Oleh BRE REDANA
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/27/kehidupan/3557922.htm
=======================

Di zaman ini, alangkah susah membedakan mana berita mana iklan. Atau
lebih dalam lagi, mana kenyataan atau "kasunyatan", mana pula
kenyataan gadungan hasil manipulasi iklan dan media massa. Inikah
"junk-image world" alias dunia citra sampah seperti disebut seorang
sutradara Amerika?

Berapa banyak orang terkecoh ketika sebuah bank mengiklankan salah
satu produk layanannya, yakni tabungan yang dijanjikan bakal
memberikan nasabah punya kesempatan memenangkan hadiah mobil? Iklan
itu diawali dengan citra seperti siaran berita di semua stasiun
televisi, yang memberitakan sebuah mobil hinggap di atap rumah di
Simalingkar Medan, nyangkut di sebuah proyek bangunan di Surabaya,
terjatuh dari langit di pantai Kuta, dan lain-lain. Pesan tersebut
kemudian diperjelas: bank itu sedang mengobral hadiah.

Atau marilah kita bongkar persepsi pada diri kita sendiri, dari
kosakata yang merajalela di kota besar, yakni "sukses". Benarkah
"sukses" itu dikarenakan memiliki mobil kelas premium bikinan Eropa?
Bagaimana kalau mobil itu didapat dari utang? Kalau begitu sukses ngutang?

Dalam hal ini jelas, bukan hanya iklan yang punya banyak peranan dalam
mengkonfigurasi cara berpikir dan dunia masa kini. Tak kalah
berperannya, media massa pada umumnya yang mereproduksi dan
mengamplifikasi keluasan hidup yang disempitkan menjadi urusan produk,
urusan barang, urusan gaya.

Setelah banjir dan hujan

Seperti dikatakan Dr Gadis Arivia, pengajar Jurusan Filsafat UI, tidak
ada yang salah dengan iklan. Demikianlah adanya, sejak dari
perencanaannya, dunia iklan melakukan riset memadai mengenai perilaku
konsumen, impuls-impulsnya, dan itu yang akan dieksploitasi dalam
strategi pengiklanan produk ataupun jasa. Bahasa iklan memang bahasa
rayuan, menjustifikasi dan mendorong impuls mengonsumsi, towo bahasa
Jawa-nya—berbeda dari taruhlah bahasa jurnalistik, yang mestinya
mempertanyakan, mengusik, menggugat.

Hanya saja, sudahlah, yang terakhir itu tidak usah dilanjutkan panjang
lebar. Kita lihat saja bagaimana iklan yang menggambarkan mobil
"jatuh" di mana-mana tadi dirancang. Iklan itu bikinan biro iklan
ternama, Matari Advertising. IGA Henny Hendraeni, Agung P Suhandjaja,
dan Teuku Sultan H Azwar, masing-masing Account Group Director,
Associate Creative Director, dan Account Manager perusahaan itu,
menuturkan kepada Kompas, bagaimana iklan ini dikonsepkan sampai
kemudian dieksekusi.

Mereka melihat, untuk undian tabungan, sebelum ini telah bercokol
bank-bank lain, yang iklannya sudah tertancap di benak masyarakat,
dengan asosiasi "banjir hadiah", "hujan hadiah", dan lain-lain. Yang
belum dimanfaatkan, "angin puting beliung", yang kalau dikaitkan
dengan gejala keserentakan, tak kalah hebatnya dengan "banjir" ataupun
"hujan".

"Setelah konsep ketemu, tinggal mengeksekusi. Harus diciptakan nama.
Puting beliung menjadi 'untung beliung', itu sesuai dengan
pertimbangan rhyming (rima, persamaan bunyi pada akhir kata—Red),"
kata Agung Suhandjaja.

Mengenai puting beliung atau untung beliung ini sebagai konsep, mereka
menjelaskan, itu semacam hal yang bisa mengubah sesuatu secara
spontan. "Dari tak punya mobil menjadi punya mobil," kata Henny.
"Orang kita kan suka yang serba instan...," tambahnya.

Impuls, sikap dasar masyarakat yang kiranya sudah dipahami banyak
orang, yakni sikap serba instan, percaya keajaiban, ingin apa-apa
serba cepat, itulah yang dieksploitasi dunia iklan. Makanya, dalam
urusan rezeki ini muncul istilah seperti "gebyar", "durian runtuh",
"fiesta", dan lain-lain. Pokoknya, enak belaka, ajaib belaka, mendadak
belaka.

Pernyataan sukses

Strategi promosi tentu tak terbatas pada pemberian efek visual, tetapi
juga pengalaman. Mobil mewah BMW pekan lalu menyelenggarakan acara
bertajuk "A Night Under the Stars with BMW". Di Parkir Timur Senayan
yang dijadikan tempat acara, didirikan paviliun bercita rasa modern
dengan bahan logam dan kaca. Di samping acara cocktail minum-minum,
disediakan 30 mobil terbaru, mulai BMW Seri 3, 5, 7, dan X-Series,
yang beberapa di antaranya dimanfaatkan untuk uji coba bagi yang berminat.

"Kami ingin pelanggan kami dapat memahami merek BMW secara personal.
Seseorang tidak dapat memahami arti mengemudi BMW hanya dengan melihat
iklan, brosur, dan mengunjungi showroom kami. Mereka harus duduk di
belakang kemudi untuk menjalin hubungan dan pemahaman dengan BMW,"
kata Presiden Direktur BMW Indonesia Joerg Kelling.

Kelling punya pengalaman menangani BMW di berbagai belahan dunia,
termasuk di India dan Timur Tengah. "Di negara-negara yang sedang
berkembang, termasuk Indonesia, orang membeli merek tertentu sebagai
sebuah pernyataan sukses dan mencerminkan gaya hidup mereka. Orang
sukses membeli merek yang sukses," katanya.

Ia sempat berkomentar mengenai perilaku media di berbagai negara.
"Wartawan dari negara lain sangat agresif. Mereka bertanya sejuta
pertanyaan yang sangat spesifik dari segala aspek, mulai dari hal-hal
teknis sampai strategi masa depan. Saya tidak mengalaminya di sini,"
katanya. Mungkin, banyak wartawan di sini merasa puas dengan mengutip
brosur. Sementara sebuah produk sebetulnya lebih ingin bermain pada
tataran asosiasi, tataran imajinasi.

Bukan rumah sakit

Pada tataran imajinasi ini, sudah lama kita kenal misalnya produk
sabun mandi Lux, yang di Indonesia deretan artis pernah menjadi
ikonnya, mulai Widyawati, Sophia Latjuba, Tamara Blezynski, sampai
Luna Maya. Sementara bintang film luar negeri, tersebutlah dari Ursula
Andress, Claudia Cardinalle yang terasa masih di mata sexy-nya dalam
film-film koboi zaman dulu, hingga bintang Bollywood, Aishwara Ray.

"Lux ingin mengangkat dan menjadikan mereka sebagai role model untuk
perempuan lainnya untuk berani menggali dan menampilkan potensi
kecantikan," kata David Michum, Senior Brand Manager Lux.

Apakah dengan menggunakan sabun mandi itu, seorang perempuan lalu
merasa seperti bintang film? Atau lelaki merasa seperti dielus bintang
film ketika memakai sabun itu?

Kognisi kitalah yang seperti dikatakan oleh sutradara terkenal Martin
Scorsese terus-menerus digempur dengan citra di masa ini. "Citra dan
film menjadi bagian a junk-image world (dunia citra sampah), a
junk-image society (masyarakat citra sampah)," katanya. Scorsese
diwawancarai majalah Rolling Stone dalam edisi ulang tahun ke-40
majalah yang memihak generasi 60-an itu, bersama ikon-ikon tahun
1960-an lain dari Bob Dylan, Jimmy Carter, Patti Smith, sampai Michael
Moore. Suara generasi counter culture itu umumnya menunjukkan
skeptismenya terhadap gejala dunia konsumsi masa kini.

Hanya saja, apa boleh buat. Zaman memang telah berubah. Beberapa waktu
lalu, di pusat pembelanjaan Senayan City, di siang bolong digelar
acara untuk mempromosikan produk kesehatan berupa alat pelangsing
tubuh/kursi pijat, dengan model Artika Sari Dewi, Putri Indonesia
2005, sebagai ikon produk berupa sabuk peramping tubuh merek uZap.

Mengapa produk kesehatan dipromosikan di mal? "Produk kami adalah alat
kesehatan yang berkaitan dengan gaya hidup. Jadi, tidak berhubungan
dengan rumah sakit, ha-ha...," kata Tedy Marco, Business Development
Manager OSIM—merek asal Singapura yang menjual produk itu.

Dia sadar sepenuhnya, orang ke mal tidak untuk beli kursi pijat,
melainkan untuk jalan-jalan, makan, atau keperluan lain. "We sell what
we want to sell," katanya. "Bukan what consumers want to buy,"
tambahnya. Maksudnya, dia menjual sesuatu yang dia ingin jual, bukan
yang konsumen ingin beli.

Di zaman ini, keinginan itulah yang didorong, bukan kebutuhan. Kembali
mengutip Scorsese, bukan kita memakan produk-produk konsumen, tetapi
katanya, "kitalah yang dimakan oleh produk-produk". Maka, sebaiknya
bersikap bijak dan hati-hatilah. (DAHONO FITRIANTO/ FRANS SARTONO) 

Kirim email ke