ada lagi pengalaman saya dulu, lagi kuliah telat kiriman dari ortu trus 
mengadai celana jeans, pernah juga radio tape satu-satunya saya gadai, udah 
lulus sempet jadi pegawai negeri gaji pertama 120 ribu, masuk jakarta kost di 
termpat marijo di setiabudi, ke kantor naik turun metro mini, dasi terpaksa 
dilipet dulu di tas.
  kerja sama bule amrik pulang kerja mampir ke bar, minum bir sampai setengah 
teler, saya karena cuman bawahan yang gak boleh teler, apalagi kemampuan saya 
menelan alkohol lebih sedikir dari mereka, sempat kerja di tambang di soroako 
dan timika, bergaul sama bule-bule, mesti ketularan minum bir and alkohol, 
sekali-kali jalan-jalan ke tempat-tempat dimana para bule buang hajat, sebagian 
dari mereka ada yang dikawin, sebagian cuman dijadikan budak nafsu, 
  sering antar tamu dan temen kerja di dunia malam, membuat saya banyak belajar 
tentang kehidupan,yang seringkali dicibir dan dianggap tabu, seolah-olah 
tempat-tempat seperti terlarang bagi orang baik-baik dan sok suci.
  apakah orang-orang yang sering  'mampir' di dunia 'hitam'/underground, lantas 
dianggap hitam, penuh dosa atau pendosa ? 
  waktu sekolah di belanda, tempat yang paling fenomenal saya lihat adalah 
kawasan red light di downtown amsterdam, kawasan prostitusi yang berdampingan 
dengan gereja, saya jalan-jalan disana bersama teman-teman seharian, sebuah 
kehidupan yang lain, apakah lantas kalo orang pernah kesana, kemudian dicibir " 
memang doyang lu ".
  buat saya hanya Tuhan yang bisa menilai, bukan manusia,  hanya kesombongan 
yang membuat seseorang memberikan judgemnt terhadap orang lain, mungkin sudah 
merasa linuwih, diatas angin, karena kalo sudah profesor seperti gak ada 
matinya...ha...ha..
  saya tidak merasa pamer tuh, saya cuman bercerita apa adanya, its about me, 
what wrong ?
  oh ya tahun lalu saya juga pergi umroh bersama orang tua dan keluarga, 
alhamdulilah, saya spritual saya terasa di charge lagi, batere baru, untuk 
terus menunaikan misi yang diemban saya dari sang The great master di muka bumi 
ini.
  tahun depan rencana berangkat lagi mungkin dengan anak-anak.
   
   
  

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          He he he, baru bisa pake kata "cimeng" aja udah kaya ahli gayanya. 
Bangga ya? Tapi ya maklumlah, manajer perusahaan internasional sih ya. Mana ada 
yang bisa ngalahin kehebatannya? Oh ya, sekali-sekali coba suntik juga, Boss. 
Mungkin untuk perkenalan, coba dulu suntikan anti tetanus.

Memang kalo kelakuan negatif gampang dirasionalisasi. Alasan aling cemen ya 
demi pendidikan anak, biar tahu rasanya gimana, sehingga bisa mencegah 
anak-anak tak sampe kecebur dan segala macam alasan lucu lain. Padahal, ya 
dasarannya doyan aja.

Adakah yang salah? Tak tahu ya. Coba aja tanyakan ke istri dan anak-anak Anda, 
semua yang Anda lakukan sebagai "entertaiment" itu salah atau enggak?

Menara gading? Kalo nggak ngerti arti sebuah istilah, gak usah sok pake istilah 
aneh-aneh deh. Jadi bahan ketawaan orang banyak. Sekali lagi, bangun Pak 
Manajer. Sudah bukan masanya pamer kekonyolan untuk mencapai kebanggan diri 
yang semu.

manneke

Kirim email ke