http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/20/persona/3541184.htm
=======================

Kesulitan mengharmoniskan paham kebangsaan dan agama dialami Yudi
melalui pengalaman personalnya. Ayahnya, Utom Mulyadi, seorang tokoh
Nahdlatul Ulama, sementara ibunya, Yuyun Yustika, dan seluruh
keluarganya "sangat PNI".

"Saya selalu mengatakan langit ayah, bumi ibu. Ayah adalah keislaman
saya, ibu kebangsaan saya," ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Berangkat dari soal ideologi yang membuat perkawinan ayah dan ibunya
tak harmonis, Yudi melihat perlunya kontrak sosial dalam perkawinan
ideologi. Kalau tidak ada formula dalam perkawinan itu, yang
dilahirkan adalah anak-anak "yatim piatu".

Pengalaman yang paling berkesan bagi Yudi adalah ketika ia bertemu
pertama kali dengan Nurcholish Madjid, tahun 1994. "Ibaratnya, saya
sudah membawa 'belati' saat itu," ujarnya. Ketika mendengar
ceramahnya, Yudi terkesima. Kesan dan pandangan awalnya tentang Cak
Nur luruh.

Cak Nur kemudian tak hanya menjadi orang terdekat baginya, tetapi juga
sumber inspirasinya. "Cak Nur adalah role model tentang kebersahajaan
dan ketulusan," ujarnya. (MH/IAM) 

Kirim email ke