Oleh Posman Sibuea
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/21/humaniora/3541526.htm
=====================

Belakangan ini muncul beragam kritik terhadap praktik pendidikan di
Indonesia. Salah satunya adalah proses pembelajaran yang berlangsung
hanya sekadar mengejar target pencapaian kurikulum. Hal ini telah
berlangsung lama dan menjadi proses yang membunuh pendidikan.

Fenomena ini menjadi topik diskusi aktual dalam rangkaian peringatan
Hari Pendidikan Nasional tahun ini untuk mengingatkan pendidikan di
Indonesia dibayang-bayangi perapuhan nilai.

Ketika proses pendidikan diarahkan semata mengejar pencapaian tujuan
kurikulum, institusi sekolah telah diposisikan sekadar pabrik yang
membidani lahirnya tukang yang ahli pada bidang tertentu. Perakitan
produk akhir demikian bermuara kepada proses matinya pendidikan.

Secara perlahan tapi pasti, sekolah direduksi menjadi semacam arena
pendidikan dan latihan (diklat) untuk mengondisikan lulusan siap pakai.

Bahwa sekolah mempersiapkan alumninya ke pasar kerja, jelas hal
penting. Namun, dalam tataran kebudayaan, tujuan ini tidak seluruhnya
benar karena lembaga pendidikan tidak semata pusat pemintaran intelektual.

Secara pedagogis adalah sesat jika keberhasilan kognitif terlalu
didewa-dewakan sebagai alat representasi prestasi siswa di sekolah dan
memarjinalisasi sistem pendidikan nilai yang berkaitan dengan budi
pekerti.

Semakin kabur

Revitalisasi pendidikan nilai yang dapat membentuk budi pekerti kian
penting dimaknai ketika dalam kehidupan masyarakat makin kabur
kriteria moral yang dapat digunakan sebagai acuan untuk berperilaku.

Ketika di sekolah terjadi penganiayaan fisik, lembaga pendidikan yang
menaburkan benih-benih demokratisasi ini bukan lagi tempat yang steril
dari segala macam bentuk kekerasan.

Kasus kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang
menewaskan praja Cliff Muntu dan penembakan di Virginia Tech
University, Amerika Serikat, yang menewaskan 33 orang—salah satunya
warga negara Indonesia, Partahi Mamora H Lumbantoruan—merupakan
serpihan contoh yang menyadarkan bahwa kekerasan kerap berulang di
sekolah.

Tak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara adikuasa seperti Amerika
Serikat yang mengedepankan kepentingan hak asasi manusia.

Kasus kekerasan fisik di IPDN amat memprihatinkan sebab terjadi di
lingkungan pendidikan tinggi, yang seharusnya menjadi tempat belajar
yang jauh dari tindak kekerasan.

Ironisnya, pendidikan yang diwarnai dengan tendangan bebas ke dada
mahasiswa dan pukulan bertubi-tubi mematikan ke ulu hati terjadi di
sekolah yang justru diadakan untuk menggodok para pemimpin bangsa di
masa datang.

Pertanyaannya, calon pemimpin seperti apa yang bisa diharapkan menetas
dari lembaga pendidikan yang mengedepankan otot ketimbang otak itu?

Kekerasan di dunia pendidikan tidak pernah surut. Benih kekerasan yang
disemaikan dalam media perpeloncoan, misalnya, terus diwariskan kepada
generasi berikutnya dan menjadi awan gelap yang menutupi pancaran
sinar pencerahan pendidikan nilai.

Meski perpeloncoan sudah dihapus sejak tahun 1995, kegiatan ini masih
terus bergulir seperti bola salju di sejumlah kampus untuk menumbuhkan
disiplin bagi mahasiswa baru.

Ada dugaan, perpeloncoan yang dikemas dalam bingkai pendidikan ala
militer yang bias acap menjadi pembenaran bagi senior untuk menindas
mahasiswa baru. Perpeloncoan dengan hukuman fisik bukan lagi situasi
yang insidentil yang dilakukan antara senior dan yunior, tetapi sudah
berubah menjadi suatu situasi massal yang sistematis dan terorganisasi
secara rapi.

Ujian nasional

Proses yang membunuh pendidikan, pemaknaannya terus bergerak melewati
ruang kekerasan fisik untuk menukik masuk ke dalam sistem kekerasan
bentuk lain.

Perilaku agresif untuk menekan atau menyerang dengan kata-kata
(bullying), seperti ejekan untuk mempermalukan, hinaan, tekanan, dan
fitnah, dengan maksud mendehumanisasi orang lain dapat disebut telah
melakukan tindak kekerasan dalam bentuk lain.

Pelakunya tidak hanya siswa/mahasiswa senior, tapi kita sebagai
orangtua (guru, dosen, pejabat, pemuka agama, elite politik, dan
lain-lain) dapat melakukan bullying terhadap orang lain.

Tindakan bullying sudah menjadi keseharian dalam lembaga pendidikan di
Tanah Air, mulai dari tingkat TK/SD hingga universitas. Korbannya
tidak lagi hanya siswa yang gantung diri karena sering diejek temannya
sebagai anak tukang bubur. Korban lain adalah siswa SLTP yang
meninggal beberapa waktu lalu di Semarang karena penyakit jantungnya
kambuh tiba-tiba saat mengikuti ujian nasional (UN) 2007.

Beban depresi berat bisa dialami peserta UN karena berada di bawah
tekanan dari pernyataan pemerintah mengenai UN sebagai penentu kelulusan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah menanggapi kritik yang mempersoalkan
kebijakan pemerintah mengenai UN sebagai penentu kelulusan. Wakil
Presiden mengatakan, dunia pendidikan tak ubahnya seperti produk
pakaian jadi. Konsumen tidak mempersoalkan bagaimana proses pembuatan
pakaian itu. Yang penting apakah setelah jadi, baju tersebut bagus
atau jelek.

Semangat mengutamakan produk akhir dalam tujuan pendidikan kini kian
mengental dengan terselenggaranya UN 2007—dengan sejumlah kecurangan
yang terjadi—sebagai penentu kelulusan dan masuknya bimbingan tes ke
sekolah lewat tender dengan alasan untuk mengatasi kepanikan siswa
dalam menghadapi UN.

Itu artinya, proses yang membunuh pendidikan tetap berlangsung tanpa
bisa dihentikan karena UN telah berhasil mereduksi esensi dari makna
belajar.

Dunia pendidikan kini berduka. Praktik pendidikan diperlakukan tak
ubahnya seperti dunia persilatan yang mengutamakan otot dan dunia
perdagangan yang mementingkan produk akhir yang bernilai ekonomis.
Bagaimana produk itu dibuat seolah bukan urusan pejabat yang berwenang.

Pada masa datang, proses pendidikan di sekolah tidak lagi semata
pemintaran intelektual (kognisi), tetapi patut diarahkan juga kepada
pembentukan karakter (afeksi) yang menetaskan manusia berbudi pekerti
yang mencerminkan pribadi dengan integritas moral yang tinggi guna
melahirkan pemikir untuk menakhodai biduk bangsa ini.

Posman Sibuea Lektor Kepala di Unika St Thomas, Medan



Kirim email ke