Rekan-Rekan FPK,

Kebijakan Energi saat ini menjadi sangat penting karena di tengah 
usaha negara-negara untuk memacu pertumbuhan ekonomi, selalu identik 
dengan peningkatan kebutuhan akan energi.

Berpuluh-puluh tahun Indonesia terbiasa dengan kebijakan BBM murah 
dan sudah mendarah daging. Perkembangan yang terjadi dunia tiga tahun 
terakhir ini khususnya melonjaknya harga minyak dunia dan makin 
ganasnya perubahan iklim ternyata belum sepenuhnya bisa menyadarkan 
kita dari kebiasaan yang sudah mendarah daging ini. Penyakit ini 
tidak hanya menjangkiti Indonesia saja melainkan juga negara-negara 
lain. Bahkan ada istilah ADDICTED TO OIL.

Dengan melihat trend tiga tahun terakhir, seharusnya kita mulai sadar 
bahwa DUNIA sedang mengalami perubahan besar. Dunia termasuk 
Indonesia sudah begitu tergantung pada MINYAK. Banyak produk-produk 
yang tergantung dari MINYAK mulai dari oli, plastik, bahan kimia, 
dsb. MINYAK juga merupakan urat nadi dari TRANSPORTASI. Dunia modern 
yang kita nikmati sekarang juga merupakan berkah dari MINYAK. Apa 
jadinya apabila MINYAK tidak lagi cukup untuk semua?

Harga minyak dunia merupakan indikator. Seperti Tsunami, kita bisa 
melihat indikator awal yaitu gempa yang diikuti laut surut. Tsunami 
di Aceh bisa jadi hanya terjadi ratusan tahun sekali. Begitu pula 
KRISIS MINYAK yang sedang terjadi saat ini.

Tahun 80'an negara-negara barat sudah pernah mengalami KRISIS MINYAK 
di mana harga minyak melambung tinggi karena terjadi SUPPLY SHOCK 
akibat adanya Perang Irak-Iran. Saat ini Krisis minyak sudah 
membayang dengan indikator awal harga minyak dunia yang tinggi. Hanya 
saja kali ini disebabkan oleh STRONG DEMAND sementara suplainya 
keteteran untuk melayani. Belum lagi ada prediksi bahwa total 
produksi minyak DUNIA sebenarnya sudah mencapai puncaknya bulan Juli 
2006 dan selanjutnya akan terus menurun produksinya (dikenal dengan 
PEAK OIL). 

Indonesia telah lama mengalami PEAK OIL pada tahun 70-an dan terus 
menurun hingga sekarang dan dampaknya mulai dirasakan ketika sejak 
tahun 2004 mulai menjadi net importir minyak. Walaupun saat ini 
dikatakan bahwa pertambahan penerimaan MIGAS masih melebihi 
pembengkakan nilai subsidi BBM, hendaknya kita melihat jauh ke depan 
(visioner) dalam menentukan kebijakan energi. Tidak lama lagi 
penerimaan MIGAS ini pun akan berkurang, bukan karena harga minyak 
dunia yang turun melainkan VOLUME-nya yang turun. Selama kita masih 
berharap suatu ilusi bahwa harga minyak dunia akan turun dan volume 
MIGAS bisa bertambah, semakin rentan pula Indonesia mengalami krisis 
yang lebih hebat dari krisis moneter 1997.

Kebijakan-kebijakan seperti percepatan konversi minyak tanah ke LPG 
adalah kebijakan yang harus didukung oleh segenap komponen masyarakat.

Dunia usaha khususnya industri yang sangat terpengaruh harga BBM 
Industri hendaknya ikut terlibat dengan menggunakan teknologi mesin 
yang efisien dengan adanya trend harga minyak yang tinggi ini. Nilai 
mesin jangan dilihat dari bandrol harga dari pabriknya tapi juga 
harus dilihat seberapa efisien penggunaan energinya.

Komunitas Nebeng www.nebeng.com juga mengundang perusahaan-perusahaan 
yang mempunyai banyak karyawan yang menggunakan kendaraan pribadi 
agar bekerja sama dalam PENGHEMATAN BBM bagi karyawan-karyawannya. 
Kerja sama ini bisa dalam bentuk insentif bagi karyawan-karyawan yang 
melakukan PENGHEMATAN BBM dengan cara berbagi kendaraan. Menurut 
Hukum Penawaran dan Permintaan, bila Permintaan/Demand turun, maka 
harga akan turun. Saat ini harga BBM bersubsidi masih tetap, sehingga 
DEMAND dari sektor transportasi Indonesia tidak terpengaruh harga 
minyak dunia bahkan kuota BBM bersubsidi jebol. Yang langsung 
merasakan adalah INDUSTRI, karena BBM INDUSTRI tidak lagi disubsidi. 

Bagi yang berminat untuk bekerja sama dengan Komunitas Nebeng 
www.nebeng.com dalam menekan KONSUMSI BBM di sektor transportasi, 
bisa menghubungi kami di [EMAIL PROTECTED]

Liputan www.nebeng.com terbaru bisa dilihat di Harian Kontan edisi 
Selasa 23 Oktober halaman 21

MARI HEMAT BBM, AYO NEBENG!

Best Regards,
Rudyanto

--- In [email protected], "Agus 
Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh Didik J Rachbini
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/24/opini/3938202.htm
> ===================
> 
> Industri dan ekonomi energi adalah perkara besar dan berat. Masalah
> energi, baik ketersediaan, pasokan, maupun konsumsinya, terkait 
hampir
> semua aktivitas ekonomi. Boleh dikatakan, energi adalah nadi semua
> kegiatan ekonomi dari pertanian, industri, transportasi, dan 
kegiatan
> ekonomi keseluruhan.
> 
> Ketergantungan kepada minyak bumi, mengabaikan alternatif energi 
lain,
> subsidi besar, dan fluktuasi harga minyak yang tidak diantisipasi. 
Ini
> menyebabkan krisis energi, yang berpengaruh terhadap perekonomian.
> Namun, di negeri ini, masalah energi dikelola dengan kebijakan 
ringan
> dan dianggap perkara gampangan. Buktinya jelas, banyak agenda 
terkait
> masalah energi tidak ada perkembangan sampai tiga tahun pemerintahan
> ini berjalan.
> 
> Faktor subsidi
> 
> Sudah mendarah daging, sistem energi kita amat tergantung energi
> fosil, terutama minyak bumi. Selain itu, tidak ada variasi konversi
> atau diversifikasi. Akibatnya, saat produksi minyak habis bahkan
> defisit, kita pun kebingungan.
> 
> Fluktuasi harga minyak di luar negeri tidak mungkin diikuti 
fluktuasi
> setara dengan harga di dalam negeri. Akibatnya, selisih harga 
politik
> kebijakan yang ditetapkan dengan harga internasional akan menjadi
> subsidi besar.
> 
> Inilah masalah fundamental dalam sistem dan kebijakan energi 
nasional
> saat ini. Masalah menjadi lebih rumit saat harga minyak bumi di 
pasar
> internasional tidak terkendali, sedangkan kebijakan energi dan 
proses
> penyesuaiannya amat lambat.
> 
> Bagi Indonesia, sebelum harga minyak melambung seperti sekarang,
> subsidi minyak telah menelan Rp 100 triliun, dengan rincian subsidi 
Rp
> 70 triliun dari Pertamina dan Rp 30 triliun dari PLN.
> 
> Atas masalah itu, tidak ada kebijakan sistematis sehingga negara 
terus
> menguras upaya memenuhi anggaran pendidikan dan kesehatan, anggaran
> infrastruktur, dan kebutuhan produktif lain. Ini masalah pertama 
yang
> gagal diselesaikan dengan kebijakan pemerintah.
> 
> Hal ini merupakan refleksi kebijakan energi pada masa lalu yang 
tidak
> berhasil membuat diversifikasi hingga kini. Negeri ini juga rakus
> konsumsi minyak bumi dan mengabaikan potensi energi lain yang amat
> berlimpah.
> 
> Meski negeri ini adalah penghasil minyak bumi, tetapi karena 
kesalahan
> dalam kebijakan, terjadi defisit energi minyak bumi. Tingkat
> konsumsinya lebih banyak dari produksinya.
> 
> Kini muncul masalah baru, harga minyak meningkat tajam, mencapai 90
> dollar AS per barrel. Padahal, tiga atau empat tahun lalu harga 
minyak
> sekitar 20-30 dollar AS per barrel. Karena kondisi defisit, tekanan
> harga minyak akan menyebabkan tekanan terhadap subsidi minyak bumi.
> 
> Ini menjadi tambahan masalah baru bagi anggaran karena tekanan harga
> minyak dunia. Namun, pemerintah merasa seperti tidak ada apa-apa
> sehingga tidak ada kebijakan untuk menangkal dampak kenaikan harga
> minyak itu.
> 
> Kebijakan yang penting diselesaikan adalah subsidi yang rasional, 
yang
> pantas dibicarakan dengan parlemen. Subsidi komoditas dinilai tidak
> baik karena subsidi yang benar seharusnya diarahkan terhadap
> masyarakat dan keluarga miskin.
> 
> Namun, karena minyak juga mendorong inflasi, subsidi terus 
dilakukan,
> tanpa kebijakan diversifikasi dan konversi energi. Sebenarnya
> pemerintah sudah melakukan konversi energi, dari minyak tanah yang
> amat besar subsidinya ke penggunaan gas. Akan tetapi, karena
> kepemimpinan yang lemah di berbagai level, kebijakan itu ikut 
melemah
> tanpa hasil optimal.
> 
> Kebijakan lemah
> 
> Negeri besar seperti Indonesia memerlukan pasokan energi luar biasa
> besar untuk ekonomi, industri, konsumsi, transportasi, dan lainnya.
> Tetapi, pada saat sama, ketersediaan energi amat terbatas dan mahal.
> Jika hendak dikelola dengan semangat diversifikasi, potensi energi 
itu
> sendiri relatif tersedia dan melimpah.
> 
> Karena itu, kebijakan energi mutlak diperlukan, tidak hanya pada 
level
> konseptual atau wacana, tetapi juga dalam eksekusi dan implementasi 
di
> lapangan. Faktor kepemimpinan dan kelemahan kebijakan pada level
> konseptual maupun eksekusi merupakan faktor mengapa kebijakan energi
> amat lemah. Akibatnya, pola konsumsi energi tidak berubah, beban
> anggaran tetap besar, sehingga berdampak terhadap kegiatan ekonomi
> lainnya.
> 
> Kebijakan yang penting dan utama mutlak dilakukan segera, yaitu
> kebijakan konversi energi dengan mengurangi konsumsi energi minyak
> bumi menjadi energi alternatif yang lebih murah (gas alam, batu 
bara,
> air, panas bumi, matahari, bioenergi, dan sebagainya).
> 
> Pada saat bersamaan, dengan kebijakan diversifikasi dan konversi
> energi, subsidi harus dikurangi bertahap, tanpa menimbulkan gejolak
> bagi masyarakat bawah. Maka, kebijakan pengurangan subsidi untuk
> dialihkan pada pengeluaran produktif lain merupakan hal yang harus
> dilakukan bersamaan kebijakan konversi energi itu.
> 
> Dengan banyak persoalan yang tersisa hingga kini—dari ketergantungan
> kepada satu sumber energi fosil, subsidi besar, kegagalan
> diversifikasi, dan boros energi— semua itu merupakan refleksi
> kelemahan kebijakan energi selama ini. Banyak potensi energi lain,
> seperti gas alam, habis terjual karena kalah dalam negosiasi dan 
tidak
> visioner melihat arti penting sumber daya alam kita. Energi 
alternatif
> pun tidak berkembang karena tidak ada kebijakan afirmatif.
> 
> Kebijakan efisiensi?
> 
> Masalah energi bukan hanya masalah pemerintah, tetapi juga masalah
> masyarakat, terutama kesadaran kolektif (hemat) terhadap persoalan
> kenaikan harga minyak dan subsidi, yang besar dan menguras anggaran.
> Hal itu tidak cukup hanya dijawab oleh kebijakan pemerintah, tetapi
> juga harus dengan kesadaran bersama ihwal perlunya efisiensi 
bersamaan
> konversi dan diversifikasi konsumsi energi.
> 
> Untuk itu, elemen kebijakan yang penting lagi adalah kampanye
> kolektif, yakni kebijakan efisiensi dalam konsumsi energi nasional.
> Arah kebijakan seperti ini perlu agar ekonomi tidak boros dan 
konsumsi
> terkendali. Yang paling penting hasil efisiensi bisa bergulir 
menjadi
> investasi di sektor-sektor ekonomi lainnya sehingga menguatkan
> pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini sudah pernah dikemukakan presiden
> dua tahun lalu.
> 
> Namun, sejauh ini, arahan presiden itu belum ketahuan bentuk
> programnya di lapangan. Memang, wakil presiden pernah menganjurkan
> penghematan listrik dengan pemadaman, stasiun televisi berhenti 
siaran
> sebelum tengah malam, lampu-lampu iklan dikurangi, dan sebagainya.
> Namun, langkah itu lenyap begitu saja karena tidak ada program yang
> sistematis.
> 
> Kebijakan efisiensi energi ini akan kian kuat jika dilakukan 
bersamaan
> dengan kebijakan energi alternatif. Pengembangan energi alternatif
> memerlukan partisipasi nyata departemen lain, pengusaha, dan
> masyarakat umumnya. Masa kejayaan minyak bumi sudah berakhir karena
> harganya mahal bahkan sudah berdampak terhadap pangan, di mana CPO
> juga dipakai sebagai energi alternatif di dunia. Dampaknya sudah
> terlihat di Indonesia saat minyak goreng naik dari Rp 3.000 menjadi 
Rp
> 9.000 dalam setahun terakhir ini.
> 
> Didik J Rachbini Ekonom; Ketua DPP PAN
>


Kirim email ke