Mas Papuan Diary,

Mungkin Anda perlu baca pelajaran SMP/SMA lagi, belajar dari Sukarno 
Hatta bagaimana seseorang itu menjadi pejuang kemerdekaan dan bukan 
promotor rasisme. Pelajari lagilah bagaimana Sukarno bilang bahwa 
dia membenci kolonialisme tapi tidak membenci Bangsa Belanda.

Tulian Anda di bawah bukan tulisan separatis, tapi tulisan rasis.

Andi

--- In [email protected], "Papuan Diary" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Budi,
> 
> Bukankah Bas Suebu seorang pengusaha? Wajar kalau anaknya hidup 
mewah
> seperti itu, saya tidak iri, atau tidak mempermasalahkannya.
> 
> Sekedar catatan;
> 
> Barnabas Suebu disingkirkan dari jabatan gubernur pada tahun 1980-
an adalah
> karena programnya yang lebih banyak menyentuh masyarakat bawah.
> 
> TNI dan Jakarta menganggap ini berbahaya, maka dia dibebas 
tugaskan dan
> ditempatkan sebagai Dubes di Meksiko. Mengapa programnya yang 
bagus itu
> tidak diperkenankan oleh TNI dan Jakarta?
> 
> Silahkan anda tanya pemimpin bangsa anda. Mereka berlaku jujur 
atau malah
> sebaliknya. Budi, saya sangat paham budaya Jawa, saya bahkan 
mengerti apa
> itu filosofis Jawa, saya mengetahui jati diri anda luar dalam, 
jika anda
> memang orang Jawa.
> 
> Mentalitas hamba sahaya masih melekat di jiwa Bangsa Indonesia ini 
karena
> faktor budaya dan folosofis tadi, kalau di Papua, kami akan lawan 
setiap
> kelaliman yang hadir, apapun resikonya, kami mau katakan benar 
bila benar,
> dan salah jika salah.
> 
> Berapa banyak yang sudah diambil dan dimasukan ke pundi2 kekayaan 
Bangsa ini
> akibat eksploitasi Papua yang tak kunjung selesai?
> 
> Sdrku, jadilah manusia sesungguhnya. Jadi manusia yang memiliki 
hati nurani,
> jadi manusia yang bermartabat, pandanglah nilai kemanusiaan 
sebagai suatu
> nilai yang indah harganya, jika anda dan teman2 lain masih 
berpendapat
> seperti saat ini, yah, itu sah-sah saja. Kami cukup demokratis 
untuk
> menerima perbedaan pendapat, itu biasa dalam budaya kami.
> 
> Kami egaliter, itu biasa dalam budaya kami. Kami tidak mau menipu 
demi
> sesuatu yang tidak benar.
> 
> Apapun alasana teman-teman, rakyat Papua, setahu saya, sudah 
berkomitmen
> untuk memperjuangkan pembebasan nasional Papua, sampai TITIK DARAH 
TERAKHIR!
> Kalau kami habis, mati di Tanah ini, biarlah itu menjadi sejarah 
umat
> manusia yang akan hidup diabad-abad yang akan datang.
> 
> Selesai!
> 
> On 7/8/07, budi satria <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Saya simpati yg dalam bagi masyarakat Papua atas belum 
berakhirnya
> > pelanggaran HAM atas bumi Papua yang kaya-raya.
> >
> > Saya hanya ingin komentar soal Barnabas Saebu, ini orang kenapa 
bisa
> > akembali menjadi gubernur? Bagaimana rekam-jejak-nya?
> > Th '89an, kakak kelas saya kembali ke tanah air dari study USA, 
dia cerita
> > dari sekian banyak anak Indonnesia yg sekolah, diantaranya yg 
paling
> > menonjol gaya hidup mewahnya adalah anak dari Barnabas Saebu yg 
waktu itu
> > pernah jadi gubernur Irian Jaya, jadi kami menduga selama 
berkuasa dia
> > "dicekoki" setoran langsung oleh Freeport yg mana itu merupakan 
hak atau
> > bagian rakyat jelata Papua.
> >
> > Jadi, maling teriak maling, tidak jujur, tolong saya dikoreksi, 
CMIIW.
> >
> > salam jujur
> > ibud
>


Kirim email ke