Yth Pak Rudy,
  Saya ingin share, tapi bukan pencerahan, malah mungkin pemburaman.
   
  Sebab, entah benar atau tidak dugaan saya, bahwa di Indonesia hanya satu hal 
yang bicara, yatitu UANG.
   
  Pengurusan surat dan ijin yang seharusnya gratis, dikenakan biaya (=baca : 
UANG).
   
  Suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan karena dilarang oleh 
peraturan atau undang-undang, menjadi bisa dilakukan karena ada UANG.
   
  Sidang di pengadilan yang seharusnya kalah, bisa menjadi menang karena ada 
UANG.
   
  Semula tidak punya kawan karena tidak bisa traktir, jika kaya maka teman akan 
banyak karena bisa traktir atau beri UANG, sekalipun uang tidak halal.
   
  Saat dimintai tolong seseorang akan menolak karena merasa itu bukan tugas 
atau kewajiban dia, namun begitu ada UANG apapun akan dia lakukan.
   
  Agama dan budi pekerti pun sepertinya sudah diukur dengan uang.
   
  Bukankah ini suatu pemburaman Pak. Bilakah keserakahan itu akan ada batasnya?
   
  Salam,
  

Rudy Thehamihardja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          

_____ 

From: Rudy Thehamihardja [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 17 Juni 2007 15:46
Subject: anak orang miskin dan anak koruptor.

Sedang nonton acara kick Andi.

pembicara pertama menceriterakan tentang anak yang gantung diri karena
setiap hari dihina oleh teman2 nya karena profesi orang tuanya sebagai anak
tukang baso.
woooow, gila yah dinegara Indonesia yang kita cintai ini, anak seorang
tukang baso gantung diri karena tidak tahan dihina setiap hari, 
Seorang ayah yang dengan penuh tanggung jawab, mencari penghasilan dengan
melakukan pekerjaan yang paling halal yang dia bisa lakukan sebagai seorang
pedagang baso.
Bila dari pekerjaan yang dilakukan dia bisa menghidupi keluarga,
menyekolahkan anak nya, sudah pasti pekerjaan nya tersebut dilakukan dengan
segala kemampuan nya dan dengan serius. 
koq malah anaknya dihina.

Dimana sebenarnya kegagalan pelajaran budi pekerti yang terjadi di negara
kita.

Karena pelajaran budi pekerti sudah dihilangkan dan diganti dengan pelajaran
agama. 
Kenapa hal ini sampai masih terjadi?
Apakah yang bersalah itu adalah kurang nya pemahaman agama si anak miskin 
atau kurang nya tanggung jawab si bapak tukang baso itu karena dalam
kemiskinannya lupa mengajarkan pemahaman agama?

woooow........

kalau benar begitu, apa kah bisa diasumsikan.
semakin miskin keluarga, semakin rendah pemahaman nya atas agama.
semakin kaya kita semakin tinggi pemahaman agamanya, 
sehingga walaupun sudah tau hasil kekayaan itu berasal dari korupsi, 
tapi tidak ada anak koruptor yang stress sampai mengambil jalan pintas
gantung diri.
jadi anak koruptor lebih tinggi pemahaman agamanya
sang koruptor lebih banyak waktu untuk mendidik pemahaman agama

dan yang lebih parah lagi, kehormatan sebagai anak miskin karena sang orang
tua belum mendapat kan kesempatan untuk menjadi kaya, itu menjadi suatu yang
hina dibandingkan dengan menjadi anak koruptor dimata teman2 satu
sekolahnya.

bagaimana sih yang sebenarnya?
mohon pencerahan.

rudy th 

Kirim email ke