> Sana Sinceraque Magnanimitas > > > > Maknanya: Jiwa yang lapang, sehat, serta tulus. Minimal itulah > karakter kejiwaan yang kini semakin langka tetapi sangat dibutuhkan > bangsa kita. > > Jiwa yang sehat dibutuhkan karena jiwa yang sakit akan menyebarkan > "virus penyakit pikiran" yang infektif pula. Tidaklah mungkin jiwa > yang sakit akan mampu menyebarkan suplemen-suplemen jiwani yang > sifatnya sehat. > > Jiwa yang tulus diharapkan akan mampu memfasilitasi hal-hal yang > bermanfaat bagi orang banyak. Jiwa yang penuh sirik, dengki, apalagi > dendam tak mungkin melakukan hal-hal positif seperti itu. > > Jiwa yang lapang dan jembar menampung semua kekurangan manusia yang > lain. Sebaliknya, jiwa yang sempit dan kerdil hanya mengejar tujuan > ego pribadi lewat penghalalan secara macam peluang dan cara. Jiwa yang > sempit bernafsu untuk menyedot "hampir segalanya" demi kepentingan > dirinya sendiri tanpa berpikir untuk menyisakan sesuatu bagi orang > lain, apalagi bagi orang banyak. Fokus pikirannya hanya tertuju kepada > kepentingan dirinya atau maksimal bagi kelompoknya sendiri. Untuk > mencapai pemenuhan kepentingan-kepentingan jangka pendek dengan > mengabaikan kepentingan jangka panjang bagi semua pihak. > > > > Para pembalak hutan merupakan contoh gamplang type manusia yang hanya > mementingkan kepentingan sendiri dan kepentingan jangka pendek. > Keuntungan besar sesaat - selagi ada peluang merupakan tujuan yang > ingin dicapai dengan segala macam cara, baik cara-cara legal maupun > yang haram, penuh nuansa KKN termasuk yang berdampak buruk bagi > keseluruhan masyarakat sekalipun. Para pemasok pasir bangunan untuk > kepentingan negeri lain juga memiliki jiwa dan wawasan kebangsaan yang > kerdil. Kalau perlu suatu pulau di perbatasan ditenggelamkan demi > deposit pasir yang akan diekspor sekalipun pulau itu menjadi tapal > batas terjauh bagi bangsa kita itu sendiri. Kepentingan nasional kerap > dikalahkan demi keuntungan dan kepentingan individu. Entah itu > kepentingan murni swasta maupun yang didukung oleh oknum aparat > penguasa, entah itu sipil atau mungkin pula non-sipil. > > > > Para pembangun superblok di kawasan kota besar yang mengorbankan > kepentingan orang kecil juga memiliki jiwa yang sakit, jiwa yang tidak > tulus dan yang jiwa yang tidak lapang. RUTR, penataan kota dan > perizinan pembangunan semuanya berada di dalam kekuasaan para birokrat > pemda dan parlemen daerah. Penanaman modal berada di dalam kuasa badan > koordinasi PMA dan PMDN. Para pemodal asing maupun lokal tidak akan > berdaya apa-apa bilamana para birokrat kita mempunyai jiwa yang sehat, > tulus dan lapang. Kolaborasi elit politik dan kapitalis biasanya > berfokus pada peningkatan pendapatan daerah, kemakmuran kelompok dan > diri sendiri. Fasilitas sosial, fasilitas pemerintah maupun > gedung-gedung bernilai historis dan kebudayaan klasik yang terletak di > kawasan strategis kerap dikorbankan demi kepentingan bisnis yang > mendatangkan keuntungan materiil nyata (maupun potensial) dengan > mengorbankan kepentingan rakyat kecil. Bila di kemudian hari ternyata > terjadi miskalkulasi dan superblok itu merugi karena kekurangan > peminat yang berdaya beli, maka yang dikorbankan ialah pihak perbankan > yang diajak berkolaborasi sejak semula untuk mengucurkan dana yang > bersumber dari akumulasi dana deposito rakyat. Sebaliknya kehancuran > bank sedapat mungkin dicegah oleh birokrat keuangan pemerintah dengan > dalih mempertahankan kestabilan moneter dengan cara mengucurkan dana > pemerintah lewat program BLBI dan sejenis itu yang jelas-jelas > bersumber pula dari uang simpanan dan pajak dari rakyat. Pihak elit > incumbent berusaha menggalang dana -- lewat segala cara kolaborasi > yang memungkinkan - untuk persiapan dana bagi pilkada selanjutnya > setelah merampungkan "pembayaran balas jasa" pra-pendanaan biaya > pilkada sebelumnya. Gejala seperti ini tampak hampir merata di semua > kota di Indonesia ini. > > > > Para pedagang informal digusur demi pembangunan beragam supermarket > yang penghuniannya kemudian dikuasai oleh segelintir golongan > pebisnis menengah dengan (pasti) mengorbankan para pedagang informal > emperan secara massal. Pasar-pasar tradisional dikorbankan demi > pembangunan pasar modern. Rumah sakit yang biasa-biasa dan terjangkau > dikorbankan demi pembangunan rumah sakit bertaraf internasional dengan > tarif yang selangit. Sekolah-sekolah biasa ditempat strategis > dikorbankan demi kepentingan bisnis yang lain yang lebih menguntungkan. > > > > Seorang pemilis bertanya apakah ada suatu knop yang dapat ditekan > sehingga kita mampu berubah menjadi "manusia ideal" seperti itu: > yaitu manusia yang berjiwa lapang, sehat dan tulus? Sayang sekali > jalan pintas seperti itu tidak ada - dan tidak pernah akan ada. Hal > ini menyangkut pendidikan budi-pekerti dan pendidikan nilai yang harus > dimulai secara individual dan sejak dari masa balita. Hal ini juga > menunjukkan bahwa Sistem Pendidikan Nasional kita belum memiliki > strategi benar dan yang tepat sasaran. Seperti sifat semua pendidikan > -- di bidang apapun - maka hal seperti itu harus berjalan secara > perlahan, bertahap, dan bersifat terus menerus serta berjangka > panjang, bahkan bersifat pendidikan seumur hidup (life long moral > education). Betapa banyaknya para sarjana kita yang masih terkesan > berjiwa kerdil, sempit wawasan, dan tidak berjiwa tulus. Kalau > berbicara (atau menulis) kata-katanya kerap dangkal, kasar serta "ad > hominem" yang artinya tidak (atau belum) mengadopsi nilai kesantunan, > nuilai toleransi dan nilai altruisme sekalipun pasti memiliki nilai > kecerdasan. Apa yang disampaikan kerap lebih merupakan pelampiasan > kekesalan diri sendiri terhadap apa yang secara normatif dinilai > salah, pongah, tercela atau tidak pada tempatnya pada pihak liyan. > Tanpa mereka sendiri mau dan mampu memberikan kontribusi apalagi > solusi yang bermanfaat. > > Perbaikan dunia selalu mulai dari perbaikan bangsa-bangsa. Perbaikan > nasional dimulai dari perbaikan lokal. Perbaikan lingkungan lokal > dimulai dari perbaikan dalam keluarga. Perbaikan keluarga selalu dan > selamanya dimulai dari perbaikan diri sendiri. Marilah kita berikhtiar > bersama-sama untuk mengubah diri kita sendiri -- tanpa memusingkan > perubahan orang lain -- untuk (berusaha) menjadi manusia yang memiliki > jiwa yang semakin jembar, sehat dan tulus. Ukuran keberhasilannya > sendiri bukan urusan ataupun hasil penilaian anda atau saya melainkan > pada Dia yang menjadi pencipta semuanya. > > > > Jakarta, 9 Juli 2007. > > Mang Iyus > > >
[Non-text portions of this message have been removed]
