Oleh Samuel Mulia http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/20/urban/3538391.htm ===================
1. Awalnya susah sekali, terutama bagi mereka yang seperti saya. Senang berlari seperti pemain sepak bola dan meloncat seperti pemain balet. Umumnya saya selalu mengatakan, bila saya tak berteriak, berlari, dan meloncat, nanti kesempatan hilang disambar pemain sepak bola lain. Ternyata setelah belajar fokus kepada tujuan, saya menjadi lebih tenang. Mungkin kesempatan saya hilang, tetapi saya lebih baik kehilangan kesempatan daripada saya mengambil kesempatan tanpa persiapan. Dengan berkonsentrasi dan menjadi fokus, saya kemudian mampu mengatakan tidak pada waktunya, yang berakhir dengan mengurangi pengeluaran tenaga, pemikiran, dan dana yang tidak diperlukan. Saya katakan, untuk mencapai ini susah. Saya tidak mengatakan tidak mungkin. 2. Tanpa disadari, dengan belajar konsentrasi dan fokus kepada apa yang ada di tangan, saya mengenal apa yang disebut kesetiaan. Kalau dulu saya suka lirak-lirik dan loncat dari satu pelukan ke pelukan lain, saya terlelah-lelah karena tak pernah puas, maka saya mencoba berkonsentrasi kepada apa yang ada di tangan saya. Ternyata hidung pacar saya itu pesek dan kata teman saya tidak cantik, cuma agak cantik, tetapi baiknya setengah mati. Kalau dulu, selingkuhan saya cantik, kulitnya mulus, sampai saya takut untuk menciumnya, tetapi ia tidak setinggi pacar saya. Jadi, daripada saya capai, saya tak mau berkonsentrasi di pesek hidung pacar saya, saya mau konsentrasi di kebaikan hatinya. Kalau saya konsentrasinya salah tempat, seperti di pesek hidungnya itu, maka saya akan mulai lagi seperti pemain sepak bola. 3. Saya suka sekali menjelajah situs majalah-majalah kondang. Cuma acapkali saya suka panik sendiri. Awalnya mau mencari sesuatu yang utama, tetapi karena desain situsnya begitu mengundang dan setiap area dapat dibaca, saya malah klak-klik klak-klik ke mana-mana dan lupa pada tujuan mula-mula. Saudaraku, jangan menjalani hidup seperti sedang mengeklik situs. Pusing nanti.
