Oleh Mochtar Buchori
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/23/opini/3542855.htm
======================

Apa yang kita butuhkan saat ini? Pemimpin baru atau kepemimpinan baru?
New leaders atau new leadership?

Mungkin dua-duanya. Namun, yang pasti kita butuhkan ialah kepemimpinan
baru. Menurut saya, kita butuh new leadership. Kepemimpinan baru
seperti apa yang diharapkan? Kepemimpinan baru yang mampu memberi
teladan, yang mampu menggalang tekad rakyat, dan mampu memahami serta
mengikuti aspirasi rakyat. Ini merupakan jenis kepemimpinan yang
berbeda dari jenis kepemimpinan yang ada kini, yaitu kepemimpinan yang
mementingkan kepentingan kelompok pemimpin dan menggunakan simpati
rakyat sebagai landasan untuk menopang kepentingan pemimpin.

Pemimpin adalah pendidik

Jenis kepemimpinan baru ini saya jabarkan dari pesan almarhum Ki
Hadjar Dewantara, yaitu agar para pendidik selalu sung tulada (memberi
teladan) bila sedang ada di depan, selalu mangun karsa (membina tekad
bersama) bila sedang ada di tengah-tengah para murid, dan selalu tut
wuri handayani (mengikuti sambil mengarahkan) bila sedang ada di belakang.

Dalam pandangan saya, fungsi pemimpin sama dengan fungsi pendidik.
Baik pemimpin maupun pendidik harus melaksanakan tugas membimbing.

Dalam kosakata modern, jenis kepemimpinan ini disebut transforming
leadership, yaitu kepemimpinan yang dapat melahirkan transformasi atau
perubahan yang mendasar dalam masyarakat kita. Kiranya, inilah yang
kita dambakan bersama. Dan yang kita inginkan bersama ialah bahwa pada
suatu saat, pada masa depan, masyarakat kita menjadi lebih bersih dari
korupsi, pemimpin-pemimpin kita menjadi lebih jujur, dan birokrasi
kita menjadi lebih cakap.

Bilamana hal-hal ini benar-benar terjadi, berarti dalam masyarakat
kita telah terjadi perubahan yang bersifat mendasar. Perubahan semacam
ini hanya akan terjadi jika ada kepemimpinan yang bersifat
transforming, yaitu kepemimpinan yang berwatak sung tulada, mangun
karsa, dan tut wuri handayani.

Interaksi pemimpin-pengikut

Dalam pandangan saya, perbedaan pokok antara kepemimpinan yang
bersifat transforming dan kepemimpinan yang ada kini terletak pada
sifat hubungan antara pemimpin dan pengikut.

Kepemimpinan yang mampu memberi teladan, mampu membina tekad kolektif,
mampu mengikuti dan mengendalikan itu mensyaratkan adanya kemampuan
pemimpin memahami apa yang sebenarnya ada dalam hati penganut.

Yang kita lihat kini, para pemimpin tidak berusaha memahami apa yang
sebenarnya diinginkan pengikutnya. Yang mereka usahakan ialah hal yang
sebaliknya, yaitu agar para pengikut menerima, membenarkan, dan
mendukung apa yang dikehendaki para pemimpin.

Jadi, kini bukan para pemimpin yang berusaha ngemong rakyat, tetapi
rakyat yang diminta ngemong para pemimpin. Dengan mentalitas pemimpin
yang ada kini, tidak akan muncul kepemimpinan yang mampu mendatangkan
perubahan mendasar dalam masyarakat. Selama jenis kepemimpinan yang
ada kini tetap dipertahankan, kita tidak usah berharap datangnya
perubahan mendasar dalam masyarakat kita. Jangan mengharap kedatangan
transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat kita.

Menunggu pemimpin baru

Dari mana para pemimpin jenis baru ini akan datang? Dari generasi
muda. Dan kata "generasi muda" memiliki cakupan makna amat luas.
Mungkin yang muda-muda di antara para pemimpin sekarang akan ada yang
mampu berubah menjadi pemimpin yang memahami semangat zaman, dan
berusaha mengubah gaya kepemimpinannya sesuai tuntutan zaman.

Namun, dari para pemimpin senior yang ada kini, rasanya sulit
diharapkan bahwa di antara mereka akan banyak yang bertobat (to
repent) dan mampu mengonversikan dirinya menjadi dari jenis pemimpin
lama—yaitu pemimpin transaksional—ke jenis pemimpin baru, pemimpin
transformasional

Dari mana para pemimpin jenis baru ini diharapkan datang? Dari
generasi yang lebih muda, yang kini masih di bangku sekolah menengah
atau kuliah di perguruan tinggi. Di antara generasi muda ini, banyak
yang kecewa terhadap kepemimpinan serta pemimpin-pemimpin yang ada
dewasa ini. Lapisan-lapisan generasi muda ini merupakan sumber bagi
para calon pemimpin jenis baru. Jika bangsa ini benar-benar
menginginkan kedatangan kepemimpinan serta para pemimpin jenis baru
pada masa datang, harus ada pihak-pihak yang menggarap sumber ini.
Tanpa digarap, sumber ini tidak akan menghasilkan apa pun. Yang akan
dihasilkan ialah para pemimpin muda dari jenis lama.

Diperlukan usaha

Transisi dari kepemimpinan transaksional ke kepemimpinan
transformasional tidak akan datang dengan sendirinya. Dibutuhkan
usaha-usaha yang dapat secara efektif mengajak masyarakat untuk secara
sadar menolak kepemimpinan yang ada sekarang, yang hanya akan membawa
bangsa kita ke kehancuran.

Juga dibutuhkan langkah-langkah yang jelas mengatakan kepada seluruh
bangsa, bahwa kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu mendatangkan
berbagai perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat. Suara menolak
kepemimpinan lama dan memanggil kepemimpinan baru ini harus dapat
didengar seluruh bangsa, terutama generasi muda. Jika generasi tua,
tidak dapat atau tidak mau mendengar, biarkan saja. Yang menentukan
masa depan bukan generasi tua, melainkan generasi dewasa yang belum
begitu tua dan generasi muda.

Masalahnya kini, siapa yang akan menyuarakan hal ini? Siapa yang
dengan jelas dan efektif dapat berkata, "Kita tidak butuh kepemimpinan
jenis transaksional ini. Kita butuh kepemimpinan jenis baru, yaitu
kepemimpinan transformasional. Kita butuh pemimpin yang mampu memberi
teladan, mampu bersama rakyat membina tekad, dan mampu memahami serta
mengikuti aspirasi rakyat."

Ini kedengaran seperti ajakan memulai revolusi. Namun, ini hanya
ajakan untuk menyelamatkan bangsa dari tirani egoisme politik yang
memanfaatkan naifitas politik rakyat.

Mochtar Buchori Pendidik 

Kirim email ke