Bung Haniwar,
Terima kasih atas kuliah singkat Ekonomi Pembangunan
yg komprehensip dari  anda. Sayangnya kondisi kita
sudah tidak lagi 'comfortable" untuk melaksanakan
'gagasan alternatip" yang anda paparkan kembali tsb.
Kita tahu tentang semua itu ,tetapi kita juga tahu
bahwa apa yang dikerjakan oleh  kawan-kawan kita yang
sempat mendapat kekuasaan untuk menetapkan "
merah-hijaunya atau hitam -putihnya" negeri ini.
Hampir sebagaian besar kebijakan yang diambil adalah
yang bertentangan dengan rekomendasi teori atu kalau
toch dilakukakan tidak dengan istiqomah. Kita hanya
sekedar duduk dibangku "pengamat", untung saja tidak
jadi "penjahat". Paling banter yang kita dapat lakukan
adalah memberikan "kritik dan saran". Pengalaman saya
, kalau banyak mengritik ya akhirnya "tidak diundang
diskusi" Bagi saya sih " se bodo amat". TIDAK DIUNDANG
DISKUSI ATAU TIDAK DIPAKAI, GAK PATEKKEN! (istilah
JATIM). Tetapi dengan bergulirnya sang waktu maka
sampailah negeri ini kepada kondisi yang sudah sangat
runyam ini. Kita sudah ketinggalan dibandingkan dengan
bangsa dan negara lain yang menjadi "peer kita" .
Mulai dari Korsel, Taiwan, Malaysia, China, India dan
sekarang Vietnam. kalau Pak Harto dahulu
berangan-angan dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjangnya untuk TINGGAL LANDAS. Ternyata karena apa
yang dilakukan tidak seperti yang diomongkan maka kita
(apalagi setelah dilanda Krisis Ekonomi) TERTINGGAL
DAN AMBLAS DI LANDASAN.
Saya benar-benar tidak punya optimisme bagi negeri ini
dalam pembangunan ekonomi kedepan mengingat "sistem
ekonomi" Indonesia yang sudah carut marut dan centang
perenang alias amburaduk seperti sekarang ini .
Masihkah ada peluang? Mungkin Bung Haniwar punya
jawabannya. Merdeka, Tjuk KS  
--- Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas  Tjuk,
> 
> saya juga galau  kalau sbg negara agraris kita  kok
> hampir seluruh 
> kebutuhannya   diimpor.
> 
> 
> Cuma bedanya...
> 
> teriakan saya :;  tingkatkan produksi... dan bukan
> .. larang impor ...
> 
> Saya menangarai banyaknya orang  yg menggunakanan
> issue populis .. "larang 
> impor  demi kepentingan petani " justru bukan
> berbuat sesuatu 
> utk  peningkatan produksi dan kesejahteraan di
> tingkat petani...
> 
> Seringkali.. permintaan proteksi ..dan larangan
> impor tidak berbuah .. 
> peningkatan produksi baik jumlah maupun efisiensi..
> apalagi kesejahteraan 
> petani
> 
> 
> Malah cuma melindungi kekuatan monopoli pasar yg
> telah dimilikinya.. entah 
> oligopoli DOC .. entah monopoli  pembelian tebu
> rakyat... . entah pula 
> melindungi monopoli bisnis impor sapi hidup..
> 
> 
> Tapi siapa yg berbuat nyata meningkatkan produksi
> gula,  daging , padi 
> dsbnya..???
> 
> Orang berebut jadi pimpinan  HKTI, bukan mustahil
> hanya jadi kendaraan 
> politik saja, giliran  omong harga beras.. mau
> melindungi rakyat.. kalau 
> ganti baju omong tarif tol.. pastilah beliau maunya
> menggencet rakyat dgn 
> harga tol setinggi tingginya..
> 
> Coba kita ganti bicara... : ayo dunia peternakan
> ayam sudah berapa lama 
> menerima proteksi.. kapan bisa meningkatkan produksi
> .. sehingga rakyat 
> menikmati  harga ayam yg kompetitif..
> 
> ayo bagaimana menaikkan produksi padi sehingga
> mencapai 7 ton per ha.. 
> sehingga harganya bisa turun, nggak usah impor lagi
> dan petani  walau harga 
> pe rkg turun tapi jumlah naik bisa untung.
> 
> kalau perlu proteksi.. ayo sampai kapan ???
> 
> 
> Ayo.. kapan .. pemggemukan sapi impor berhenti.. dan
> kapan kita bisa 
> produksi sapi sendiri..
> 
> Titik teriakannya.. bukan kurangi impor..  tapi  
> tingkatkan teknologi, 
> timgkatkan efisiensi...demi peningkatan   produksi..
> 
> 
> Lalu satu lagi.. kalau harus impor.. impoilah bahan
> baku bukan barang jadi..
> 
> kalau mau eskpor , ekspor lah bahan jadi yg sudah
> bernilai tambah bukan 
> bahan mentah...
> 
> 
> industri baja kita terpuruk , krn bahan jadi LN
> murah, ( krn bahan bauku 
> murah dan kerja effisien) lalu .. apakah kita harus
> bergantung pada bahan 
> baku dalam negeri yg mahal ??/ , lalu akhirnya mati
> sama sama ?( krn kalah 
> bersaing dgn produk jadi LN) , atau , kit pajaki
> barang jadi tinggi tinggi, 
> kita mix  bahan baku dalam dan impor dr luar negeri 
> sehingga harganya jadi 
> lumayan... .Lalu penuhi kebutuhan dalam negeri dgn
> produk jadi hsl dalam 
> negeri. Saya yakin... industri pengolahan akan mampu
> berproduksi dgn baik..
> 
> 
> 
> Sama saja dgn beras... , kita lebih baik impro
> bibit, yg bagus, pakai 
> teknologi yg bagus , drpd impor beras jadi..., dgn
> bibit yg baik dan 
> teknologi yg tepat guna,  maka kenaikan 20 persen
> hasil bukanlah lah impian 
> semata.
> 
> 
> Begitu juga di daging,  begitu juga dgn roti, selama
> bahan baku yg diimpor, 
> masih lumayan, karena  beri nilai tambah... mumpung
> hasil dalam negeri 
> belum ada.
> 
> atau rakyat kira berhenti makan tempe krn nggak
> boleh impor kedele ???..
> 
> Kita saat ini makan tempe dari kedele impor
> Amerika.. itu o k saja, selama 
> kita belum bisa memenuhi produksi kedele..
> 
> Begitupun dgn gandum...  saya tahu bhw Franky
> Welirang dgn grupmya ada 
> membiayai penelitian dgn IPB utk menxari kemungkinan
>  nanamm gandum di 
> ketinggian tertentu di Indonesia.
> 
> Saya juga tahu banyak penelitian  yg ingin
> mensubstitussi setidaknya 
> sebagian gandum dgn pati dr tanaman lain, misal ubi
> jalar, atau dr cassava. 
> dan hasil di penilitan cukup baik. Juga ada
> "bumie.."  mie instant 
> yg  wsebagian gandumnya di ganti labu,  , ada juga
> roti yg sebagian 
> gandumnya di ganti pati dr ubi jalar..
> 
> 
> Keduanya msih dlm sekala kecil.. tapi .. andaipun 
> nggak sepenuhnya 
> ganti  gandum, angka 20 persen pun akan cukup
> significant..
> 
> Yg penting.. jangan mau tergantung impior  gandum 
> hanya dr satu negara... 
> . harus ada sumber suplai yg banyak..
> Banyak yg bekerja dalam tataran.. keinginan
> berproduksi yg lebih efisien, 
> ditengah keluham  populis.. yg tujuannya cuma ingin
> populer...
> Kita tetap berdaulat jika kita punya pilihan.. nggak
> ada satu negarapun yg 
> sepenuhnya makan dr hasil pertaniannya sendiri. Lha
> produsen daging 
> terbesar spt Amrik aja masih impor daging juga..
> 
> 
> IKemarin saya sedih baca teks berjalan di  metro TV,
> kata bu marie, beliau 
> optimis bisa menaikkan ekspor CPO krn Malayisa lebih
> konsentrasi pd produk 
> turunan CPO.
> 
> 
> Kalau produk turunan CPOIitu artinya, CPO yg ngak
> crude lagi melainkan 
> olahan, justru malaysia yg benar.
> 
> 
> Kita maunya.. ekspor CPO ygf belum diolah , atau 
> cacao yg belum disortasi, 
> kayu gelondongan, batu bara , dam semua bahan baku
> lagi... lalu meringis 
> teriak teriak.. ketika bahan jadi  harus
> diimpor..,antara lain krn bahan 
> baku dalam negeri mahal..
> 
> 
> Jangan mimpi ttg kekayaan alam kita..tapi ubahlah
> menjadi kenyataan ttg 
> kejayaan sumber daya manusia kita yg mampu menyerap
> teknologi tinggi.
> 
> 
> Kita teriak menolak GM food, tanpa kita sadari, bhw 
> dunia berubah cepat, 
> efisiensi mrk bergerak maju cepat...,bahkan Mesir
> sudha mengklaim mampu 
> memproduksi beras dgn hasil 10 ton per ha... ??
> 
> Soal minyak ??? , lha yang bodo kan kita,,yg nggak
> bisa bisa menaikkan 
> haisl produksi yg menurut banyak pihak sebenarnya
> bisa dirtingkatkan ?/
> 
> Lalu ... kemana juga hasil pertambagan yg lain..
> malah di jual murah ke LN 
> , contoh , gas.., seadnainya nggak dieksopor ke LN,
> tapi di pakai industri 
> dalam negeri utk produksi pupuk, utk bangkitkan
> tenaga listrik, pastilah 
> pupuk murah, PLN untung, dan banyak uyg mau invest
> disini, karena 
> lketersediaan energi yg memadai..
> 
> Ehh malah nangis krn  net importer, lalu jalan
> keluarnya 
=== message truncated ===



      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke