Heran saya. Kok mitos soal produk budaya kita dipatenkan di luar negeri ini tidak mati-mati. Tempe itu dijual di aneka supermarket di US. Kalau produsennya kebetulan membuatnya dengan teknologi yang tidak umum dipakai di Indonesia, maka hak dia mematenkan teknologinya itu, tapi bukan berarti mematenkan tempenya. Demikian juga halnya dengan batik. Kalau dia bikin batik pakai canting atau malam yang tidak ada di sini, sah-sah saja hal itu dipatenkan; tapi jelas dia tidak bisa mematenkan batik.
Andi --- In [email protected], "Alpha Bagus Sunggono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Telat mbakyu, > TEMPE sudah puluhan tahun yang lalu dipatenkan > ke US Patent, dan bukan oleh orang Indonesia lagi, > makanya kita kesulitan Expor Tempe, > karena musti ngurusi royalti. > > Pada tanggal 16/05/07, kuncaraning sari <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > > > > > > > > > > > > Selamat d.. ikut senang. Semoga orang-orang pintar ini > > bisa memajukan negara Indonesia dari keterpurukan. > > > > Apakah bisa cepat mempatenkan TEMPE, TAHU , BATIK, dll > > sbeelum kedahuluan sama negara tetangga kita Malaysia > > atau Jepang???. > > > > Salam, > > > > Sari > > > > > > > > > > -- > Salam Revolusi IT Indonesia !!!! > > Alpha Bagus Sunggono > ------------------------------------------------------ > http://bagusalfa(dot)blogspot(dot)com >
