Istilah 'sastrawangi' ini sudah sejak tahun 2005 saya tolak (dan para aktivis perempuan lainnya yang concern dengan wacana sastra), dengan cara membuat seberangannya untuk para penulis laki-laki: "sastra-bau" (jelas nggak enak di dengarnya). Istilah ini sama dengan melihat perempuan sekedar tubuhnya (kata 'wangi' punya personifikasi pada tubuh dan sensualitas) daripada pikiran para penulis perempuan.
Kata seksualitas yang mereka maksud itu juga simplistik sekali, wacana seksualitas hanya dipagari dengan -- lagi-lagi -- tubuh perempuan, terpisah dengan wacana hasrat, orientasi, keputusan, pilihan, bahkan pernyataan politik di sana. Maklum banyak orang punya keterbatasan memahami isu seks -- hanya sekdear bicara tentang hubungan seks atau selangkangan. Seperti yang Taufik Ismail bilang 'sastra selangkangan', ih, genit sekali kedengarannya, super mesum dan dangkal! Bisakah kata-kata jangan dipenjara, dikerangkeng dan dipagari? Bebaskan saja, seperti kata Bang Tardji (sutardji calzoem bachri), PADA MULANYA ADALAH KATA. Banyak apresiator, pembaca, bahkan kritikus, yang masih terjebak pada KULIT KATA, kesulitan dan ketidaktajaman nalar mereka menangkap beyond the words. Kalau pembaca ok-lah, tapi kritikus -- ck ck ck (siapakah itu?) berilah pemahaman yang lebih dalam dan mencerahkan. Salam pencerahan, Mariana Amiruddin Friday, October 19, 2007, 2:46:57 AM, you wrote: > From: Ratih Ganda Saputra > E-mail: [EMAIL PROTECTED] > > SAUT DAN "SASTRAWANGI" > > Essay Sdr. Saut Situmorang yang untuk Kongres Cerpen ke-5 di > Banjarmasin (Kalimantan) telah "nggebyah-uyah" > karya sejumlah penulis perempuan Indonesia mutakhir. Sepertinya > mereka semua dapat dimasukkan ke dalam satu > keranjang yang bobrok. > > Julukan "sastrawangi" kepada mereka sebetulnya mencerminkan > sikap mencemooh para penulis laki-laki > terhadap hasil karya Ayu Utami, Dee (Dewi Lestari), Nukila Amal dan > lain-lain. Mencemoohm, sebab sepertinya mereka hanya berurusan > dengan parfum dan penampilan. Menurutku > "satrawangi" itu sebuah stigma. > > Maka jika Saut berbicara menentang politik kanonisasi, saya hendak > berbicara tentang politik stigmanisasi. > Sebab julukan gampangan khas media massa itu diterima dan disebar luaskan > oleh Saut Situmorang. > > Malah dia menulis: "bagi para Sastrawangi tidak ada hal lain di > luar Tritunggal Tubuh-Seksualitas-Perempuan. > Tidak ada persoalan kemiskinan, tidak ada persoalan pendidikan yang > rendah, tidak ada persoalan jumlah anggota > keluarga yang terlalu besar, bahkan tidak ada persoalan tubuh yang > jelek gembrot berjerawat bagi para > Sastrawangi yang konon cantik menurut media-massa ini." > > Mana contoh yang dikemukakan Saut? Tidak ada. Sama seperti kalau > dulu seorang pejabat militer Orde Baru > berpidato di depan masyarakat: "Hai rakyat Tanjung Balai, orang > komunis menyusup di kota ini!". Karena tidak > contoh yang ditunjuk hidung, maka siapa saja dapat diciduk. > > Sebab itu kita harus waspada dengan stigmanisasi. Marilah kita > baca baik-baik Saman dan Larung Ayu Utami, > Supernova Dee, dan Cala Ibi Nukila Amal. Dapatkah mereka dikenai > tuduhan Saut yang saya kutip tadi? Pasti tidak. > > Saman jelas-jelas mengandung sifat novel politik, sebab inti > ceritanya adalah perjalanan hidup seorang > mantan pastur yang berpihak kepada petani miskin yang digusur oleh > modal. Larung mengisahkan seorang laki-laki > aneh yang akhirnya berpihak kepada para pemuda PRD yang > dikejar-kejar rezim militer, bahkan novel ini ditutup > dengan adegan > pembunuhan oleh aparat militer Suharto. > > Supernova Dee atau Dewi Lestari praktis tidak mengisahkan > persetubuhan, dan Cala Ibi hampir sepenuhnya > gambaran imajinatif yang bertolak dari mitos lokal di Indonesia Timur. > Saya ingin tahu apakah karya-karya itulah yang dimaksudkan Saut > Situmorang sebagai "sastrawangi" yang > mencerminkan "sempitnya dunia 'perempuan'". > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com -- Best regards, Mariana mailto:[EMAIL PROTECTED]
