Wehehe, Si Andi ini lugu banget. Bung, terserah motivasi para parpol lawan
politik Mega itu persisnya apa, yang jelas mereka mengeksploitasi isu gender
untuk menjegal Mega. Anda kaya penasihat mereka saja, sampai tahu bahwa alasan
kepemimpinan perempuan cuma "masakan politikus"? Yang pake isu gender ini mulai
dari politisi sekaliber Amien Rais sampe yang kelas jalanan kaya Habib Riziq
lho. Saya tak pusing mereka beneran gak suka pemimpin perempuan atau enggak,
yang jelas dan penting dan gamblang di depan mata adalah isu gender
DIEKSPLOITASI buat kepentingan politik. Kalo nggak ada masalah gender, mestinya
kan isu begini gak akan bisa dipake buat amunisi? Ke mana sih minggatnya logika
Anda kali ini?
Ngomongin harga mati, harga matinya SIAPA dulu? Kalo sampe upaya jahat para
politisi maskulinis itu tak ada yang melawan dan mendiamkan aja, seperti model
orang kaya Anda gini, ya pasti akan jadi harga mati. Berhubung ada yang berani
ngelawan, khususnya para aktivis perempuan, makanya mereka tak selalu berhasil.
Anda kira ngapain aktivis seperti Husna dan para perempuan Banten lainnya
beberapa bulan lalu hampir tiap hari jerit-jerit di pelbagai milis untuk
melawan perda-perda yang meminggirkan perempuan? Mereka Anda kira ngelindur
tanpa sebab apa? Dan Anda kira Rustriningsih tak ada yang mempersoalkan status
gendernya? Kentara lagi bahwa Anda gak pernah baca koran.
Soal Gerwani: Betul, Gerwani dijadikan simbol imoralitas komunisme.
Pertanyaannya: kenapa Gerwani yang secara khusus dijadikan simbol imoralitas
komunisme? Kok bukan Kol. Untung atau D.N. Aidit? Kok organisasi perempuannya?
Makin semrawut aja nih rabun gender Anda. Tahukah apa yang terjadi pada
organisasi perempuan pada masa Orba setelah Gerwani digerus abis? Mati. Yang
boleh ada cuma yang bentukan pemerintah, yaitu Kowani dan Dharma Wanita.
Bagaimana dengan pelbagai LSM perempuan yang bermunculan menjelang Reformasi?
tanya saja kepada para aktivisnya apa mereka nggak hampir tiap hari diteror
pake telpon gelap, dimata-matai, diancam, diintimidasi. Sekali lagi, baca
koran. Dan jangan tanya koran kapan. Kalo serius, baca koran mulai dari masa
awal Orba sampai Kompas setiap hari yang Anda tuduh secara implisit bahwa
mereka mengada-ngada dan membesar-besarkan isu perempuan.
Orba tak menindas sastrawan? Cuma Pram dan Sitor yang jadi korban? Lagi-lagi
Anda ternyata yang jago ngelindur. Lalu, ke mana gerangan Wiji Tukul? Nasib apa
yang dialami Rendra, Ratna Sarumpaet, dan banyak sastrawan lainnya di Jogja,
Makassar, Surabaya, Bandung, Semarang itu tiap kali mau pentas atau baca puisi?
Apa mereka itu komunis semua? Tanya ke para penulis non-Pram dan non-Sitor yang
bukunya kena bredel semasa Orba. Jangan cuma bisa ngimpi doang di kamar tidur
sendiri.
Gak usah kuatir soal eyel-eyelan. Saya gak bakal jantungan kok. Warung kopi
juga enak buat eyel-eyelan. Tanya aja ama Emha atau Butet kalo gak percaya.
manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Manneke dan Pak Rahadian,
Saya sengaja tidak menanggapi soal Megawati dan Gerwani agar tidak
menyimpang dari topik utama. Tapi berhubung ke'diam'an saya malah
membuat Pak Manneke menambahi cap saya dengan rabun gender (mungkin
ditaruh di sebelah cap macho kemaren) izinkan saya membahas agak
menyimpang sedikit:
Bayangkanlah kalau idola massa sekaliber Megawati ternyata anggota
Dewan Syuro PKB atau PPP atau PBB. Akan ada jugakah penolakan yang
Anda kutip itu? Megawati ditentang karena dia adalah lawan, Pak.
Bukan karena keperempuanannya. Alasan kepemimpinan perempuan itu
cuma masakan politikus yang kebetulan sedap benar untuk dikunyah
massa tapi sebenarnya sedikit saja yang menelan. Buktinya PDI-P
menang saja kan ketika itu? Soal Megawati kalah di MPR itu kan lain
cerita.
Bukti lagi? Pernahkah kemudian para penentang itu meributkan bupati-
bupati atau camat-camat perempuan yang makin banyak itu dengan
alasan jender? Kalau agama alasannya, mestinya harga mati, toh?
Kenapa Megawati dilawan tapi Rustriningsih atau Haeny Relawati
dibiarkan? Jangan-jangan Anda percaya juga kalau Marissa Haque kalah
di pilgub Banten karena dia perempuan?
Soal Gerwani, maafkan kalau saya salah menanggapi lagi karena belum
baca bukunya. Tapi yang saya tahu yang mau ditembak dari mitos
Gerwani adalah imoralitas paham komunisme, bukan masalah karena
Gerwani itu perempuan. Mitos imoralitas ini juga dikobarkan dengan
adegan penyiksaan di film G30S yang amat-sangat-graphics itu (dan
pelakunya tidak cuma Gerwani). Sama juga halnya dengan penghujatan
atas Pramudya atau Sitor Situmorang (yang ternyata tidak ada komunis-
komunisnya itu) tidak lantas diterjemahkan sebagai orde baru
berpaham menindas sastrawan.
Terima kasih atas gosokannya, Pak :-) Ilmu saya cuma cukup untuk
eyel-eyelan warung kopi saja; jangan terlalu diseriusi.
Andi