Bung Wal..saya nimbrung lagi,
   
  Bukan tidak kapok kapok namun tidak ada pilihan lain. Ketika kita diskusi 
soal revolusi, saya pernah mengusulkan untuk memobilisasi tekanan agar dalam UU 
Pemilu yang akan datang dibuka kemungkinan adanya calon independen..jadi 
monopoli partai dalam rekruitmen elit yang dilawan. UU Pilkada juga harus 
begitu, ada ruang masuknya calon independen.
   
  Dalam konteks Jakarta, jika hal tersebut bisa didorong sehingga misalnya 
calon seperti bung Faisal Basri bisa diusung sebagai calon independen. 
   
  Namun yang berhak merubah itu khan partai....di DPR atau DPRD. Bagaimana 
partai partai dapat diyakinkan bahwa masuknya calon independen itu dapat 
berpengaruhi positip pada mereka..itu yang jadi tugas semua pihak yang 
menginginkan adanya calon independen dalam Pemilu atau Pilkada. Demo ? Kalau 
massanya segitu-gitu aja, tidak akan dilirik. Ingat Foke diusung oleh 13 
Partai, Adang oleh 1 partai, Sarwono belum jelas (PKB, PAN dan....).
   
  Banyak teman membandingkan Aceh...ehhh itu bukan kerelaan dari partai, itu 
adalah salah satu butir MOU Helsinki, yang oleh elit Aceh sering dianggap lebih 
tinggi dari UUD 1945.
  

walsuparmo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Salam, 
Kok masyarakat atau publik Indonesia tidak KAPOK2 jika memilih 
wakilnya lewat PARTAI. Sudah terbukti ber-kali2 bahwa orang masuk 
partai hanya untuk mencari KEDUDUKAN saja.Dan hasilnya sangat 
mengecewakan. Makin menggila lagi jika ada partai yang mengusulkan 
calon seperti Rano Karno,Oneng, Omas, Matsolar,Mandra dsb.Sadarlah 
dan pilihlah calon ALTERNATIF dan INDEPENDEN.
Wasalam,
Wal Suparmo

Kirim email ke