Yang saya baca "angkasawan" Malaysia itu lebih tepat disebut space
tourist daripada astronot. Pemilihannya dilakukan dengan cara kontes
dan termasuk dalam program space tourism Rusia. Sampai beberapa hari
terakhir, "program" yang mau dilakukannya itu cuma bagaimana membuat
teh tarik atau main gasing ("permainan khas" Malaysia, katanya) di
ruang hampa udara. Baru setelah diingatkan kalau uang rakyat USD 25
juta itu sayang kalau disia-siakan untuk bikin teh tarik, barulah
buru-buru dibuatkan program ilmiah.
Sheikh Muszaphar itu aslinya dokter merangkap fotomodel. Dalam
wawancara dia juga menyatakan tugasnya lebih sebagai duta budaya
Malaysia. Lebih ajaib lagi, begitu beliau berada di ruang angkasa,
yang diributkan media Malaysia bukan soal program ilmiahnya,
melainkan masalah cara berwudhu dan bertayammum dan kemana mesti
menghadap kalau shalat di ruang angkasa. Saya ingat tahun 1980-an
umat Islam Indonesia pernah diomeli Buya Hamka karena menanyakan
soal shalat di ruang angkasa. "Pikirkan dulu bagaimana caranya
berangkat sendiri ke ruang angkasa!", begitu kata beliau di majalah
Panjimas ketika itu. Hari ini dengan "astronot"-nya Malaysia memulai
lagi diskusi yang di Indonesia sudah ketinggalan 30 tahun itu.
Satu lagi, bedakan turis Malaysia itu dengan Dr. Pratiwi Sudharmono
yang ilmuwan sungguhan (bidang mikrobiologi kalau tidak salah) dan
mengikuti program ruang angkasa NASA sebagai astronot; bukan space
tourist.
Andi
--- In [email protected], Adhie Massardi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Rakyat Merdeka, Rabu, 24 Oktober 2007
>
>
>
>
>
> POLiTiSiANA
>
>
> Malaysia, Oh Malaysia
>
>
>
>
> OLEH ADHIE M MASSARDI
>
>
>
>
> HUBUNGAN emosional Malaysia dengan Indonesia telah sampai pada
puncaknya.
> Pemakaian lagu Rasa Sayang(e) sebagai
> backsound iklan wisata Malaysia Truly Asia boleh disebut
> sebagai simbol "penyautuan bangsa serumpun" itu di bumi Nusantara.
>
>
>
>
>
> Sayang, sebagian dari kita kurang paham makna pemakaian lagu
rakyat Maluku
> itu oleh Malaysia. Sehingga menuduh Negeri Jiran itu membajak lagu
kita.
> Padahal orang Malaysia santai-santai saja ketika PT Lapindo
Brantas menjadikan Porong
> di Sidoarjo, sebagai "truly kuala
> lumpur", hingga terkenal ke antero dunia.
>
>
>
>
>
> Makanya, saya sependapat dengan Menteri Kebudayaan, Kesenian dan
Warisan
> Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim. Kita memang tak layak mengklaim
lagu itu
> milik kita dan tak boleh dinyanyikan bangsa lain. Apalagi faktanya
orang Malaysia
> justru lebih menjiwai Rasa Sayange
> ini dibandingkan kita yang mengaku pemilik lagu.
>
>
>
>
>
> Lihatlah, kita tutup mata atas jutaan hektar hutan yang digunduli.
Lalu
> datang orang Malaysia merawat dan menjadikannya perkebunan sawit.
Kita punya
> banyak pulau, tapi dibiarkan tak terurus. Oleh Malaysia dirawat
dan dijadikan
> tempat wisata, seperti Sipadan dan Ligitan itu. Ada jutaan
penganggur,
> pemerintah kita membiarkan mereka tetap menganggur. Ratusan ribu
di antaranya
> kemudian nyeberang ke Malaysia. Di sana diberi pekerjaan.
>
>
>
>
>
> Coba tanya, benarkah kita pemilik Rasa
> Sayange itu? Benarkah pemerintah yang operasionalnya kita biayai
itu punya Rasa Sayange (kepada rakyat)?
>
>
>
>
>
> Tapi bagaimana dengan sejumlah TKI kita yang disiksa, wasit yang
dipukuli,
> dan istri diplomat yang diperlakukan mirip pesakitan? Jangan
salahkan Malaysia.
> Kan ada pepatah: guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi
Malaysia
> juga bukan hanya belajar yang baik-baik dari kita, tapi juga yang
> buruk-buruknya, termasuk soal mukul wasit itu. Kata teman saya
orang Malaysia,
> jangankan wasit, bekas wakil perdana menteri saja kalau disangka
bersalah ya
> dipukuli polisi Diraja. Itulah Anwar Ibrahim.
>
>
>
>
>
> Yang menarik, ketika kita
> blingsatan dan mengutuk Malaysia
> seraya mengancam memutuskan hubungan diplomatik, orang Malaysia
tetap bekerja, tetap
> belajar, tetap mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains. Satu
warganya, Sheikh
> Muszaphar Shukor Al Masrie bin Sheikh Mustapha, 36, melesat ke
luar angkasa sebagai
> astronot.
>
>
>
>
>
> Memang, seperti kata kawan saya yang sedang studi S2 di sana,
tidak sedikit
> juga budak Malaysia yang merendahkan
> Indonesia. Tapi itu kan juga lantaran orang Melayu yang
paternalistik.
> Maksudnya, kalau Bapak kita, pemimpin politik kita tidak
bermartabat, tidak
> berwibawa, kagak jelas pendiriannya, kita sebagai anak (bangsa)
niscaya
> dilecehkan. Coba Bapak kita modelnya kayak Hugo Chavez, Morales
atau
> Ahmadinejad, pasti lain perlakuannya. Jadi ini soal kepemimpinan
nasional.
>
>
>
>
>
> Lha, kenapa juga kalau melihat Malaysia bawaannya kita meradang,
maunya
> langsung mengganyang? Kita boleh dihina bangsa lain, dikalahkan
bangsa lain,
> tapi tidak dengan Malaysia.
>
>
>
>
>
> Terus terang, kalau ini asli kesalahan Soekarno. Sebagai "dokter
bangsa",
> Bung Karno kebanyakan alias "over dosis" saat menyuntikkan
virus "anti-Malaysia"
> pada bangsa ini (1962-1965). Akibatnya, kita jadi
suka "ketagihan" nyerbu Malaysia.
>
>
>
>
>
> Untuk menghentikan "katagihan" ini, tak ada cara lain kecuali
membongkar
> kembali peristiwa masa lalu itu, dan menguburnya secara layak. ***
>
>
>
>
>
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>