Presiden lemah bukan karena banyaknya partai politik. Presiden lemah
karena orang-orang yang ada didalam partai politik itu MISKIN. Miskin
bukan diukur dari materi, miskin disini dilihat dari berbagai hal
dalam menghadapi permasalahan-permasalahan bangsa. Kalau tidak miskin
mengapa hanya menelorkan ide interpelasi, amandemen uud,dan minta
jatah laptop demi peningkatan kinerja anggota dewan, dan lain-lainya. 

salam 
luka 









--- In [email protected], "Agus Hamonangan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/28/utama/3633066.htm
> =========================
> 
> Jakarta, Kompas - Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang juga Ketua Umum
> Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, menilai pemerintah yang
> terbentuk pada era reformasi, dimulai dari Presiden BJ Habibie hingga
> Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lemah. Lemahnya pemerintah itu
> disebabkan banyaknya partai politik yang dibentuk tanpa tanggung jawab
> jelas.
> 
> "Situasi seperti ini harus dialami oleh pemerintah yang dipimpin siapa
> pun, apakah Habibie, Gus Dur, Megawati, atau saat ini (Yudhoyono).
> Pergantian pemerintahan tidak menghasilkan pemerintah yang kuat," ujar
> Kalla saat menjamu makan siang 156 peserta Pendidikan Politik Kader
> Bangsa (P2KB) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di
> Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (27/6).
> 
> Peserta P2KB datang didampingi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional
> SOKSI Syamsul Muarif. SOKSI adalah salah satu dari tiga organisasi
> yang membidani lahirnya Golongan Karya yang pada saat reformasi
> berubah menjadi Partai Golkar.
> 
> Menurut Kalla, karena lemahnya pemerintah sejak reformasi, Indonesia
> tidak membuat karya besar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
> Reformasi yang diawali tumbangnya Presiden Soeharto hanya dipenuhi
> banyaknya orang bicara. "Dalam 10 tahun terakhir, coba lihat, apa yang
> kita buat? Kita tidak membuat sesuatu yang besar," ujarnya.
> 
> Agar dapat membuat karya besar, menurut Kalla, dibutuhkan pemerintah
> yang kuat, tetapi terawasi. Untuk menghasilkan pemerintah yang kuat
> sekaligus terawasi atau tidak otoriter, Kalla mengusulkan ide lama
> yang kerap disampaikannya sejak tahun 2005, yaitu penyederhanaan
> parpol, tentu saja dengan cara-cara demokratis.
> 
> Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari
> mengemukakan, penyederhanaan parpol, seperti dikemukakan Kalla,
> merupakan variabel menuju stabilitas politik untuk hadirnya pemerintah
> kuat. "Jadi, penyederhanaan parpol bukan hal fundamental untuk
> menghadirkan pemerintah yang kuat," ujarnya.
> 
> Namun, menurut dia, penyederhanaan parpol menjadi tujuh atau lima tak
> serta-merta menghasilkan partai dengan dukungan lebih dari 50 persen.
> Demokrasi di Indonesia justru membuat pilihan politik terfragmentasi.
> 
> "Penyederhanaan parpol saja tidak cukup, dibutuhkan koalisi. Untuk
> koalisi, kita tidak punya tradisi baik. Belum ada koalisi yang dibuat
> tertulis dan ideologis atau setidaknya programatis. Koalisi dilakukan
> hanya untuk kepentingan praktis. Ini repotnya," ujarnya. (INU)
>


Kirim email ke