betul sekali bung, pendapat bung suhartatdi teddy mewakili sekelompok 
masyarakat yang melewati jaman orde baru dan orde reformasi dalam kemapanan, 
sehingga semuanya bisa diatur, bisa dimaafkan, permisive, makanya bangsa kita 
nggak maju-maju, nggak tegas, petak umpet, tepo salira, kucing-kucingan, 
jadilah bangsa kita tikus yang memamah remah-remah sisa bangsa lain.
   
  salam
  iwan

Jeannie Kiagoes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Jadi terpancing juga nih ikutan komentar ...

Waduh! Kalo semua rakyat Indonesia jalan pikiran dan prinsipnya seperti
Pak Suhartadi Teddy, pasti bakalan makin banyak saja oknum pejabat di
negeri kita ini yang berlomba-lomba korupsi dan menghalalkan segala cara
untuk mempertahankan kedudukannya...toh nanti juga dimaafkan oleh rakyat
Indonesia yang berjiwa besar, arif dan bijaksana....

Kasihan keluarga korban "kebijaksanaan-kebijaksanaan" Presiden jaman
ORBA....

"Yang hilang", baik uang maupun nyawa manusia, memang sudah gak mungkin
kembali lagi, tapi menurut pendapat saya, pertanggungan jawab hukum atas
tindakan yang diperbuat tetap harus ditegakkan...gak ada itu istilah
dimaafkan, SP3K, sudah sepuh, kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan
yang bisa dibuat-buat, dan sejenisnya....Kalo gak ya gak usah berkhayal
dan sesumbar kita adalah Negara hukum yang menjunjung tinggi hak asasi
manusia dan peri-kemanusiaan deh.

Ini menurut pendapat saya loch.

Faithfully Yours, 
Ms. Jeannie Kiagoes 

_

Kirim email ke