Pak Haniwar,
   
  Saya sedikit tahu tentang apa yang dilakukan di Kanada. Di negeri itu, setiap 
profesi harus disertifikasi oleh pemerintah, Seorang pelayan restoran pun punya 
sertifikasi, dan secara berkala tempat kerjanya didatangi inspektur.
   
  Saya punya teman yang punya toko kue. Suatu hari dia didatangi inspektur, 
yang menjumpai bahwa salah satu kulkasnya suhu udaranya kurang rendah. hari itu 
juga dia disuruh tutup dan baru boleh buka lagi setelah suhu udara di kulkasnya 
sesuai dengan keketapan depkes. Tiap satu jam sekali dia diwajibkan menelpon 
kantor inspektur itu untuk melaporkan perkembangan suhu kulkasnya. Sambil 
menunggu, semua kue yang ada di kulkas itu harus dibuang. 
   
  Baru-baru ini, ada 20 restoran di Vancouver yang ditutup dan emiliknya mesti 
ikut proses seretifikasi ulang karena gagal memelihara standar 
kebersihan/kesehatan yang ditetapkan depkes.
   
  Penjual hotdog di pinggir jalan juga harus dapat sertifikasi depkes, dan tak 
bisa jualan seenaknya. 
   
  Masalahnya, kredibilitas pegawai-pegawai pemerintah di negeri kita ini nyaris 
nol. Dikasih wewenang buat inspeksi dan sertifikasi, bisa jadi malah dipakai 
buka lahan cari duit. Jadi, concern utmanya bukan pada mutu, melainkan gimana 
cara mempertebal kantong sendiri.
   
  Dalam keadaan begini, jalan terbaik--meski tak praktis dan mahal 
biayanya--adalah memakai lembaga sertifikasi internasional. Banyak kan 
perusahaan sudah melakukan hal ini melalui ISO dll. Saya pikir, universitas pun 
harus melakukan hal ini dengan mengundang badan akreditasi internasional, 
daripada pakai BAN yang kacau balau itu.
   
  Yang saat ini bisa dilakukan, misalnya, adaah berkenaan dengan 
maskapai-maskapai penerbangan kita yang lagi di-banned di mana-mana. Hanya 
dengan mengundang lembaga asesmen internasional maka mereka baru akan bisa 
diakui lagi standar keamanan penerbangannya. Mungkin Pak Wal Suparmo lebih tau 
apakah lembaga semacam ini ada.
   
  manneke
  

Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Masn Manneke,

Sebenarnya yg saya tanyakan bukan soal profesi butcher.., tapi bagimana 
kelaziman di negara lain soal kompetensi ini.

Di Indonesia kini dengan UU , ada yg namanya BNSP Badan Nasional 
Sertifikasi Profesi yg lamgsung dibawah Presiden..

Dan Lembaga inilah yang berhak mengakreditasi suatu LSP. ,juga 
menyetujui standar kompetensi yang di buat oleh LSP.

Teorinya, LSP di bangun bersama yaitu ada dewan pengarah , yg seharusnya 
terdiri, dari asosiasi profesi , asosiasi industri, pakar dan pemerintah.

Lalu LSP membuat standar kompetensi, memiliki assesor , yang akan mengujui 
mrk yg mau dapat sertifikat, dan juga punya Tempat untuk uji Kompetensi..

Ada beberapa yang konon sudah jadi. misalnya standar kompetensi pariwisata, 
kompetensi Maritim,, dan mungkin lainnya

Maunya sih sertifikat kita itu diakui dunia internasional., jadi 
pemiliknya mudah kerja juga di LN..

Saya diajak ikut membentuk LSP , sebagai salah satu wakil asosiasi industri.

Disini sy mulai kecewa, BNSP spt mengejar setoran agar terbentuk banak 
LSP., supaya dianggap berhasil , . yg bisa bermuara rendahnya mutu LSP yg 
disertifikasi.

LSP nya yang kayaknya mengejar untung mau narik duit utk keluarkan 
sertifikat komnpetensi.

Padahal ya itu.. harusnya kan tujuannya membuat orang jd kompeten dalam 
bidang tertentu ,. bukan membuat orang punya sertifikat kompetensi ttp 
nyatanya nggak kompeten., karena misalnya standar kompetensi maupun metode 
pelatihannya menyedihkan.

Belum lg sistimatik ayang acak acakan..

BNSP Indonesia ini. telah memutuskan untuk ikut cara Australia.., jadi 
memang kiblatnya bukan Jerman. atau kanada.

Konon katanya di Australai, pendidikan kompetensi bisa mulai dr pemberian 
sertifkat kompetensi untuk beberapa kompetensi, sampai jihga bisa ke 
jenjang D1 sampai D4., dan dnegan penyesuaan khuss nlaliu bisa juga jadi S 1.

Jadi orang ini sampai D4 , memang nggak masuk ke UNI.

Melihat konsepnya ...saya pikir .. ini bagus sekali... , mending anak 
ijazah SMP, tapi punya kompeten untuk bidang keahliantertentu .., misal 
bikingigi palsu.. atau kompeten di bidang memasak.., ...

daripada lulusan SMA yang nggak punya kompetensi apa apa..

Rasanya ini bisa menjawab efisiensi yang dituntut di dunia usaha 
skearang.. tapi yaitu.. lho... , pembinanya aja.. ada Depnaker .., 
depdikbud dan dep. teknis, kalau industri daging ya Departemen Pertanian.

Mungkin juga karena sosialisais yg kurang.., nbggak orang pemerintahnya, 
nggak swastany amasih kebingungan.. lalu lihat mana yg bis amenghasilkan 
uang aja... padahal menurut saya harusnya pemerintah lebih serius mendorong 
ini., karena ini adalah investasi di SDM.. yang akan sangat begruna dlm 
persaingan di era global ini.

Salam

Haniwar

Kirim email ke