Mas Agus, menurut saya, sejarah selalu berulang dengan sendirinya.
Dahulu, ketika Perang Vietnam dimulai, rakyat AS dengan antusias mendukung
pengiriman tentara AS. Namun pada akhirnya, perang yang berlarut-larut membuat
rakyat AS bosan, marah dan lelah, dan justru berbalik menentang Perang Vietnam
(akhirnya tentara AS terpaksa ditarik mundur dari sana).
Saat ini tentara AS berperang di berbagai front di Asia, dengan kasus yang
menonjol di Afghanistan dan Irak.
Perang "melawan teroris" yang gencar dikampanyekan President Bush pada
awalnya mendapat dukungan rakyat AS yang begitu terpukul dengan tragedi 9/11.
Namun saat ini trend yang berkembang di AS adalah, rakyat AS mulai menuntut
penarikan mundur tentara AS, khususnya di Irak.
Kalau saja Senator Clinton (Hillary) dari Demokrat akhirnya terpilih sebagai
President, saya berpendapat, prioritas pertama yang akan dijalankannya adalah
menarik tentara AS di Irak. Agenda besar yang sudah menanti adalah "Perang
Ekonomi", melawan raksasa dari Timur, China.
Salam.
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Oleh Bara Hasibuan
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/25/opini/3542879.htm
=====================
Setelah ditekan bertubi-tubi, akhirnya Paul Wolfowitz memutuskan untuk
mundur dari jabatan Presiden Bank Dunia, Jumat 18 Mei.
Secara kasatmata apa yang terjadi pada Wolfowitz mungkin hanya dilihat
sebagai manifestasi pelanggaran kode etik internal organisasi. Namun,
kasus ini sebenarnya memiliki arti lebih signifikan, yaitu jatuhnya
korban dari proses public humiliation yang dialami kaum
neo-conservatives atau sering disebut neo- cons, di mana Wolfowitz
merupakan simbol intelektualnya.
Amat berpengaruh
Kaum neo-cons sering disebut "cabal" (bisa diartikan kelompok yang
mempunyai tujuan khusus) yang amat berpengaruh dalam Pemerintahan Bush
dan berperan penting mendorong perubahan gaya kebijakan luar negeri AS
menjadi assertive dan unilateral. Mereka dinilai berperan besar di
balik keputusan untuk menyerang Irak. Seiring kian buruknya situasi di
Irak, kaum neo-cons juga mengalami perubahan nasib, dari ditakuti dan
di-respect menjadi termarjinalisasi.
Sebelum ini, L Lewis Libby, sesama neo-cons, orang dekat Wolfowitz dan
pernah menjabat Kepala Staf Kantor Wakil Presiden, dinyatakan bersalah
oleh pengadilan karena terbukti berbohong di bawah sumpah saat
diperiksa dalam kasus pembocoran agen CIA, Valerie Pamel.
Sementara itu, Donald Rumsfeld, patron neo-cons, dipecat dari jabatan
Menteri Pertahanan setelah kekacauan di Irak dianggap sebagai penyebab
utama kekalahan Partai Republik di pemilihan sela November 2006.
Namun, humiliation yang paling menyakitkan bagi kaum neo- cons adalah
kian kacaunya proyek ambisius mereka di Irak yang sudah salah besar
dari awalnya.
Dari masa sebelum perang, misalnya, kelihatan sekali alasan untuk
menyerang Irak amat dipaksakan. Pemerintahan Bush tidak bisa
menunjukkan bukti bahwa Irak masih menyimpan senjata pemusnah massal.
Bahkan, sebetulnya, saat itu Dr Hans Blinx, Utusan Khusus Sekjen PBB
untuk Irak, sudah menyimpulkan, Irak sudah menghancurkan senjata
pemusnah massalnya di akhir 1990-an. Kini, ketika tidak ditemukan
senjata pemusnah massal di Irak, susah untuk tidak menyimpulkan bahwa
pemerintahan Bush memanipulasi laporan intelijen atas Irak saat itu.
Demi menguatkan rationale untuk menyerang Irak, dari berbagai retorika
Bush dan Cheney, pemerintahan Bush juga kelihatan memanipulasi rakyat
Amerika untuk percaya bahwa Saddam Hussein mempunyai peran di balik
peristiwa 11 September. Usaha itu terbukti efektif karena mayoritas
rakyat Amerika saat itu percaya Saddam ikut bertanggung jawab atas
serangan 11 September itu.
Bukan hanya soal justifikasi, eksekusi dari perang itu sendiri juga
sudah salah dari awal. Rumsfeld dan Wolfowitz percaya, untuk
mematahkan perlawanan pasukan Irak tidak dibutuhkan jumlah tentara
yang banyak. (Rumsfeld, khususnya, memang ingin menggunakan invasi ke
Irak sebagai eksperimen pertama atas proyeknya untuk membuat pasukan
AS lebih ramping).
Ketika Kepala Staf Angkatan Darat Erick Shinseki mengatakan di depan
Kongres, dibutuhkan sedikitnya 300.000 tentara untuk invasi awal,
Wolfowitz merespons dengan mengatakan, jumlah itu wildly off the mark
(amat melenceng). Tidak lama setelah itu, Shinseki pun dicopot.
Memang betul, dengan jumlah tentara yang minim, pasukan AS berhasil
melumpuhkan pasukan Saddam Hussein dalam waktu relatif singkat yang
kemudian mendorong Bush secara prematur mengumumkan, mission
accomplished (misi tercapai).
Namun, ternyata misi sama sekali tidak tercapai karena kemenangan
militer AS diikuti kekacauan dan perang saudara yang berlangsung
hingga kini. Kaum neo-cons menemukan keterbatasan dari kekuasaan
Amerika. Winning the peace tidak semudah winning the war.
Didiskreditkan
Ketidakbecusan dari eksekusi Perang Irak ini bukan hanya membuat kaum
neo-cons didiskreditkan orang-orang luar, tetapi mereka juga diserang
sesama mereka sendiri.
Richard Perle, tokoh neo-cons yang pernah duduk di dewan penasihat
Departemen Pertahanan, mengatakan, jika dia tahu bahwa invasi akan
sekacau itu, mungkin ia akan menentangnya. Tokoh neo-con lain bahkan
lebih keras mengatakan kepada majalah Vanity Fair, tim yang
mengeksekusi Perang Irak merupakan salah satu yang paling tak kompeten
dalam sejarah kontemporer AS.
Yang juga cukup mengejutkan, tokoh neo-con yang juga intelektual
ternama penulis buku The End of History and the Last Man, Francis
Fukuyama (yang juga pernah menjadi rekan di Wolfowitz di School of
Advanced International Studies, Johns Hopkins University), mengkritik
habis-habisan Perang Irak di bukunya yang berjudul America at the
Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy.
Dalam buku itu Fukuyama mengatakan bahwa dua kesalahan utama
pemerintahan Bush adalah meng-underestimate level kebencian rakyat
Irak atas benevolent hegemony AS dan sikap optimistis yang berlebihan
bahwa social engineering dari nilai-nilai Barat dapat diterapkan di
Irak dan Timur Tengah secara keseluruhan.
Poin terakhir yang diungkap Fukuyama inilah yang sebetulnya merupakan
pukulan terbesar bagi kaum neo-cons. Selain sebagai manifestasi dari
keharusan AS untuk menggunakan preemptive strike terhadap suatu
ancaman, bagi mereka Perang Irak juga memiliki nilai lebih strategis:
awal dari usaha mentransformasi seluruh kawasan Timur Tengah menjadi
demokratis.
Berujung kehancuran
Di sini lagi-lagi mereka menemukan keterbatasan dari kekuasaan
Amerika. Bukan hanya menanamkan demokrasi ala Barat terbukti amat
sulit karena karakter dari masyarakat di sana yang tidak siap. Seperti
dikatakan Fukuyama, Irak setelah Saddam Hussein ternyata mengandung
kebencian yang dalam atas AS.
Pada akhirnya, kaum neo-cons menemukan kenyataan, tindakan preemptive
untuk menghadapi ancaman dan misi penyebaran demokrasi merupakan dua
hal yang amat berbeda dan susah untuk direkonsiliasikan.
Yang jelas, tragedi di Irak serta berakhirnya era neo-cons merupakan
pelajaran bahwa penggunaan kekuasaan secara berlebihan dan berdasarkan
hubris atau arogansi yang berlebihan akhirnya hanya akan membawa
kehancuran.
Apa yang terjadi pada Wolfowitz ini sangat disayangkan karena selain
ia merupakan a great friend of Indonesia, ia juga mempunyai intensi
tulus untuk memberantas korupsi dan memerangi kemiskinan.
Bara Hasibuan Congressional Fellow 2002-2003
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]