Mas Sutarto, topik awal sebenarnya membahas lapangan kerja yang semakin sempit
dan tidak mampu menyerap ledakan angkatan kerja baru (baik sarjana maupun bukan
sarjana) dan angkatan kerja lama (korban PHK), masih ada benang merahnya dengan
topik "Sarjana Teknik Nuklir Jualan Es Lilin" yang pernah ramai dibahas di
Forum ini.
Mengenai supermarket atau hipermarket yang sepi di hari biasa, saya
sependapat dengan anda. Sebenarnya sepi ini relatif, karena pada jam istirahat
siang, pasti food courtnya penuh sesak, coba saja iseng-iseng survei ke ITC,
Senayan City, PIM dll. Artinya bisnis makanan relatif kebal terhadap krisis
ekonomi dan dapat membuka lapangan kerja yang cukup prospektif. Repotnya
anak-anak muda kita terlanjur mempunyai image kalau kerja harus di kantor yang
mewah, ber-AC dll. Makanya terjadi kondisi seperti saat ini, Demand lebih kecil
dari Supply, sehingga "harga" tenaga kerja kita terjun bebas.
Usul saya tentang penghapusan fiskal bagi tenaga kerja Indonesia yang ingin
bekerja di luar negri, rupanya tidak sendirian. Setidaknya ada ide serupa, yang
dilontarkan oleh Adrian Panggabean (baca KONTAN, Minggu II Mei 2007, hal. 36).
Mari kita tunggu langkah-langkah selanjutnya dari Regulator negri ini.
Salam.
Sutarto Alimoeso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menurut saya, tidak semua yang pak GG sampaikan Benar. Memang benar
Kondisi ekonomi Mikro Indonesia Mengenaskan, Pengangguran meningkat, Pengemis +
Gelandangan + Anak Jalanan merajarela di setiap sudut, bis kota, lampu merah,
Kolong Jembatan, Stasiun. Siapa yang harus bertanggung Jawab ?? Sebaiknya
Pemerintah mengambil langkah yang Konkrit untuk menekan dan mengatasi masalah
multi dimensi ini. Korupsi telah mendarah daging, jurang pemisah si Kaya dan Si
Miskin terbuka lebar. Mobil- mobil merah berkeliaran di jalanan. Siapa yang
Pantas di salahkan ?? Menurut hemat saya kuncinya adalah Bersihkan Aparat
Pemerintahan dari KKN Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, Birokrasi yang
bertele-tele. Coba kita perhatikan yang ini bukan rahasia umum kekakyaan
Pejabat kita atau pejabat rendahan setingkat kabag di sebuah instansi
Pemerintah sudah Ruuuuar biasa asset nya. Dari mana Asalnya yang tahu persis
hanya yang di atas.
Tentang sepinya supermarket dan Hipermarket seperti yang Pak GG sampaikan,
Supermarket mana yang pak GG Kunjungi Indomaret yang deket dengan Pemukiman
penduduk??Kalau itu ya, tentu saja sedikit. Cobalah sekali waktu jalan-jalan ke
Mall yang terkemuka, seperti Senayan City, Plasa senayan, STC, PIM,MTA,PI,
CITOS,Citraland dll akan di jumpai banyak pengunjung dan mall tersebut tidak
pernah sepi. Ya emang sih tidak seramai saat akhir pekan. menjelang lebaran,
natal atau pun tahun baru kalau itu yang menjadi tolok ukur pak GG.
Mengenai acara TV Deal or No Deal, Who Want to be Millionaire dan Super Deal 2
Milyar yang di hentikan menurut Pak GG, Coba kita lihat dari sisi positif nya,
untuk bisa tampil menjadi kontestan acara tersebut perlu usaha keras dan
melalui proses seleksi yang ketat sebelum acara tersebut di tayang. Setiap
kontestan harus menunggu 4 7 bulan, 1 tahun atau bahkan tidak di panggil
untuk proses seleksi. Mereka tampil butuh usaha keras dan perjuangan. Sisi lain
Pemasukan dari Iklan, pembuat Iklan, SDM, bukankah itu menyeraptenaga keras dan
tentunya Pajak buat Pemerintah.
Yang perlu di hentikan itu Perjalanan Dinas yang tidak jelas para anggota DPR
ke Luar Negeri yang di katakana studi Banding What For ??
SUTARTO ALIMOESO