http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/27/utama/3559688.htm
=====================

Jakarta, Kompas - Di tengah arus perubahan dan transformasi kehidupan
berbangsa dan bernegara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak
segenap bangsa Indonesia untuk membangun budaya damai. Untuk itu,
Presiden mengajak untuk meninggalkan sikap yang tidak mendidik dan
miskin etika.

Sebaliknya, ia mengajak untuk membangun sikap sportif dan menghargai
pencapaian orang lain meski itu kecil sekaligus tetap memelihara sikap
kritis serta peduli. Presiden juga mengajak untuk bersikap optimistis
serta membangun keuletan dan kesediaan untuk bekerja keras.

Ajakan Presiden tersebut disampaikan saat memberikan sambutan dalam
puncak peringatan 200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta, Sabtu (26/5) di
Istora Senayan, Jakarta.

Hadir dalam acara itu, antara lain, adalah Menteri Agama Maftuh
Basyuni, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri ESDM Purnomo
Yusgiantoro, Uskup Agung Jakarta Mgr Julius Kardinal Dharmaatmadja SJ,
serta para uskup se-Indonesia.

Presiden menjelaskan, Indonesia adalah negara besar. "Oleh karena itu,
kita harus mampu membangun peradaban yang besar," tuturnya.

Selain ikut serta dalam penguasaan ilmu pengetahuan, Presiden juga
meminta agar warga semakin meningkatkan kekuatan akal dan budi,
membangun kerukunan dan toleransi, serta mengembangkan keharmonisan.
Untuk itu, ia mengajak setiap tokoh masyarakat untuk berperan optimal.
"Untuk membangun karakter umat yang tangguh," kata Presiden lagi.

Menurut Presiden, upaya tersebut menjadi penting karena misi besar
bangsa Indonesia, yaitu untuk maju dan sejahtera, ditentukan oleh
karakter bangsa Indonesia itu sendiri.

Kekuatan moral

Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengajak umat Katolik di Indonesia
untuk selalu ikut serta membangun demokrasi, keadilan, dan
kesejahteraan rakyat.

Dalam sambutannya, Uskup Agung Jakarta Mgr Julius Kardinal
Dharmaatmadja SJ mengatakan, Gereja senantiasa berdiri sebagai
kekuatan moral yang dibangun dalam terang iman, kejujuran, dan keadilan.

Hal itu tak hanya diwujudkan untuk mencegah kedosaan, tetapi juga
mengatasi kemiskinan, kebodohan, serta keterbelakangan.

Lebih dari itu, Gereja diutus untuk memuliakan Tuhan dan juga
memuliakan manusia. "Dan memuliakan Tuhan melalui memuliakan manusia,"
tuturnya.

Oleh karena itu, Gereja, menurut dia, selalu siap sedia dan bersedia
melakukan tugas-tugas itu karena untuk itu pulalah Gereja dan umatnya
dipanggil.

"Mencintai Allah dan sesama sebagai hukum yang satu. Setia kepada
Tuhan dan makin berbakti kepada bangsa dan negara, semoga dengan
kehadirannya Gereja menjadi berkah bagi semua," tegas Dharmaatmadja.

Acara yang diawali dengan misa bersama tersebut juga dimeriahkan
dengan sebuah pagelaran seni bertajuk "Sabda Menjadi Kehidupan". (JOS) 

Kirim email ke