Source: Public relations department, Thailand
The Royal Rain-Making Process (22/03/2005)

His Majesty the King has graciously set down and defined the rain-
making process, which can be divided into three stages, namely 
agitating, fattening, and attacking. Each stage involves the 
changing of atmospheric conditions in ways similar to how rain 
occurs naturally, namely the formation of clouds, the increasing of 
cloud volume, and, finally rainfall. The stages are explained below.

Agitating
The first step begins with the creation of clouds until they form a 
vertical direction. This is done by dispersing chemicals to 
stimulate the air mass to float upward into the cool regions. Then 
the water vapor would be induced to gather and form clouds. The 
ideal time for operation is normally in the morning before ten 
o'clock, by spreading chemicals upwind of the target area that can 
absorb vapor from the air mass and stimulate cloud formation. When 
the clouds begin to form they grow vertically. Then chemicals with 
vapor-absorbing ability are strewn in circles, downwards, to 
stimulate the formation of the clouds that will be the nuclei in the 
operation area for use as a center to build up rain clouds in the 
next step.

Fattening
This is the step to make the clouds develop to their maximum size. 
The operation in this step is of the utmost importance. Operators in 
the planes must use the technology, experience, and art of royal 
rain-making to make a correct decision in dispersing chemicals in 
the clouds to fatten them up. That is, they need to know what kinds 
and amounts of chemicals need to be dispersed on what part of the 
clouds so that they do not disappear but instead increase in size up 
to the desired level.

Attacking
This is the last step of the royal rain-making procedure. When the 
clouds are dense and about to precipitate into rain, there will be 
many large drops of water within the clouds. If a plane is flown 
into these clouds, thick drops of water would cling to the wings and 
fuselage of the plane. At this stage of operation, it must be 
considered whether the objective is to increase the amount of 
rainfall in general or to make it rain over the target areas, 
because the method of attack and the chemical used will be different 
in each case.

Just for your info ..
rgds,
Bodo

--- In [email protected], "rzain" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Seto yang ahli,
> 1. Saya percaya ramalan CNN karena disertai foto satelit awan yang
> menandakan akan hujan, Se kali2 memang meleset tetapi hanya
> lokasinya yang bergeser, ramalan itu juga tidak mengatakan berapa
> besar dan berapa luas. Cukup informatif. Yang saya kagumi ramalan 
di
> Jepang, sangat tepat, jangan coba2 tidak bawa payung kalau sudah
> diramal hujan, akan flu nantinya. Di Australia mereka hanya
> meramal "probably" akan hujan karena tiupan angin tidak menentu.
> 2.Karena TMC tidak bisa kalau tidak ada awan, disitulah yang masih
> tanda tanya besar buat saya, awan itu kan calon hujan apalagi awan
> matang (maaf istilah saya saja), kalau memang akan menurunkan hujan
> buat apa di TMC kan kasihan lokasi alamiah yang akan dihujani, 
besok
> atawa lusa. Bahwa akan menguap lagi serahkan kepda Yang Kuasa.
> 3. Kalau TMC tidak merugikan orang lain, kok banyak juga ahli cuaca
> di AS dan bagian dunia maju yang lain kecuali di republik mimpi 
yang
> meragukan pernyataan bapak. Saya ini cuma ikut2an bewrtanya karena
> bukan ahlinya.
> 
> rzain
> 
> --- In [email protected], Tri Handoko Seto
> <thseto@> wrote:
> >
> > sebelumnya saya minta tolong ya pak.... agar apa yg saya tuliskan
> itu dipahami. biar saya tidak terus2an mengulang2 jawaban yg sama.
> jadi jangan hanya bertanya kemudian saya jawab sampai berbusa2
> tetapi bapak tidak mau memahaminya. dan kemudian bertanya lagi.
> >
> > 1. bapak kok yakin sekali dg ramalan cnn ya..... ramalan cnn itu
> sifatnya sangat global. dan sering kali invalid untuk wilayah benua
> maritim indonesia. mengapa? karena data yg digunakan kebanyakan
> hanya data regresi saja. bukan data pengukuran. di samping itu,
> memang secara meteorologis sangat sulit memprediksi hujan di daerah
> tropis.
> >
> > 2. justru tMC tidak bisa dilaksanakan kalau tidak ada awan. ini
> ingin saya tekankan. TMC tidak bisa dilaksanakan jika tidak ada
> awan. artinya, justru ketika ada awanlah TMC bisa memberikan
> benefit.
> >
> > 3. berbicara masalah uap air dan prosesnya menjadi awan, kemudian
> menjadi hujan, saya kira masih sulit kita diskusikan karena memang
> bapak tidak memahaminya. uap air memang adalah bahannya hujan. tapi
> uap air saja (sebanyak apapun) tidak akan pernah menjadi awan atau
> hujan jika tidak berada dalam atmosfer yang unstable. dalam 
atmosfer
> yg stable, uap air yg jenuh sekalipun tidak akan pernah menjadi
> awan. TMC itu hanya meningkatkan efisiensi proses dalam awan
> sehingga curah hujan meningkat. jadi yg diperlakukan adalah awan,
> bukan uap air. kalau tidak diTMC bukan berarti sisa uap air akibat
> proses awan yg tidak efektif ini akan menjadi jatahnya daerah lain.
> uap air sisa ini akan terus mengambang di daerah itu. mengapa?
> karena memang daerah itulah yg punya tekanan lebih rendah. kok tau?
> ya itu terbukti dari adanya awan tadi. jadi tidak ada mekanisme
> apapun yg bisa menjelaskan bahwa TMC akan merugikan jatah hujan
> daerah lain. kata republik mimpi: ndak ada itu......ndak ada.....
> >
> > mudah2an bisa membantu.
>


Kirim email ke