Maaf mau nimbrung sedikit soal kemiskinan. Kalau bicara soal rezim, apalagi bicara soal kemakmuran, mungkin yang harus diingat adalah: bagaimana 10 tahun ke depan. Hitung pertama rezim itu berkuasa kemudian 10 tahun ke depan, lihat sumber daya manusianya, lihat cara berpikir dan cara masyarakat tersebut mengatasi dan menyelesaikan persoalan, dan bagaimana dengan pendidikannya.
Karena kemiskinan itu tak dilihat dari "uang" saja, atau pembangunan fisik semata, tetapi juga kualitas berpikir masyarakatnya, bagaimana mereka survive, kritis, bagaimana mereka menghargai sejarah, dan kreatif, dan apakah kebodohan itu juga salah satu dari ciri kemiskinan. Dan apakah rakus, egois, apatis, dan tak peduli adalah juga salah satu dari ciri kemiskinan itu sendiri. Semua ciri itu saya lihat ada di Orde Baru, lalu dipoles dengan pembangunan fisik, yang ternyata malah membuat jiwa besar masyarakatnya jadi kopong. Orde baru tidak memulai itu semua dari manusianya, lebih pada mimpi-mimpi tentang kekayaan, seperti tayangan sinetron kita sekarang. Mariana Thursday, June 7, 2007, 10:34:10 AM, you wrote: > Saya tidak ada niatan membela Orde Baru. Tanggapan saya cuma: > Indonesia saat ini jauh lebih makmur dibandingkan dengan negara- > negara Afrika walaupun kita mulainya sama melaratnya. Jadi tidak > adil menyamakan Indonesia dengan negara-negara Afrika. Dengan > demikian tidak bisa pula model pendekatan Cina ke negara Afrika itu > diterapkan habis di Indonesia saat ini. Situasi kita berbeda dengan > Rwanda atau Mozambik (dimana pengusaha besar tidak ada dan jalan > beraspal saja mungkin dianggap sebagai kemewahan). > Masalah penilaian apakah rejim Orde Baru itu militeristik atau > ditunggangi kepentingan AS tidak membantah bahwa selama 30 tahun ini > kita sudah bertambah makmur. Kemiskinan absolut yang menahun dan > makin bertambah di Afrika sub-Sahara dan sebaliknya makin berkurang > di Indonesia (saya bicara rentang 30 tahun) justru menunjukkan ada > hal-hal yang baik yang terjadi semasa Orde Baru. Mengapa krisis > moneter di kita berujung pada revolusi, sementara krisis yang sama > di negara lain tidak begitu? Wah, saya tidak berani memberikan > jawaban sederhana untuk topik serumit itu. > Saya sebenarnya tertarik juga membahas apakah kita akan menjadi > seperkasa Cina seandainya era Orde Baru tidak dinodai oleh korupsi. > Sepengertian saya (Romo Wibowo tentu bisa mengoreksi) Deng Xiaoping > dan Suharto itu pendekatannya kepada petani mirip-mirip. Mereka > mementingkan agar para petani itu sanggup hidup dari tanahnya > sendiri dan kalau bisa berlebih untuk diekspor ke kota; jadi tidak > dipaksa menjadi pekerja seperti maunya Mao dulu. Utamanya rakyat > harus kenyang dulu. Strategi itu terbukti memberi kestabilan ekonomi > dan politik untuk melangkah ke tahap berikutnya yaitu > industrialisasi. > Industrialisasi pun berlangsung dalam tahapan yang sama, yaitu mulai > dulu dari industri pesanan sifatnya yang padat karya seperti > tekstil, sepatu, dan elektronik. Tapi bedanya kalau Cina berhasil > melangkah lebih maju lagi sehingga menghasilkan raksasa-raksasa di > dalam negeri, kita gagal di tahap itu karena "raksasa-raksasa" kita > membangun dirinya dari ekonomi rente yang dimungkinkan oleh > pemerintah yang korup. Cina sebaliknya cepat menyadari sekali bahwa > ekonomi rente ini hanya akan berujung ke kegagalan. Di situlah > menurut saya percabangan nasib kita dan nasib Cina. > Andi
