Kasihan juga P SBY kita ini, apa yg dibuat memang selalu serba salah, abis memang sering aneh sih dan lucu...
Buat saya kali ini penyelesaian yg akan diambil cuma akan makai duit negara ngebayarin rakyat spy bisa terasa hasil turun gunung beliau [ nggak turun gunung sebenarnya juga bisa sih hehehe..] . Penyelesaian yg bisa memaksa Lapindo bayar sepertinya sangat mustahil karena disamping sang Bhuto Cakil ARB sangat lihai, nggak mau keluar duit, juga syarat2 buat bayar nya sebenarnya juga sangat logis, misalnya soal sertifikat dll itu. Makanya lucu juga kalau Mas EMHA sampai naik gunung bawa para wakil rakyat nan menderita ke SBY hingga bisa bikin P SBY nangis, marah dll Kayaknya semua yg terjadi nggak terlalu susah mengertinya, tanpa harus ngantor di tempat lumpur disana... Mestinya nanti akan ada LSM yg cekatan , nuntut P SBY yg kerjanya nggak effisien , karena solusi nya saya hampir pasti hanyalah pemerintah nalangin aja, bayar kurban Lapindo ini tanpa syarat yg ketat [ sesuai hukum ...] Artinya semua juga akan diluar hukum alias cari gampangnya saja... Kalau belum terlambat, saya ingin mengusulkan [ tanpa tahu terlalu detail nih berapa titik semburan lumpur panas nya ] untuk menyumbat semburan lumpur yg keluar itu ala P Djaja Laksana yg ' berhasil' menyumbat semburan air di Porong juga. Caranya, disekitar titik semburan lumpur panas itu diusahakan pemancangan tiang fondasi yg mengelilingi titik itu, dan di sekat semua tiang fondasi nya macam dinding bantaran sungai banjir kanal, semua precast supaya bisa cepat. Kita bisa saja memperkirakan berapa tekanan semburan lumpur itu [rasanya nggak sampai 2 atmosfir ] hingga kita lakukan penyambungan tiang fondasi itu seperlunya , mungkin setinggi 30 meter . Kalau saja sang lumpur keluar terus dan dibendung oleh tiang2 fondasi dan dinding precast [ nggak usah terlalu rapat tiang fondasinya , karena yg diharapkan lumpur bisa dibendung aja dengan dinding precast ] maka apabila tinggi lumpur akan mencapai 20 meter , lumpur itu akan menyumbat sendiri semburan lumpur panas itu. Persis kayak pipa2 yg dipasang P Djaja Lakasana di titik sembur air dan dengan ketinggian kabarnya 20 atau 30 meteran itu... Kalau saja masih kurang , sebelum luber, kita bisa saja mengusahakan menambah tingginya tiang fondasi dan dinding precast hingga semburan lumpur itu mendapat beban yg cukup buat menyumbatnya. Teknologi memancang di rawa2 atau pinggiran sungai atau laut rasanya sdh banyak dilakukan putra2 bangsa ini , juga banyak ahli2 kita soal ini siapa tahu musibah 'terbesar ' didunia macam ini bisa kita selesaikan dengan cara yg sederhana itu ? Kalau berhasil penguburan titik semburan lumpur panas itu bisa saja dijadikan monumen kebesaran peringatan , kecerobohan putra2 bangsa yg serakah tapi semberono hingga memalukan bangsa kita... Salam , martin - jakarta ----- Original Message ---- From: Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, June 25, 2007 7:04:17 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Presiden Menangis Dengar Derita Korban tapi dulu kan belum turun gunung... smile.. sekarang setelah bertapa di gunung .. baru mau turun.. kita cuma mesti uji.. airmatanya tipe apa.. air mata duyung.. airmata kekasih.. atau air mata...... barusan dengar andi malarangeng di wawancara Metro TV.. dialupa pernhabilang bhw urusan Lumpur ini salah alamat kalau mau ngadu ke Presiden.. Terus lagi.. apa ya hukumannya para pejabat yang ditugasi ngurus Lumpur ini.. sampai bikin Presidennya nangis.. pantasnya sih di pecat ya.. Salam Haniwar
