Modernisasi Pasar Hanya Untungkan Pengembang dan Pemerintah

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/08/metro/3586480.htm
=======================

JAKARTA, KOMPAS - Pedagang pasar tradisional di Jakarta memberi
penilaian rapor merah untuk Gubernur Sutiyoso. Mereka menilai
kebijakan Sutiyoso melalui PD Pasar Jaya tidak membina dan melindungi
pedagang tradisional, tetapi justru membinasakan. Nasib pedagang pun
semakin terpuruk.

Ketua Federasi Pedagang Pasar Tradisional Jakarta Sujianto dalam unjuk
rasa di depan pagar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI
Jakarta, Kamis (7/6), mengungkapkan, kebijakan Sutiyoso selama ini tak
memihak pedagang pasar tradisional.

Unjuk rasa dilakukan sekitar 100 pedagang tradisional saat Sutiyoso
membacakan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) akhir masa
jabatan Gubernur DKI Jakarta periode 2002-2007 dalam sidang paripurna
DPRD. Puluhan polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja dikerahkan untuk
menjaga keamanan di gedung wakil rakyat Jakarta itu.

Gubernur Sutiyoso saat ditanya wartawan mengenai "rapor merah" dirinya
yang diberi pedagang malah balik bertanya, "Berapa orang jumlah
mereka? Saya sudah kenyang didemo seperti itu," ujarnya.

Kian terpuruk

Menurut Sujianto, modernisasi pasar tradisional yang ditawarkan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seolah-olah sebagai solusi. Padahal,
itu justru membuat pedagang semakin terpuruk. "Pembangunan dan
modernisasi pasar tradisional sering dijadikan alasan untuk
memperbaiki kesejahteraan. Padahal, kenyataan selama ini hanya
memperkaya pengembang dan pemerintah yang terlibat dalam kerja sama,"
kata Sujianto.

Wakil Ketua Federasi Pedagang Pasar Tradisional Jakarta Sutomo
menambahkan, ketika pasar tradisional terbakar, yang terjadi kemudian
adalah proses pembangunan yang dilakukan tanpa melibatkan pedagang.

"Pasar tradisional terimpit, pengusaha bermodal besar makin berjaya.
Pemerintah menutup mata. Pejabat berselingkuh dengan pengusaha.
Mengapa Sutiyoso membiarkan ini semua?" tanya Sutomo berapi-api.

Tidak memihak

Sutomo memberi contoh, betapa modernisasi pasar modern tak memihak
pedagang tradisional. "Harga kios di pasar tradisional selayaknya
dijual Rp 6 juta-Rp 10 juta per meter persegi. Tetapi, kenyataannya di
Pasar Tanah Abang harga kios 2 m x 2m mencapai Rp 175 juta hingga Rp
350 juta per meter persegi. Di Blok M, harganya Rp 16 juta-Rp 60 juta
per meter persegi. Bagaimana mungkin pedagang tradisional dapat
membeli kios dengan harga mencekik itu?" ujarnya.

Sementara Sutiyoso dalam LKPJ-nya tidak menyinggung soal pasar
tradisional. Dia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Jakarta diukur
dengan laju pertumbuhan lima tahun ini sebesar 6 persen per tahun. (ksp) 

Kirim email ke