Seharusnya yang menangis itu aku, kami-kami atau seluruh rakyat
Indonesia yang melihat penderitaan rakyat yang mana "Lapindo"
menenggelamkan satu perkampungan.
Bukankah SBY yang nota-benenya Presiden yang mempunyai kekuasaan
seharusnya bisa bergerak cepat, bijaksana dan tidak ragu-ragu.
Sekarang selaku Presiden, SBY cuma bisa menangis. Pada saat Presiden
menangis mungkin pada saat yang sama ratusan ribu bayi Indonesia
menangis butuh air susu, jutaan anak Indonesia menangis akibat
kemiskinan. Apakah Presiden terus menangis, menangis, menangis,
menangis dan cuma bisa menangis. Menangis itu gombal.

Kirim email ke