terima kasih pak, namanya pendapat ya boleh2 saja berbeda hehehee.....
saya kira memang ada orang2 yg berpikir "pintar" seperti pak kasali. dan memang 
untuk hidup di negeri seperti indonesia ini yg paling enak ya yg bisa berpikir 
spt itu. dalam sistem yg liar ini, beruntunglah orang2 yg punya kepintaran type 
1. tetapi dalam sebuah sistem yg baik, harusnya kepintaran type 2 juga mendapat 
pernghargaan yg tinggi. manusia itu punya banyak keterbatasan. adalah sangat 
sulit jika harus pinter di segala lini. dan kepinteran type 2 jelas bermanfaat 
bagi kemajuan dunia. meskipun dalam negara liar ini kepinteran type 2 tidak 
banyak menguntungkan diri sendiri. 

lho kok.... lari ke masalah profesor? kalau itu seh menurut saya lebih kepada 
tidak pinternya mereka menjadi maling heheee...... di negeri ini, orang boleh 
boros, bodoh, dan tidak punya insiatif apapun asalkan berjalan sesuai 
peraturan. masalah hasil tidak penting. seorang tidak pernah dijebloskan ke 
penjara gara2 program2nya tidak berjalan. tetapi jika dg maksud menyukseskan 
sebuah program kemudian kita melakukan hal2 yg di luar aturan maka bisa2 ya 
masuk bui. saya jelas lebih menghormati mereka yg rela masuk bui demi suksenya 
sebuah tugas yg diemban.

apakah orang2 pinter type pertama itu adlah orang2 yg pinter maling sehingga 
tidak ketahuan? 

----- Original Message ----
From: Patrick <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 20, 2007 7:02:58 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pintar, tetapi Tertutup (Rhenald Khasali)









  


    
            Pak Tri Handoko,



Pandangan saya berbeda dgn Bapak. Saya sangat menyukai tulisan-tulisan

Pak Rhenald di Kompas...Sungguh segar, walaupun memang pokok

pikirannya mirip bahkan terkesan sama..Bagi Pak Rhenald, hasil adalah

cerminan dari cara berpikir seseorang. Yang hebat secara akademis,

kalau cara berpikirnya keliru, tidak akan mencapai hasil optimal. Maka

yang "pintar akademis" belum tentu "pintar bekerja...



Wah, bagi saya, ini cukup menggambarkan perilaku Pak Amien Rais yg

"mengaku dosa", para profesor di KPU yg sedang mendekam di Penjara,

Pak RD dan kasus DKP-nya, para profesor yg menjadi tersangka dalam

kasus IPDN, dsb..dst..Panjang Pak kalau saya teruskan :-) 

Mungkin mereka itu adalah orang pintar yg 'tertutup'.. .



Pintar secara akdemis memang bukan jaminan bagi akhlak!!



Salam Recode, 



Patrick Hutapea

Kirim email ke