Daku bukan guru, tetapi daku pengajar di SD...walo cuman honorer....dan daku melihat...mutu guru SD dikatakan kurang?... perlu dilihat dulu dari berbagai sisi..bukan hanya sisi bapak dan ibu guru yang berpendidikan D3 (yang sekarang diharuskan S1) dan harus menyiapkan metode pembelajaran yang ampuh...namun juga dari sisi luar sekolah...
Sisi luar sekolah bisa daku liat dari sisi faktor kurikulum yang dibikin oleh pemerintah, faktor lingkungan sekolah tersebut, dan faktor murid + orang tua murid. Sisi kurikulum yang selalu berubah dengan alasan ingin memajukan pendidikan menyebabkan guru "kelimpungan" menyiapkan metode2 pengajaran...mudahnya kurikulum berbasis kompetensi...eh baru aja bapak dan ibu guru mempelajari metode pembelajaran ini..trus berubah lagi menjadi kurikulum lain...metode2 pengajaran tidak bisa instant terjadi, perlu proses, trial and error...belum lagi jam pelajaran yang semakin dipersempit namun jumlah mata pelajaran ditambah...hal ini juga yang menyebabkan kesulitan untuk mengembangkan metode2 pembelajaran....hal ini diperparah dengan adanya sistem pembelajaran instant di berbagai lembaga bimbingan belajar, sehingga apa yang diberikan oleh pengajar di sekolah bisa menjadi berbeda cara nya ketika belajar di lembaga bimbingan belajar...dan pada akhirnya murid sendiri pun yang mengalami kerugian..karena proses belajar yang didapatkan di lembaga bimbingan akan berbeda dengan proses belajar yang didapatkan di sekolah Lingkungan sekolah pun juga turut memberikan andil atas naik turunnya mutu para guru, baik itu SD-SMP-SMU. Daku melihat khususnya untuk lingkungan sekolah yang sedang direnovasi...bagaimana para guru bisa memberikan pelajaran apabila suara gaduh amat jelas terdengar...dan murid-murid pun merasa kesulitan untuk berkonsentrasi belajar...metodenya? tidak ada....karena suara dan juga orang yang berlalu-lalang menyebabkan konsentrasi terganggu... Dan terakhir dari sisi murid serta orang tua. Bagi orang tua, hampir kebanyakan orang tua menyerahkan pendidikan kepada sekolah...padahal jam sekolah biasa hanya antara pukul 7 pagi - 2 siang...selebihnya ada di tangan orang tua kembali....dan parahnya, dengan adanya kemajuan teknologi, anak-anak pun semakin tidak peka dalam menjalankan aktivitasnya di sekolah dan juga di lingkungan sosial...sehingga ketika ada masalah pada seorang murid, orang tua pada umumnya menyalahkan pihak sekolah, terlebih guru kelas nya. Untuk saat ini...yang diperlukan para guru adalah kepastian kurikulum...sehingga bapak dan ibu guru bisa mencari metode-metode pengajaran yang bagus yang pada nantinya juga berguna untuk murid-muridnya. Daku yakin, seorang yang benar2 mengabdikan dirinya untuk menjadi seorang pendidik tidak akan menuntut macam2....guru akan merasa bahagia apabila murid2nya berhasil nantinya... Jadi, bagi daku...masalah mutu itu adalah relatif, mutu tidak dapat di-generalisasi secara sepihak. Mutu dapat naik turun berdasarkan faktor2 pemicunya dan juga dari sudut pandang mana kita mau melihat. Salam, Thomas --- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.kompas.co.id/ver1/Dikbud/0705/14/194658.htm > ======================= > > BANDUNG, KOMPAS--Kualitas dan mutu guru sekolah > dasar di Jawa Barat, > khususnya Kota Bandung, terlihat memprihatinkan. > Rendahnya penguasaan > kompetensi pedagogis dan profesionalisme guru ini > memicu bahaya laten > terjadinya pendangkalan dan stagnasi keilmuan dalam > dunia pendidikan. > > Persoalan rendahnya mutu dan kompetensi guru ini > salah satunya > tercermin dari hasil pemantauan Lembaga Pengembangan > Pendidikan (LPP) > Salman Institut Teknologi Bandung. Dari sekitar 900 > guru SD yang ada > di Bandung, berdasarkan hasil pemantauan itu, > rata-rata nilai indeks > mutu hanya mencapai angka 4,5. Padahal, idealnya > adalah 7,0. > > Direktur Eksekutif LPP Salman ITB Syamril, Senin > (14/5) mengungkapkan, > penilaian itu terutama mencakup penguasaan bidang > studi guru. Ini > merupakan hal yang paling pokok sebagai cerminan > aspek profesionalisme > guru. Meski belum menyentuh ke arah penggunaan > metodanya, namun > diyakini kondisinya tidak jauh berbeda. > > Persoalan penguasaan dan pemuktahiran materi > tampaknya memang masih > menjadi momok bagi guru. Menurut Syamril, sebagian > besar guru SD saat > ini masih terjebak pada kultur lama, yaitu > keengganan untuk memperkaya > keilmuannya. Termasuk, berlebihannya rasa > kepercayaan diri yang memicu > pada sikap menyepelekan keilmuan. (JON) > > > > > Copyright 2006 Kompas Group > > __________________________________________________________Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing. http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/mail/index.php --------------------------------- Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Tryit now. [Non-text portions of this message have been removed]
