Pak Tri Handoko,

Pandangan saya berbeda dgn Bapak. Saya sangat menyukai tulisan-tulisan
Pak Rhenald di Kompas...Sungguh segar, walaupun memang pokok
pikirannya mirip bahkan terkesan sama..Bagi Pak Rhenald, hasil adalah
cerminan dari cara berpikir seseorang. Yang hebat secara akademis,
kalau cara berpikirnya keliru, tidak akan mencapai hasil optimal. Maka
yang "pintar akademis" belum tentu "pintar bekerja...

Wah, bagi saya, ini cukup menggambarkan perilaku Pak Amien Rais yg
"mengaku dosa", para profesor di KPU yg sedang mendekam di Penjara,
Pak RD dan kasus DKP-nya, para profesor yg menjadi tersangka dalam
kasus IPDN, dsb..dst..Panjang Pak kalau saya teruskan :-) 
Mungkin mereka itu adalah orang pintar yg 'tertutup'...

Pintar secara akdemis memang bukan jaminan bagi akhlak!!

Salam Recode, 

Patrick Hutapea


--- In [email protected], Tri Handoko Seto
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> pak kasali ini kok dari dulu sepertinya itu2 saja yg dibicarakan.
dia sangat bangga dg pencapaiannya. dia selalu bilang bahwa dia dulu
tidak sepinter teman2nya waktu sekolah. tetapi pada akhirnya banyak
sekali orang2 yg pinter2 saat di sekolah dulu itu tidak eksis di dunia
dewasanya. 
> 
> begitu juga dg tulisan ini. saya melihat kok sepertinya terlalu
meremehkan orang2 yg pinter type kedua. memang benar apa yg
disampaikan. tetapi saya juga bisa membayangkan jika semua orang
berusaha menjadi orang yg pinter type pertama maka kemajuan teknologi
juga tidak akan tercapai. saya sendiri bahkan salut dg org2 yg pinter
type kedua. karena mereka rela tidak mendapatkan kemewahan demi
idealismenya untuk membuat kemajuan. 
> 
> kedua type orang pinter ini diperlukan. dan mereka mempunyai tempat
masing2. sudah saatnya seorang ahli mendapatkan gaji yg sangat tinggi
bahkan melebihi manager, supaya orang tidak semakin malas menekuni
suatu bidang demi mengejar posisi manager. 


Kirim email ke