Mental menuduh media secara serampangan ini, persis yang dilakukan Orde Baru
ketika berkuasa. Selalu menyalahkan media untuk segala informasi yang tidak
enak di telinga. Beginilah rezim otoriter menempatkan media dalam arus
kekuasaan dan politik. Lha wong di sini, semua informasi tentang Malaysia
bisa terang-terangan didapatkan. Mau yang pro ada, yang kontra juga ada.
Juga kalau mau ngorek-ngorek tentang kerusuhan rasial besar-besaran di
Malaysia/Kuala Lumpur tahun 1968 (??) yang selalu ditutup-tutupi penguasa.

 

Saya sendiri ketika pertama kali melihat KL, risih ngeliat sekolah khusus
Cina, khusus Melayu, khusus India. Mereka datang ke sebuah pameran di KLCC.
Anak-anaknya disuruh berbaris mengantri di depan pintu pameran. Dan seperti
biasa, anak-anak sekolah Melayu masuk duluan. Negeri yang dikelola kayak
gini, tinggal menunggu waktu saja.

 

Salam hangat,

SNU
Palmerah

 

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Agus Hamonangan
Sent: Wednesday, October 24, 2007 10:31 AM



Tuduh media RI 

Rahman menuduh media massa di Indonesia sering melakukan provokasi
terhadap rakyatnya dan menuduh Malaysia tidak akan maju atau tidak
bisa memiliki lapangan terbang KLIA, Sepang, jika tidak ada pekerja
Indonesia.

"Malaysia sering dikecam dan diputarbelitkan media di Indonesia dengan
isu remeh dan kecil. Jika perkembangan ini tidak dipantau, ini akan
mewujudkan kebencian di kalangan rakyat Indonesia," katanya.
Bagaimanapun, hubungan kedua negara berjiran itu masih baik. (ANTARA/wsn)

Copyright 2006 Kompas Group



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke