Saya kebetulan tidak melihat liputan yang dimaksud. Tapi mungkin
sekali intinya adalah perbedaan persepsi dalam melihat bendera.

Saya juga sepakat bahwa penghormatan kita terhadap bendera negara
perlu diingat walaupun dalam konteks demonstrasi dengan kritik
membangun.

Masalahnya tidak semua orang melihat bendera dengan konteks yang
sama. Buktinya saya baca di Kompas bahwa pemuda penari cakalele ada
yang bercelana dalam (maaf) bendera RMS. Katanya ini meniru model
Amerika yang dengan santai mengumbar kebanggaan negara melalui
pakaian dalam sekalipun.

Kalau kita tidak senang melihat orang lain membakar bendera negara
kita, sudah sepantasnya kita juga ikut menjaga rasa hormat terhadap
bendera yang diperjuangkan pengibarannya dengan nyawa para pejuang
kita. Tapi surat ajud ri memang terlalu penuh kemarahan. Kita harus
belajar menahan diri (walaupun kata-kata belum menjadi kenyataan)dan
mengurangi budaya kekerasan dan main hakim sendiri di NKRI ini.


--- In [email protected], yuli ani
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> kayaknya ini bukan pembaca kompas deh, bahasanya kasar, kurang
ilmiah,  simbolik, he.....lah wong  bendera, sekolah, dan tempat
upacara di sekolah-sekolah Porong semuanya terendam lumpur dan gak
ada yang marah. lucu ya parodi bangsa kita.

Kirim email ke