Oleh Djenar Maesa Ayu
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/20/seni/3521368.htm
=======================

Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah
dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak
mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya
meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas
pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.

Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu
yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba.
Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak
tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga
listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.

Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap
semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun
tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak
pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah
kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas
terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si
empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat,
semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.

Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam.
Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata
matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak
perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka
yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya
inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika
butalah mata saya.

Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya
cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin
mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa
yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang
kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya.
Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di
ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang
itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan
hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan
melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling
mengeluarkan lenguhan.

Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu
meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi
di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih
perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan
itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara
ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika
gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah
menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika
tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang
sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan
kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya
tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap
mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa
itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang
menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di
dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini
yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram
gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.

Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman
memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat
dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti
bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu.
Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.

Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang?
Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan
saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi.
Tak terkecuali malam.

Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak
menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa
harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam
cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala
pagi dan malam yang tak asli.

Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah
pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa
pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan
datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan
apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir
dari yang tak asli.

Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu
kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus
kondom "ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR" yang kami robek sebelum
bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya
yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak.
Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah
asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin
mengulanginya kembali.

Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu
konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri.
Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan
durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang
terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat
saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan
pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama.
Saya jatuh cinta.

Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin
tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap
menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin
malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut
saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan
menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas
terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi
pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.

Mungkin…

Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya.
Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya
kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan
mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada
jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena
cinta telah membutakan kami berdua.

Mungkin…

Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan
saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan
malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami
yang tetap tak akan hadir.

Jakarta, 2 Oktober 2006 11:06 AM

Kirim email ke