada korban. Bentuk-bentuk berita ini bagi saya justru membawa korban untuk mengalami tindakan perkosaan untuk kedua kalinya yang dilakukan oleh pembaca. Saya kira tidak perlu pengungkapan kasus-kasus perkosaan, pelecehan oleh media dibuat secara detail kronologisnya, karena akan membuat korban mengalami revictimisasi. Upaya untuk mencari tahu proses pelecehan atau perkosaan yang dialami korban ini juga banyak dilakukan oleh aparat, ketika korban melaporkan pelecehan yang dialami. Saya pernah mendengarnya ini dari sejumlah perempuan yang mengalami pelecehan, ketika mereka lapor polisi, polisi tidak percaya justru meminta korban untuk memperagakan dan menunjukkan bagian tubuh yang mengalami pelecehan. Bagi saya tindakan aparat itu juga sebagai tindakan pelecehan. sebuah Lembaga Bantuan Hukum untuk Perempuan pernah mengungkapklan bahwa korban perkosaan banyak mengalami diskriminasi dan tindakan yang melecehkan yang dilakukan oleh aparat penyidik ketika dia melaporkan kasusnya.Penyidik bertanya kepada korban perkosaan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang justru melecehkan korban seperti : "Apakah kamu menikmati perkosaan itu?" Saya kira itu tidak patut dipertanyaan, karena tidak mungkin korban perkosaan akan menikmati perkosaan yang dialami? Saya berharap kasus pelecehan terhadap jurnalis perempuan ini juga mendapat respon dari Aliansi Jurnalis Independen dan memasukkannya dalam daftar kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Bagi saya kekerasan terhadap jurnalis tidak saja dalam bentuk fisik. Pelecehan seksual juga perlu diakomodasi dalam rangka membebaskan jurnalis perempuan dari tindakan kekerasan. salam, Eko Bambang Subiyantoro Pada tanggal 16/05/07, Agus Hamonangan < [EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Laporan Wartawan Kompas Sarie Febriane > > http://www.kompas.co.id/ver1/Metropolitan/0705/15/190401.htm > ======================== > > JAKARTA, KOMPAS - Wartawan dari surat kabar Koran Tempo MH (24) > dilecehkan oleh seorang polisi, saat akan meliput di Mabes Polri, > Selasa (15/5). Peristiwa itu sempat membuat MH terguncang hingga > gemetar dan menangis tersedu-sedu ketika menceritakan peristiwa itu > kepada teman-teman wartawan lainnya. > > Karena shock, MH tidak sanggup mengingat nama polisi tersebut. Namun, > ia menuntut agar rekaman CCTV yang terpasang di dekat tempat kejadian > bisa segera dibuka. Hingga kini, polisi tersebut belum ditemukan. > "Kejadiannya cepat sekali. Saya shock enggak mengira. Yang saya ingat > nama depannya Ch. Setelah itu apa tidak ingat," ujar MH. > > MH akhirnya melaporkan peristiwa itu ke Divisi Profesi dan Pengamanan > (Propam) Mabes Polri. Kepala Divisi Propam Inspektur Jenderal Gordon > Mogot berjanji akan mencari hingga ketemu polisi tersebut. Menurut > Gordon, pihaknya pasti dapat menemukan polisi yang bersangkutan. > > Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.15 di samping gedung Badan > Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Ketika itu MH sedang > berjalan menuju ke Bareskrim, tempat di mana para wartawan biasa > berkumpul menunggu narasumber. Saat melintas di samping gedung itu, > dari arah yang berlawanan melintas juga seorang polisi. > > Pada saat berpapasan, polisi itu memanggil MH sambil berjalan > mendekat. Di hadapan MH, polisi itu lalu berkata tak senonoh sambil > menunjuk-nunjuk ke arah dada MH dari jarak dekat. Sontak saja MH shock > tidak mengira diperlakukan seperti itu. MH sempat berujar pada polisi > itu akan melaporkan perilaku tak senonoh itu. > > Polisi itu hanya menanggapi sambil tertawa dan segera berlalu > meninggalkan MH. Masih dalam keadaan shock, MH lalu berlari sambil > menangis ke rekan-rekan wartawan lainnya di Bareskrim. "Tangan dia > (MH-red) sampai dingin waktu cerita, wajahnya pucat," ujar seorang > wartawan radio yang menenangkan MH. > > MH juga mengaku pernah mengalami pelecehan fisik beberapa waktu lalu. > Namun, MH tidak berani meributkan peristiwa itu. "Saya pernah > dicolek-colek lengan saya sama polisi waktu masuk gerbang Mabes. Tapi > saya enggak berani ngelawan," ujar MH. > > MH sempat kesulitan ketika akan mengadukan peristiwa tersebut ke > Propam. Alasan petugas di Propam, MH tidak bisa menyebut nama lengkap > polisi itu. MH hanya mengingat bahwa polisi tersebut mengenakan > pakaian dinas lapangan teknis (PDLT). MH bahkan sempat disuruh petugas > Propam untuk mencari sendiri polisi tersebut baru melapor lagi. MH > juga sempat kesulitan ketika minta agar rekaman kamera CCTV di samping > gedung Bareskrim dibuka untuk bisa mengetahui sosok polisi tersebut. > > Copyright 2006 Kompas Group > > --- In > [email protected]<Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>, > "Totot" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Seperti apakah bentuk pelecehannya? > > Apakah sudah tersentuh secara fisik? > > Atau ada kata2 jorok? > > Ataukah memandangi dgn penuh nafsu? > > > > Kronologinya kok gak ada ya? > > > [Non-text portions of this message have been removed]
