Oleh Samuel Mulia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/20/urban/3538391.htm
===================

Itulah komentar yang saya terima ketika sedang berbicara
berbisik-bisik melalui telepon genggam di dalam bioskop, sementara Mas
Spiderman lagi digebukin lawannya.

Suara sound system bioskop supercanggih yang sudah begitu ributnya
masih saja mampu mendatangkan komentar huussshhh… berisik itu. Jadi
saya kaget juga, ternyata sound system tak mempan membuat beberapa
manusia berkonsentrasi kepada Mas Spiderman, tetapi malah pada suara
saya. Saya malah balik bertanya, apa iya suara saya bisa sampai
mengalahkan sound system Studio 21? Waduh, ciamik tenan kalau begitu.

Sebelum mendapat komentar itu, saya juga sudah diperingatkan
pengumuman di layar lebar untuk mematikan telepon genggam selama
pertunjukan berlangsung.

Peringatan itu buat saya terlalu kuno. Hari gini kok harus sampai
dimatikan, di-silent saja kan juga bisa atau dengan efek getar.

Burung rajawali

Kata teman saya burung rajawali sering digunakan sebagai "alat" untuk
mengetahui apakah sebuah badai atau bencana alam akan datang.

Binatang gagah perkasa ini akan diam di puncak pohon tertinggi dalam
posisi bertengger tidak berubah karena konsentrasinya yang penuh.

Saya tak tahu apa rajawali kakinya bisa kemeng atau semutan, saya
benar tak tahu. Dengan berdiam diri dan berkonsentrasi penuh itu dan
tak memedulikan aktivitas lain di sekitarnya, ia mampu mendengar dan
merasakan dari mana akan datangnya badai atau bencana itu

Dengan berdiam dan tidak panik, rajawali mampu terbang di atas badai
dan tidak terperangkap di dalamnya. Itu cerita teman saya. Mau cerita
itu keliru apa tidak, bohong atau tidak, saya sudah dibuat malu,
tersinggung, dan entah apa lagi.

Bila rajawali seperti itu, maka saya adalah lawannya rajawali. Berbeda
secara ekstrem.

"Makanya, Mas, kalau mau seperti rajawali, mbok nemplok di pohon,
menengo wae, kan nanti Mas yang kesamber badai," kata teman saya.

Teman saya itu benar seratus persen, saya mencoba seperti rajawali,
tetapi malah tersambar badai. Mengapa? Mari saya beri tahu mengapa.

Saya tak pernah bisa diam. Bergerak, bergerak, bergerak. Bicara,
bicara, bicara, kalau bisa sampai berbusa mengalahkan busa sabun cuci.
Dengan keadaan seperti itu, saya diberi predikat bawel dan yang paling
menusuk adalah bukan pendengar yang baik. Sama sekali tidak.

Karena sukanya gradak-gruduk, saya adalah orang yang sering kali
panik. Dengan kondisi itu, saya sering tak bisa mendengar bila "badai"
datang karena telinga dan mata saya sering kali tak berkonsentrasi
pada tujuan mula-mula. Saya juga cepat sekali memilih untuk
memindahkan konsentrasi pada keberisikan di sekeliling saya. Makanya,
tujuan saya mula-mula sering tidak dapat tercapai. Kalaupun tercapai,
memerlukan waktu lama sekali karena senangnya berjalan berkelak-kelok,
ke sana kemari.

Itu juga yang membuat saya main-main dengan pasangan orang karena
ketika saya ingin setia dan berkonsentrasi kepada pasangan saya, kok
bisanya cuma beberapa hari saja.

Ketika jalan di mal dan keluar-masuk pesta, saya melihat begitu banyak
"kunang-kunang" di sekitar saya yang kerlipnya memesona mata dan
selalu terlihat lebih menarik daripada manusia yang saya gandeng.
Maka, sambil menggandeng pacar saya, mata dan kepala saya sudah
seperti parabola yang bisa menangkap lebih dari tiga puluh saluran.

"Silent is golden"

Karena senangnya tak berkonsentrasi, saya jadi tak bisa diam dan
selalu terjerat ke dalam badai. Kalau sudah demikian, selain
mencak-mencak kepada manusia, saya juga mencak-mencak kepada Tuhan.
Kalau kepada manusia saya akan mencak-mencak mengapa tidak berbuat ini
dan itu, mengapa tidak melalukan tindakan preventif, dan sejuta mengapa.

Kepada Maha Pencipta, saya akan protes, kok saya dijerat ke dalam
badai. Bukankah saya sudah memohon dalam doa, tolonglah saya,
dengarkan permohonan yang diajukan, dan sebagainya dan sebagainya.

Teman saya berkomentar, "Tuhan sudah bicara sama lo, Mas. Sudah ngetok
pintu rumah lo. Laaa… panjenengan ini seperti pemain sepak bola, lari
ke sana-kemari. Loncat ke atas, ke bawah, dan muter-muter seperti
pemain balet, yaaa… mana bisa mendengar. Tur sampean wis budek. Mbok
sekali-kali diam. DI… AM. Jadi, kupingmu itu bisa berfungsi dengan
seharusnya, yaitu untuk mendengar."

Ya..., saya memang telah menggunakan kuping saya untuk mendengar,
tetapi mendengar yang tak semestinya, sehingga saya juga sering kali
panas hanya gara-gara ada berita yang masuk ke telinga saya dengan
tidak benar. Tetapi, saya memilih berkonsentrasi penuh ke dalam
ketidakbenaran berita yang masuk ke telinga saya. Maka, saya panik
lagi, dan berteriak lagi, dan mudah dikompori.

Tidak berkonsentrasi juga terjadi saat saya berada di mal. Seperti
pada Kamis lalu, saya berencana berbelanja untuk keperluan pribadi.
Dari odol, pakaian dalam, sampai kaus kaki.

Saya tiba di mal, dan kok pemandangan di mal menjadi lebih menarik
daripada daftar belanjaan yang saya butuhkan. Maka, setelah tiga jam
di mal, saya berakhir dengan menonton Spiderman, menyeruput air yang
katanya dari sumber air terbagus berharga delapan belas ribu rupiah
sebotol, membeli tas baru, sepatu baru bukan kaus kaki baru, dan
celana jins baru bukan celana dalam baru. Jadi, uang yang awalnya saya
ambil di ATM hanya dua ratus ribu rupiah, menjadi sejuta lebih sejuta
rupiah.

Sekarang saya mengerti mengapa peringatan harus mematikan telepon
genggam—bukan di-silent—di layar lebar itu senantiasa ditayangkan. Itu
karena sejak sekian tahun lalu gedung bioskop bermaksud mengajar saya
untuk berkonsentrasi agar tidak terganggu dengan telepon masuk, dan
membantu saya terhindar dari kalimat husss… berisik dari sekian ratus
manusia di dalam gedung itu yang lebih memilih berkonsentrasi kepada
saya daripada ke film.

Dipikir-pikir, kalau untuk hal kecil seperti itu saja saya tak bisa
berkonsentrasi, bagaimana untuk permasalahan yang lebih besar di luar
gedung bioskop?

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup 

Kirim email ke