Terima kasih bung Puput, sekaligus maaf karena salah duga. ( He he saya juga
pernah disapa ibu di forum ini).
Jika tingkat penggunaan radioaktif seperti kini di serpong saja sudah
mengakibatkan hal ini, bagaimana kita yakin bahwa di wilayah sekitar reaktor
tidak lebih parah lagi.
Merujuk Posting bung yang lain disini, apa sebenarnya yang terjadi pada 2
agustus 2005 ? Yang saya ingat, media pernah heboh karena kawasan Krakatau
Steel kehilangan pile pile limbah radioaktif pada 20 Oktober 2000. Kasus ini
pun tidak pernah ada penjelasan lebih lanjut...apa sebenarnya yang terjadi.
Waktu itu dikuatirkan bahwa kehilangan itu terkait dengan operasi kelompok
teroris yang dapat menggunakan limbah limbah tersebut untuk membuat Dirty Bomb.
Para proponen PLTN mbok ya ojo rumongso iso neng ora iso rumongso.
Salam, Irry
Puput <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan Irry,
Itu hasil penelitian Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan KLH (untuk
exposure Pb di udara ambient mulai 2001 s.d. 2006), dan penelitian FKM UI
(untuk BLL, blood lead level atau kadar timbel dalam darah anak-anak; dilakukan
tahun 2003 dan 2005). Baik Pb di udara ambient maupun Pb di dalam darah
anak-anak menunjukkan bahwa semakin dekat posisi samples ke kawasan Puspitek
Serpong, menunjukkan paparan yang semakin tinggi.
Salam,
Ppt
Bung Irry, sebagai catatan saya bukan Ibu ya tapi Mas atau Pak.