Mas Agus punya emailnya MarNet? Saya rasa banyak artis/profesional yang 
"berdarah campuran", ingin sharing dengannya.
   
  Salam.
  JS

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Oleh Ninuk M Pambudy & Ilham Khoiri
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/24/urban/3626455.htm
===================

Sebagai model, baik di panggung atau model iklan, Mariana Renata
sangat dikenal. Pada usianya yang 23 tahun, sembilan tahun sudah dia
habiskan sebagai model.

Ketikkan Mariana Renata ke dalam mesin pencari di internet, namanya
akan muncul di Wikipedia Indonesia, semacam ensiklopedia yang dapat
diisi siapa saja yang merasa dapat menambah informasi tentang subyek.
Belum lagi blog yang didedikasikan untuk dia.

Meski begitu, dia tidak banyak berubah dibandingkan dengan tiga tahun
lalu. Penampilan di luar panggung tetap cuek. Yang tampak berubah
adalah dia tidak sepemalu sebelumnya, meskipun kesan pendiam tetap
melekat pada dirinya.

Seperti ketika dia bersama sejumlah model mengikuti latihan menjelang
pergelaran koleksi Biyan Bride di The Papilion, Kemang, Jakarta
Selatan, awal Juni lalu. Dia hanya bersandal dengan baju longgar
berpundak tali dan jaket. Rambutnya pun diikat seadanya.

Orang yang mengenalnya cukup dekat menyebut, seperti itulah sosok anak
tunggal berdarah campuran Perancis-Jawa-Tionghoa itu. Cuek dan tidak
pernah menampilkan dirinya sebagai bintang meskipun memenangi kontrak
iklan dari produk ternama dan menjadi ikon perancang busana Indonesia.

Meskipun awalnya tampak pendiam, tetapi setelah setengah jam ceritanya
meluncur lancar. Bukan hanya dia dapat panjang lebar menjelaskan makna
memiliki darah campuran, dia bahkan langsung menyergah ketika ditanya
bagaimana rasanya menjadi anak tunggal.

"Pasti ditanya dimanja enggak?"

"Bukan. Pertanyaannya, kesepian enggak sebagai anak tunggal?"

"Enggak juga, karena sudah terbiasa. Lagi pula, ada Mama dan Papa...."

Berkah

Berdarah campuran boleh jadi menyulitkan pada banyak orang karena
terombang-ambing di antara budaya yang berbeda. Untuk Mariana,
percampuran itu, yang dia sebut sebagai half-half alias blasteran,
justru menjadi berkah yang dia syukuri karena membuka wawasan dan
pergaulan sejak kecil.

"Dengan dua darah itu saya merasa lebih terbuka dan mudah bergaul
dengan banyak kalangan, menjadi lebih terbuka," katanya saat wajahnya
dirias.

Perjalanan tugas orangtuanya membawa dia ke banyak negara. Lahir di
Paris, Perancis, dia sempat ikut ayahnya yang bertugas di Zimbabwe,
Afrika, selama enam tahun dan bersekolah di taman kanak-kanak di sana.

Orangtuanya lalu menetap di Jakarta dan di kota ini Mariana
menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Setelah itu dia belajar sastra Inggris di Universitas Sorbonne Paris
IV. Kini, dia melanjutkan pendidikan S-2-nya dalam bisnis
internasional di University of New South Wales di Sydney, Australia.

Setiap negeri yang dia tinggali, demikian Mariana, memberi sumbangan
dalam membentuk kehidupannya sekarang. Tentang Indonesia, ini katanya,
"Saya suka baunya."

Lho, kok bau? Rupanya, dia mengidentifikasi setiap negara melalui bau
bandaranya. "Setiap sampai di Bandara Soekarno- Hatta saya mencium bau
Indonesia," katanya. Dia tidak menjelaskan lebih jauh bau seperti apa
yang dia maksud, tetapi dia juga menerima Jakarta apa adanya, termasuk
kesemrawutan lalu lintas dan tata kotanya.

"Saya memilih jadi warga negara Indonesia. Saya mencintai Indonesia.
Rumah orangtua di Jakarta dan saya sekolah dan besar di sini," katanya.

Hidup seimbang

Dia memulai karier modelnya pada usia 14 tahun ketika ditawari menjadi
model melalui ibunya. Yang dia ingat, sesi foto pertamanya adalah
untuk majalah Cosmopolitan edisi Indonesia.

Dari situ kariernya di dunia model terus berkembang. Di dalam negeri,
dia bukan hanya menjadi model di atas panggung pergelaran busana,
tetapi juga menjadi model iklan produk kosmetik dan merek busana. Dia
juga diminta menjadi model di Hongkong, Singapura, Kuala Lumpur untuk
membawakan produk internasional seperti Gucci, Chanel, dan Dior.
Terakhir dia menjadi model pada Australia Fashion Week di Sydney awal
Mei lalu untuk lima rumah mode. Ini dia lakukan di antara waktu kuliah
di Sydney.

Di luar model iklan, dia juga menjajal dunia layar lebar. Debutnya
dimulai melalui Janji Joni sebagai Deasy, gadis kota besar yang naksir
dan ditaksir Joni (Nicholas Saputra), si pembawa rol film layar lebar.
Selain itu, dia juga terlibat dalam beberapa video klip.

Menjalani kehidupannya saat ini, dia mengatakan akan menjalaninya
saja. "Biar mengalir saja, sudah direncanakan jauh-jauh ternyata
berubah juga," katanya.

"Ini dunia yang asyik. Saya bisa melakukan hal yang aneh-aneh,
terutama jalan-jalan ke banyak tempat dan mengenal banyak orang," katanya.

Dia berusaha membagi waktunya dengan seimbang antara dunia sekolah
yang tetap menjadi fokus utamanya saat ini, dunia model, dan kehidupan
pribadinya. Pilihannya pada bisnis internasional pun nantinya dia
rencanakan akan dapat mendukung aktivitasnya di dunia model.

Di antara mata kuliah yang dia sukai saat ini adalah cross cultural
management. Mata kuliah ini kata Mariana mengajarkan tentang pemahaman
budaya-budaya dan bagaimana mengelola budaya itu dalam berbisnis.
Pelajaran yang paling dia tidak sukai saat ini adalah akuntansi.
"Enggak tahu kenapa, mental blocking aja. Mudah-mudahan lulus," kata dia.

Di antara waktu untuk sekolah dan bekerja itu dia menghabiskan waktu
bersama teman-teman. Sekadar jalan-jalan atau nongkrong sambil makan.
Tentang pacar, dia mengaku punya. "Orang Jakarta. Sampai di situ saja,
saya tidak ingin membicarakannya," kata dia. Itulah Mariana, cuek,
masih sedikit pemalu, dan sangat menjaga kehidupan pribadinya. 



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke