In Memoriam Marianne Katoppo: Yang Hampir Terlupa dari Sastra Indonesia Oleh: MB. Wijaksana
Mengapa Indonesia bangsa yang besar, tidak pernah benar-benar menjadi besar? Mengapa Indonesia yang kaya tidak pernah menjadi benar-benar kaya? Jawabannya bisa jadi karena kita adalah bangsa yang sangat cepat lupa. Kita cepat melupakan jasa-jasa orang yang pernah menolong kita. Kita cepat lupa meminta tanggung jawab orang yang bersalah. Kita cepat lupa pada kehendak diri kita sendiri. Menjadi cepat lupa adalah menjadi tidak peduli. Kepedulian menjadi sesuatu yang teramat langka dalam sebuah bangsa yang cepat lupa. Karena kepedulian selalu sinonim dengan terus menerus mengingat sesuatu. Kita hanya menjadi orang yang mementingkan diri sendiri sembari melakukan pengabaian di sana-sini. Lihatlah jurang diantara masyarakat Indonesia yang semakin menganga. Mereka yang kuasa semakin semena-mena sementara mereka yang jelata semakin tak berdaya. Itu karena bangsa kita lupa pada sesama. Bangsa ini sangat suka untuk mengerahkan kekuasaannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pada mengerahkan kreatifitasnya untuk menjadi seseorang yang diakui keberadaannya. Demikian menurut Marianne Katoppo, teolog, jurnalis, yang juga sastrawan. Marianne, Perempuan dan Keluarga Mengingat Marianne Katoppo adalah mengingat perempuan. Marianne adalah penulis perempuan yang sejak tahun 1978 gigih mempertahankan kata ?perempuan? dalam setiap karyanya. Dia menolak untuk menggunakan kata ?wanita? seperti yang selalu dilakukan oleh penulis-penulis lainnya. Perempuan menurutnya berarti sangat dalam dan sama sekali berbeda dengan wanita. Perempuan adalah ?empu? seorang ahli, seorang yang memiliki kekuasaan. Perumpamaannya adalah Mpu jari (jempol), fungsi mpu jari dalam semua aktifitas jari tangan kita sangat menentukan. Kalau mau diterjemahkan perempuan adalah orang yang memiliki otoritas atas diri dan tubuhnya. Karena dia memiliki otoritas atas dirinya maka perempuan selalu berani menentang ketidakadilan dan mengupayakan keadilan. Berbeda dengan ?wanita? yang dalam terminologi Jawa sering diartikan sebagai wani nek ditoto (berani ditata, keberaniannya hanya ada kalau orang lain memintanya). Pada kata perempuan, dia adalah subjek yang melakoni sesuatu yang mempengaruhi sesuatu. Sementara pada ?wanita? dia adalah objek yang hampir tidak memiliki kehendak. Dia hanya mau dipuja, diagungkan, dan ?dalam bahasa sekarang- dieksploitasi. Keteguhannya mempertahankan kata perempuan tidak lain karena keyakinannya bahwa bahasa harus jujur. ?Bahasa atau karya sastra harus mencerminkan realitas. Bahasa adalah realitas itu sendiri. Perempuan nyatanya adalah pemberi dan pemelihara kehidupan. Dia yang berperan untuk terus menerus menghidupi kehidupan ini,? ujarnya dengan tegas. Pemikirannya dalam sastra dan perempuan tentu tidak terlepas dengan ketertarikannya pada teologi pembebasan. Di tahun 1979 dia menulis sebuah karya teologi berjudul Compassionate and Free: an Asian Woman?s Theology. Buku ini diterbitkan oleh World Council and Churches yang bermarkas di Swiss. Buku ini dijadikan literatur teologi perempuan Asia dan diajarkan di seluruh sekolah teologi dunia. Dalam karyanya itu Marianne menegaskan perempuan Asia harus berani melepaskan dirinya dari kungkungan kebudayaan luar yang asing. Perempuan harus bisa membebaskan dirinya dari nilai-nilai pinjaman atau ideologi yang tidak ia akrabi. Berteolog secara perempuan Asia adalah melakukan kritik-kritik atas semua jenis eksploitasi yang dilakukan terhadapnya akibat model-model pembangunan ekonomi dan kesejahteraan yang mengacuhkan perempuan. baca kelanjutan profil ibu Marianne Katoppo di http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=profil%7C-41%7CX __________________ YJP turut berduka cita atas meninggalnya Ibu Marianne Katoppo pada 13 Oktober 2007. Semoga diampuni segala dosa beliau dan mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Amiin. Tulisan ini telah dimuat dalam Jurnal Perempuan edisi ke-30, Juli 2003 hal. 110-117. [Non-text portions of this message have been removed]
