iscab: Saya menonton televisi di Jerman. Ada beberapa hal yang menarik. 1. Film horor itu untuk 16 tahun ke atas, diputar di atas jam 10 malam 2. Film yang keluar darah-darah itu untuk 16 tahun ke atas, diputar di atas jam 10 malam 3. Film sadis itu untuk 16 tahun ke atas, diputar di atas jam 10 malam 4. Film erotik itu untuk 16 tahun ke atas, diputar di atas jam 12 malam 5. Tidak ada adegan pemerkosaan secara eksplisit di televisi (contoh: Film General's Daughter yang dibintangi John Travolta disensor/dipotong) 6. Tidak ada film porno di televisi 7. Adegan ciuman tidak dipotong
Bagi televisi Jerman, film erotik dan film porno dibedakan. Dalam film erotik tidak ada penetrasi seksual dan tidak ada alat kelamin pria yang sedang ereksi. Film porno di Jerman hanya bisa dibeli dalam bentuk video (VHS, CD, DVD) dan tak mungkin masuk televisi. Oh, ya, di Jerman juga tertib. Kasir toko dan bioskop pasti nanya kartu identitas kepada orang-orang yang bertampang muda, yang mau beli majalah, komik, film, dan game komputer. Beda dengan Indonesia, game Resident Evil bisa dijual kepada anak SD dan SMP. Bioskop 21 yang pakai tulisan "di atas 17 tahun" di Indonesia, tidak melakukan pemeriksaan KTP kepada penontonnya. Nah, seingat saya di Indonesia 1. Film horor dipasang kapan saja, siang jam 1 (jam anak pulang sekolah) dan malam jam 7 atau 8 (jam anak masih bangun di rumah) 2. Film yang keluar darah, termasuk berita yang berisi orang keluar darah, dipasang kapan saja. 3. Film sadis juga diputar kapan saja 4. Film erotik pernah diputar Lativi selewat jam 12 malam, dengan adegan dipotong. Kaga asyik nontonnya, mending kaga usah diputar. Ceritanya jadi kaga jelas. 5. untuk film porno, pastilah di televisi Indonesia tidak mungkin ada. 6. Adegan ciuman kadang-kadang tidak ditampilkan di televisi Oh, ya, balik ke sinetron Indonesia. Memang sih sinetron Indonesia banyak kekurangan. Banyak adegan tidak perlu, ceritanya sering tidak realistis, cenderung komikal, dan lain-lain. Mungkin masalahnya adalah sistem kejar tayang yang membuat penulis cerita juga ikut kejar-kejaran dengan tampilan di televisi. Bikin cerita sering kaga pakai konsep. Selain itu, sepertinya tim penulis cerita sering gonta-ganti orang, jadinya cerita sinetron dari awal hingga akhir tidak punya alur yang jelas. Kalau tidak bisa bikin film seri bersambung ala mayoritas sinetron Indonesia, sebaiknya membuat film seri yang tidak bersambung, jadi tidak punya masalah dengan alur cerita. con... On 6/29/07, ari aristides <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Selama ini nampaknya memang sebagian besar sinetron-sinetron dan beberapa > program lain yang ditayangkan di televisi-televisi Indonesia gak punya > sumbangan untuk mencerdaskan pemirsanya. Sebaliknya program2 tersebut justru > lebih banyak meracuni pemirsanya (misalnya: berisi sadisme, eksploitasi > seksual dan gilanya gak sedikit sinteron yang merupakan hasil jiplakan dari > film luar negeri). > > Namun ironisnya, meski sudah banyak kritikan atau bahkan kecaman dari > berbagai pihak, tak ada satu lembaga pun yang punya kekuatan tegas untuk > mengontrol tayangan-tayangan beracun tersebut. (KPI mana?) > > Maka sebelum ada lembaga yang tegas mampu mengontrol tayangan-tayangan > beracun, kekuatan untuk menghentikan tayangan beracun ada diujung jari kita. > Jangan tonton tayangan-tayangan beracun. Bila semua TV secara bersama-sama > menyajikan tayangan beracun, maka bersama-sama pula kita harus tekan tombol > OFF di remote control tv kita. > [Non-text portions of this message have been removed]
