http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/24/ln/3938552.htm
=====================

Julian Hayward (38), yang memenangi lelang tertinggi tiket penerbangan
komersial perdana Airbus A380, menyebut penerbangan itu "sejarah
kecil-kecilan". Hayward akan duduk di kursi 1 A saat burung besi
terbesar yang pernah dibuat itu menerbangi rute Singapura-Sydney. Dia
ikut dalam penerbangan perdana A380 Singapore Airlines, 25 Oktober besok.

Warga negara Inggris yang tinggal di Sydney itu harus merogoh kocek
hingga 100.000 dollar AS atau hampir Rp 1 miliar untuk mengukir
sejarah kecil-kecilan itu.

Namun, angka tersebut jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan 6,8
miliar dollar AS yang harus dikeluarkan Airbus untuk membuat pesawat
itu terbang pada akhirnya. Berbagai persoalan produksi dan penundaan
pengiriman membuat sejumlah pihak pesimistis terhadap masa depan
Airbus A380, dan menyebut pesawat superjumbo ini seperti "gajah yang
lamban".

Namun, tidak sedikit pula yang menyanjung Airbus A380 dan menyebutnya
sebagai revolusi di dunia penerbangan. "Penerbangan tanggal 25 Oktober
nanti menjanjikan awal era baru," sebut pernyataan Pusat Penerbangan
Asia Pasifik (CAPA).

Richard Pinkham, Direktur Regional CAPA, mengatakan, problem produksi
yang membayangi Airbus A380 tidak akan memadamkan kemeriahan
penerbangan perdananya. "Jika pesawat itu sukses, penundaan pengiriman
akan benar-benar dilupakan," katanya.

Singapore Airlines (SIA) sendiri menyebut Airbus A380 sebagai
"pengubah permainan". Untuk penerbangan perdana, SIA memasang hanya
471 kursi untuk memberi lebih banyak ruang, terutama untuk kelas
bisnis dan kelas satu.

Airbus A380 versi SIA memiliki 399 kursi ekonomi, 60 kursi bisnis, dan
12 kompartemen kelas suite. Sebagian besar kursi untuk penerbangan
perdana dilelang melalui situs eBay untuk tujuan amal.

Dua model

Wikipedia menyebutkan, Airbus A380-800, yang digunakan SIA, didesain
dalam dua model. Model pertama adalah pesawat yang dirancang untuk
memuat 555 penumpang dalam tiga kelas. Model kedua adalah pesawat
dengan kapasitas 853 penumpang untuk kelas ekonomi saja, 538 kursi di
dek utama dan 315 kursi di dek atas.

Situs SIA telah memuat hitungan mundur menuju penerbangan komersial
perdana ke Sydney. SIA menyebut penerbangan itu "perjalanan dalam
cahaya baru".

SIA pertama kali memesan Airbus A380 pada September 2000, dengan
jumlah pesanan 10 pesawat. Pada Juli 2006, SIA menambah pesanan
menjadi 19 unit dengan harga katalog senilai 5,7 miliar dollar AS.

Setelah penerbangan perdana dengan rute Singapura-Sydney, SIA akan
membuka layanan penerbangan untuk rute Singapura-London pada Februari
2008. Menyusul berikutnya adalah penerbangan ke Jepang.

Karena bentuknya yang raksasa, Airbus A380 hanya bisa mendarat di
bandara yang bisa didarati pesawat jenis Boeing 747, dengan gerbang
seluas 80 meter x 80 meter. Meskipun demikian, infrastruktur bandara
perlu dimodifikasi, baik di bagian taxiway maupun apron.

Sebagai gambaran, panjang pesawat ini mencapai 73 meter, setara
deretan delapan bus tingkat di London. Bentang sayap mencapai 80
meter. Ruangan pada sayapnya bisa menjadi tempat parkir bagi sekitar
70 mobil sedan.

Dibandingkan dengan saingan utamanya, Boeing 747, badan Airbus A380
lebih lebar 15 meter. A380 juga lebih tinggi empat meter, lebih
panjang dua meter, dan lebih berat 118 ton daripada Boeing 747.

Dengan kehadiran Airbus A380, CAPA menyebut dunia penerbangan sekarang
seperti "medan perang besar". Laporan CAPA menyebutkan, keberhasilan
penerbangan komersial perdana Airbus A380 akan berdampak pada pasar
premium yang dipimpin maskapai penerbangan murah yang menjamur dalam
tahun-tahun belakangan ini.

Tom Ballantyne dari Orient Aviation mengatakan, hingga tahun depan,
SIA akan menikmati pasar yang sangat besar sebelum maskapai lain mulai
menerbangkan A380.

Hingga saat ini, Airbus telah menerima 180 pesanan dari sejumlah
maskapai terkemuka di dunia. Dunia tinggal menunggu saat "sejarah
kecil-kecilan" yang kini dinikmati Hayward bisa dinikmati semua orang.

(afp/fro) 

Kirim email ke