Menarik juga bahwa wacana ini dilontarkan oleh seseorang yang juga bisa membaca tarot. Saya sendiri tidak ingin mencari pencerahan lewat kartu Tarot, tapi saya tertarik membaca artikel itu dan sempat menggaris bawahi dari artikel itu adanya keinginan untuk memasukkan Tarot menjadi bagian dari studi psikologi.
Pandangan yang berbeda sangat menarik untuk di ulas sebenarnya supaya ada sudut pandang berbeda yang bisa menyeimbangkan pandangan. Maklum banyak mahasiswa muda yang bisa jadi membaca artikel tersebut dan bisa menjadi fanatik terhadap tarot. Pencerahan diri memang bagian dari perkembangan pribadi, soal ada yang mengalami pencerahan itu hak pribadi. Tugas media mencegah agar tidak terjadi pembentukan opini masyarakat hanya dari satu sisi. Salam, Retty --- In [email protected], leonardo rimba <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Koran Kompas hari ini, Minggu, 27 Mei, 2007, > menurunkan tulisan berjudul "Menemukan Pencerahan di > Kartu". Di artikel yang a.l. ditulis oleh Maria > Hartiningsih itu diceritakan pengalaman seorang > pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, > Dr. Ruby yang, konon, menemukan pencerahan di > kartu-kartu tarot. > > Kesan saya: What a nonsense!> > Ya, saya kenal dengan Mbak Ruby yang menawarkan kepada > Vincent Liong untuk menggunakan tempat di Gedung Pasca > Sarjana, Universitas Sahid, untuk pertama-kali > mempresentasikan apa yang sekarang dikenal dengan nama > Kompatiologi. Itu sekitar satu tahun yang lalu. Saya > ingat bahwa Mang Iyus (Yuswan Setiawan) juga hadir. > Saya duduk di depan, membantu Vincent untuk tetap > tegar dan tidak nervous untuk melakukan presentasi di > depan sekitar 20 orang yang hadir saat itu, termasuk > seorang wartawati yang akhirnya melahirkan tulisan > tentang acara kami hari itu di koran the Jakarta Post. > > Walaupun belum pernah menulis sesuatu tentangnya > sebelumnya, tanpa ragu-ragu saya akan menuliskan di > kesempatan ini bahwa Mbak Ruby termasuk aliran > "prenungan" yang tidak akan membawa pengikutnya > kemana-mana selain menipu dirinya sendiri. > > What is pencerahan sebenarnya? Apakah pencerahan yang > dicari-carinya itu, apalagi yang dicari-cari melalui > kartu tarot yang, konon, dicabut satu hari satu lembar > dan dipelototi untuk diserap sari pencerahannya. Sari > pencerahan apa? Nothing could be found there. > > It's her problem, though. Kalau dia bisa menemukan > ketenangan diri yang semu di kartu-kartu itu,... then > go on, it's her life. Kartu is tetap kartu, walaupun > namanya tarot. Dan, menurut saya, sejuta jenis kartu > tarot yang tiap jenisnya berjumlah 78 lembar itu tidak > akan membawa pencerahan bagi seorangpun. Never. > > Tidak pernah dan tidak akan pernah. > > Itulah juga alasan sebenarnya kenapa saya harus > memisahkan diri dari Ani Sekarningsih yang sangat > berwatak manipulatif. Mbak Ruby yang pengajar di > Fakultas Psikologi UI itu adalah muridnya Ani > Sekarningsih yang tersohor dengan metode pelototan > kartu every day. > > Pelototi dan meditasikan, that's her dictum. > > Dengan metode pelototannya itu, Ani Sekarningsih tidak > pernah bisa menguasai tarot, not even its > psychological aspect. And that notwithstanding the > fact that Ani Sekarningsih tetap mengasuh kolom ramal > meramal tarot di salah satu harian. > > Dan inkompetensi itu diwariskannya kepada Mbak Ruby > yang psikolog... Psikolog kok bisa dikadalin sama > seorang penulis novel yang berhasrat untuk diakui > sebagai seorang paranormal? Kok bisa? > > Ya, bisa saja. Incompetence breeds incompetence. And > it is imperative that I make a statement here that > menemukan pencerahan di kartu tarot seperti yang > diulas oleh Kompas hari ini is nonsense. Supaya saya > tidak diasosiasikan dengan metode-metode menyesakkan > dada seperti itu. Supaya saya tidak dianggap sama > seperti kelompok yang menutup kuping dan matanya > sendiri itu. > > Sudah jelas mereka tahu bahwa kartu-kartu itu means > nothing. Simbol-simbol dalam kartu itu juga nonsense > kalau mereka tidak bisa melihat korelasinya dengan > dunia realita. Realitas kesadaran (consciousness) dan > realita alam bawah sadar (subconsciousness)... But > still, it wouldn't have stopped them from expecting > miracles from the cards. Enlightenment??? Cards??? > > Tentu saja mereka bisa bilang bahwa mereka juga > menggunakan alam bawah sadar. Ya, bisa saja. Tetapi, > opo buktine? Buktinya apa? > > Kalau benar mereka menggunakan alam bawah sadar dengan > prinsip-prinsip universal penerimaan diri tanpa batas, > tanpa syarat... tidak akan mungkin ekspressi > wajah-wajah mereka begitu penuh dengan syak wasangka > dan kekuatiran. Ada sesuatu yang diTEKAN. > > Please lihat foto-foto mereka di Kompas hal. 24 itu. > Saya melihat ada hal-hal yang ditekankan oleh Mbak > Ruby terhadap para peserta yang melihat dengan takzim. > TAKZIM??? Apakah itu pencerahan? > > No, it's nonsense they were talking about. And living > about too, possibly... Kalau mau pencerahan, we have > to _stop_ talking about pencerahan at all. We have to > be ourselves. And that's pencerahan. And that needs no > kartu. Tarot or whatever.
