Ikut urun rembug Mas, Ngomong-ngomong soal PLTN, saya jadi ingat soal demo PLTN di Kudus yang dimuat fotonya di halaman 1 minggu lalu (13 Juni 2007) dan beritanya juga. saya jadi ingat karena saat itu koran nasional rame-rame memuat aksi demo tersebut. Nah, inside story dibalik peristiwa tersebut yang tidak diketahui oleh teman-teman lain diluar kudus, bahwa aksi tersebut dikemas seakan-akan dilakukan oleh masyarakat murni. padahal fakta dilapangan berkata lain, mengapa? aroma keterlibatan perusahaan besar Kudus sangat kental terasa dalam penolakan ini. bahkan seorang teman di kudus mengatakan jika semua kegiatan ini didanai oleh pihak ketiga Pertanyaannya ada apa dibalik itu? tentu tidak mungkin bila dilakukan tanpa embel-embel lain (kepentingan lain). menurut saya semua wartawan di Kudus dan Muria pasti tahu soal ini, namun yang luput mengapa motifnya tidak digali? ini tentu akan menarik bila disajikan sebagai liputan. wassalam,
----- Pesan Asli ---- Dari: si_andi <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jumat, 15 Juni, 2007 2:50:55 Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: PLTN : UNTUK SIAPA ? Ikut nimbrung, Mas Bodo. Selama kita belum bisa "menambang" hidrogen langsung dari udara, maka hidrogen harus dihasilkan dari hidrokarbon atau dari air. Produksi hidrogen dari kedua sumber itu butuh banyak energi. Steam reforming, umpamanya, dilakukan dengan mereaksikan gas alam dengan air pada suhu sekitar 1000 C. Pemanasnya? Ya dengan membakar gas alam juga. Energi yang dibawa hidrogen ini kemudian dikirim ke konsumen untuk dikonversi menjadi listrik dengan perantaraan sel bahan bakar. Artinya dalam keseluruhan siklus ini hidrogen hanya berfungsi sebagai "alat" transportasi energi. Sumber energinya tetap gas alam yang (1) tidak terbarui (2) baik pembakarannya maupun reaksinya menghasilkan karbondioksida, a.k.a gas rumah kaca. Demikian juga kalau hidrogen ini dihasilkan lewat elektrolisis. Tetap harus ada sumber energi bagi elektrolisis ini. Untuk saat ini pilihan sumber energinya masih tetap jatuh ke bahan bakar fosil atau nuklir. Hidrogennya sendiri cuma sebagai penghantar energi dari pembangkit ke konsumen. Saya bisa paralelkan dengan PLTG. PLTG juga menghasilkan listrik dengan membakar gas alam. Gas alam dibakar di dalam turbin, turbin berputar menghasilkan listrik. Listrik ini dihantarkan ke penggunanya menggunakan kabel listrik. Jadi fungsi kabel listrik sama persis seperti fungsi hidrogen dalam paragraf sebelumnya: alat transportasi. Mana yang lebih efisien? Sel bahan bakar sendiri efisiensinya bisa mencapai 80% (memang jauh di atas internal combustion engine yang cuma 25%). Tapi energi yang diperlukan untuk menghasilkan hidrogen jauh lebih besar dari energi yang diperlukan untuk memompa dan memurnikan gas alam. Dugaan saya hasil akhirnya jatuhnya akan di situ-situ juga. Jadi pendapat saya kurang tepat kalau kita bicara soal hidrogen sebagai "sumber energi" apalagi sebagai pengganti energi nuklir. Lebih tepat kalau hidrogen itu diposisikan bersaing dengan METODE TRANSPORTASI ENERGI yang lain. Umpamanya kalau orang sudah bisa menemukan cara penghantaran listrik yang lebih efisien daripada lewat kabel seperti sekarang, atau kalau orang sudah bisa menemukan aki (battery) yang sanggup menyimpan energi listrik dalam jumlah besar dalam waktu yang lama, maka bisa jadi hidrogen ini tidak akan terpikirkan lagi. Kalau kita lihat teknologi aki juga sudah semakin canggih, terutama didorong oleh lakunya mobil bertenaga hibrida. Soal sumber energi pengganti bahan bakar fosil, tetap saja pilihan terbaik jatuh pada energi terbarui (angin, air, pasang surut). Energi nuklir itu sepertinya juga bukan energi terbarui karena uranium adalah bahan tambang dan suatu waktu akan habis. Kecuali kalau nanti kita sudah bisa menambang uranium dari asteroid seperti di film-film itu. Maaf kepanjangan. Kalau omong-omongan teknik begini semangat '45 saya keluar, hehehe. Andi
