Saya melihat persoalan ini dari segi moral, bukan dari segi politik. Kalau banyak pihak yg memuji tindakan AR, tentunya pujian itu keluar dlm konteks politik nasional. Bukan pujian yg membenarkan secara filosofis (dan moral) tindakan AR menerima dana non bujeter itu. Melainkan tindakan AR itu dipandang bisa dipergunakan sebagai "tool" utk membongkar kebobrokan lain yg lebih besar. Apakah itu yg hendak dituju oleh AR, membongkar semuanya? Atau hanya sebagai alat utk melakukan tawar menawar politik setelah terjadi pertemuan di Halim?
Kita lihat saja nanti. Yg hendaknya saya katakan sejak awal sebenarnya adalah, tidak ada politisi kita yg secara moral bisa dibanggakan. AR sedikit lebih baik dari para politisi buruk itu. Cuma itu saja. Sekali lagi, saya melihat persoalan ini dari segi moral. Menurut saya, disitulah letak barometer sejati utk mengetahui integritas seorang pemimpin. Apakah seseorang secara moral hanya pemimpin medioker atau kelas luar biasa, impian seluruh rakyat Indonesia, itu yg pertama-tama kita lihat. sg --- In [email protected], budi satria <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung Simson, > > Opini anda sah-sah saja dan itu hak anda kok, anda cukup mengkritisi AR, dilain pihak ada juga yg mengapresiasi AR, seperti Prof. Satjipto Raharjo, guru besar hukum dari Undip Semarang. Tak ketinggalan wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy melalui rubrik Politika-nya, ikut mendukung langkah AR. > > Melalui liku-liku logika yg anda kembangkan dlm postingan, jelas sekali anda bermaksud un tuk menyudutkan AR, anda sengaja lupa untuk mengatakan bahwa faktanya banyak pihak dan tokoh yg menerima dana DKP dari RD. > > Ada pepatah; lebih baik terlambat drpd tidak datang, lebih baik jujur drpd ingkar, nah. Maklum, mengertilah akan relaitas politik. > > salm jujur > salam berantas korupsi-tegakkan demokrasi > ibud > > simson gintings <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Manuver politik yg dilakukan AR adalah jurus kancil. > Pengakuan "dosa" baru dilakukan AR setelah namanya disebut-sebut > oleh Rokhmin Dahuri, si culas itu, sebagai salah satu pihak yg ikut > menerima dana non-bujeter DPK. > > Dgn demikian agaknya pengakuan AR itu didasarkan kepada kalkulasi > politik. Kalau pengakuan itu lahir karena kesadaran telah melanggar > hukum dan kemudian merasa menyesal secara tulus, kenapa nggak jauh- > hauh hari dia membuat pengakuan? Dia mengaku setelah ketahuan. > > Di tv Metro AR mengatakan, pd saat menerima amplop itu dia tdk ingat > akan uu dan peraturan ttg bantuan dana pemilu. Karena sibuk mikirin > kampanye, katanya. Tapi masak beberapa tahun berlalu tetap saja tdk > sadar kalau tindakannya menerima uang dari Menteri Kelautan dan > Perikanan itu melanggar hukum? > > Utk meredusir "dosa"nya, AR kemudian tunjuk "dosa" pihak lain yg > lebih besar. Itulah drama yg terjadi minggu lalu. Celakanya, SBY > kebakaran jenggot. Akhirnya, dilakukanlah upaya "rujuk politik" (ada > yg menyebutnya kongkalikong politik). Menurut saya, itu tidak > penting. Hanya menguatkan motivasi politik dari AR. > > Terlepas dari kongkalikong politik itu, saya kira, ada satu hukum yg > paling tinggi yg tidak dapat dihindari siapapun, hukum moral. Siapun > yg telah menerima uang non bujeter dari DPK itu, terbukti tdk > terbukti, mengaku tdk mengaku, secara moral, tdk patut dipercayai > lagi. > > Mengaku dosa tdk dgn sendirinya membuat seseorang berbuah status > jadi orang saleh. Mengaku dosa adalah satu hal dan pengampunan > adalah soal lain. Jangan pula orang yg mengaku dosa lantas diberikan > surat penghargaan, tanda jasa, atau sertifikat sbg orang jujur. > > Bagaimana kita memandang drama ini? Komedi. Saya setuju. Humor itu > penting. Kalau pun tidak lucu, yah dilucu-lucukan saja. > > Martin Luter pernah bilang, kalau di sorga tidak ada gelak tawa, > maka saya tidak ingin pergi ke sana. > > Di negara kita ini, banyak bertebaran komedian, dan suara gelak > tawa, yg beraneka ragam. Ada seperti suara ember digebuk. > > sg >
