Untuk menye-imbangkan berita, kita harus dengar/baca juga versi 
lawan.
supaya kita bisa lebih bijak menanggapi suatu issue itu.
Mengapa Sutiyoso sebagai tamu terhormat tidak mau membuka pintu 
kamar hotelnya ketika di bell ber-kali2?
Kalau dia tidak merasa bersalah, kenapa harus tidak mau menanggapi 
ketukan polisi dikamarnya? 

Dari milis KT.

"And then the senior member of staff went up to the room with the 
police and the doorbell was rung on several occasions and then they 
proceeded to go into the room (with a master key) following the 
directions given by the state police." 
=========================================================
polisi dinegara manapun berhak membuka pintu bila 
tersangka "SEMBUNYI DIDALAM KAMAR". Sudah jelas Sutiyoso, kabur 
tunggang langgang, karena takut menghadapi hukum dan pertanggungan 
jawabnya terhadap warga negara Australia beserta semua keluarga yang 
terbunuh pada 1975. 
Ketika dia sebagai aparat yang terlibat! 

Walaupun kasusnya ditutup di Indonesia[May'98, Munir, Suharto pun 
kasusnya ditutup??]tapi sebagai negara yang mempunyai hukum keadilan 
harus ditegakkan. 

AL

http://www.worldnewsaustralia.com.au/region.php?id=137415®ion=7 


Iemma apologises to Sutiyoso 
31.5.2007. 19:37:40

NSW Premier Morris Iemma has written to Jakarta Governor Sutiyoso 
apologising for a police intrusion during his stay in Sydney. 

Mr Sutiyoso this week cut short his visit to Australia, made at the 
invitation of the NSW government, after police entered his Sydney 
hotel room and asked him to testify at an inquest into the deaths of 
five Australian-based journalists at Balibo in East Timor in 1975. 

Mr Sutiyoso said police used a master key to barge into his hotel 
room and ask him to testify, labelling their treatment of him rude 
and inappropriate. 

Letter of apology 

Mr Iemma tonight said he had written Sutiyoso, saying he 
was "disturbed by the initial advice received on the circumstances 
of the entry" into the hotel room. 

"I apologise for the distress and inconvenience caused and regret 
your early departure from New South Wales," the premier wrote. 

Mr Iemma said the police action was not sanctioned by his 
government. 

He said the investigation into the incident would be "comprehensive" 
and undertaken by senior police. 

"I have also been advised ... that a review of the circumstances 
around the entry to your room suggests that NSW government's 
coordination of security and protocol was less than satisfactory," 
he wrote. 

"This is extremely disappointing to me." 

"I trust that the spirit of goodwill so obvious in the past will 
overcome the events of this week." 

A NSW police officer is under investigation as a result of the 
incident. 

"The Commissioner of Police Ken Moroney will today provide interim 
advice to the police minister of the matter regarding the Governor 
of Jakarta, Mr Sutiyoso," the statement said. 

"In the meantime, an officer attached to the coronial investigation 
unit is the subject of departmental inquiry into the circumstances 
surrounding his contact with the Governor of Jakarta." 

Subpoena not served 

A spokeswoman for the NSW Coroner's Court today said the officer had 
been in possession of a subpoena for Mr Sutiyoso, but that it was 
not served on him. 

"Instead, a verbal invitation was issued to attend the inquest and 
he (Mr Sutiyoso) declined," the spokeswoman said. 

Deputy state coroner Dorelle Pinch, who is presiding over the Balibo 
inquest, yesterday said that after speaking with the officer 
assisting the inquest, Detective Sergeant Steve Thomas, she was 
assured there had been no unauthorised access to the room. 

Today, a spokeswoman for the Shangri-La Hotel said police arrived 
with identification and documentation and asked to be taken to Mr 
Sutiyoso's room. 

"They (the police) came on Tuesday afternoon and one of our senior 
members of staff obviously dealt with them," the spokeswoman said. 

"They presented their ID and also some documentation, which the 
senior member of staff reviewed. 

"Then, yes, they did demand access to the guest room. 

"And then the senior member of staff went up to the room with the 
police and the doorbell was rung on several occasions and then they 
proceeded to go into the room (with a master key) following the 
directions given by the state police." 






--- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0705/30/115008.htm
> ====================
> 
> Laporan Wartawan Kompas Emilius Caesar Alexey
> 
> JAKARTA, KOMPAS -- Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menuntut 
klarifikasi
> dari pemerintah Australia terkait pelecehan yang dilakukan oleh 
polisi
> federal dengan memasuki kamar hotelnya pada hari Selasa sore (29/5)
> untuk mengundangnya ke pengadilan sebagai saksi kasus terbunuhnya
> wartawan Australia di Balibo 1975. 
> 
> Sutiyoso juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah Australia 
atau
> kerja sama kota kembar (sister city) dengan New South Wales akan
> dibatalkan. "Jika tidak minta maaf, saya menganggap Australia 
arogan.
> Untuk apa melanjutkan kerja sama dengan pihak yang arogan?" kata
> Sutiyoso di Jakarta, Rabu (30/5).
>  
> Menurut Sutiyoso, tindakan polisi federal Australia yang menerobos
> masuk ke kamar hotelnya, dengan kunci master hotel, merupakan
> pelecehan. Kedatangannya sebagai pejabat negara atas undangan 
gubernur
> negara bagian New South Wales seharusnya dilindungi kekebalan 
dalam UU
> Kekebalan Asing.
>  
> "Saya tidak terkait dengan kasus Balibo 1975 yang menewaskan lima
> jurnalis asing. Tahun itu, tim yang saya pimpin tidak pernah masuk 
ke
> Kota Balibo," kata Sutiyoso.
> 
> Ia memaparkan kunjungan ke negara bagian New South Wales yang
> beribukota Sydney beberapa hari lalu itu adalah atas undangan
> pemerintah setempat terkait kerja sama sister city. "Saya tiba 
disana
> pada Minggu 28 Mei sekitar pukul 10 waktu setempat dan diterima 
secara
> protokoler resmi dan menginap di Hotel Sangri La," katanya.
>       
> Ia menjelaskan sepanjang Minggu sampai Selasa siang, ia mengikuti
> sejumlah acara seperti peninjauan ke kebun binatang setempat yang
> mengadakan kerja sama dengan Ragunan, serta melihat proses 
pengolahan
> limbah. Pada hari Selasa, ia menghadiri acara antara lain pertemuan
> bisnis dan mengunjungi Museum Nasional Kelautan. Sebetulnya pada 
pukul
> 18.00 telah dijadwalkan acara selanjutnya, namun karena masih ada
> waktu ia memutuskan kembali ke hotel.
>      
> "Pada pukul 16.30 waktu setempat hari Selasa, saya beristirahat di
> dalam kamar hotel saya yang terkunci. Namun tiba-tiba masuk dua 
orang
> anggota kepolisian, salah satunya Sersan Thomas yang pada intinya
> menyampaikan surat pemanggilan untuk memberikan kesaksian dalam 
kasus
> tersebut," katanya.
>       
> Gubernur DKI mengatakan ia tidak pernah terlibat dan tidak 
mengetahui
> masalah itu dan selama di Timor Timur tidak pernah memasuki kota
> Balibo. "Saya marah dan saya kemudian meminta mereka untuk keluar.
> Selanjutnya saya memanggil protokol resmi dari pemerintah New South
> Wales untuk meminta penjelasan. Namun sampai saat itu pemegang
> otoritas setempat tidak bisa dihubungi," katanya.
>      
> Sutiyoso menjelaskan ia kemudian menghubungi Konsulat Jenderal RI 
di
> Sydney dan juga Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. "Saat itu, 
saya
> jelaskan singkat kejadiannya dan Pak Hassan bilang kembali saja ke
> Jakarta, tidak usah melanjutkan lawatan di negara tersebut. Saya
> kemudian memutuskan kembali dan tidak menghadiri rangkaian acara 
yang
> masih ada," paparnya.
>       
> Pada Rabu ini, Gubernur DKI rencananya akan bertemu dengan Menlu
> Hassan Wirajuda untuk menjelaskan secara detil apa yang terjadi dan
> akan meminta Deplu mengklarifikasi peristiwa ini kepada pemerintah
> Australia.
>     
> Sutiyoso juga mengancam akan meninjau kerja sama sister city dengan
> New South Wales bila tidak ada permintaan maaf secara resmi. "Saya
> merasa dilecehkan sebagai pejabat negara yang berkunjung dengan 
resmi.
> Di Jakarta kita melindungi Kedutaan Australia dengan baik. Kita 
penuhi
> apa kebutuhan mereka untuk menjamin keamanan," katanya.
>       
> Ketika ditanyakan pada saat terjadinya peristiwa terbunuhnya 
wartawan
> Australia di Balibo, Sutiyoso mengatakan ia yang saat itu 
berpangkat
> Kapten bersama pasukannya tidak pernah memasuki Balibo namun ia
> menolak menyebutkan secara rinci dimana posisi pasukannya. "Saya 
tidak
> bisa sampaikan informasi itu karena itu bagian dari operasi 
intelijen.
> Pak Yunus Yosfiah pun sudah mengklarifikasi hal tersebut," 
katanya.     
> 
> 
> 
> 
> Copyright 2006 Kompas Group
>


Kirim email ke